Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2015

Pinjam Birumu





Terkadang kita merasa ingin berlari dari keterasingan yang tak seharusnya dirasakan dalam wadah pengikat ukhuwai. Ketika ada yang mencegah maka kita kembali dan bersua, namun keterasingan kembali menggila dan rasa tak dianggap muncul, maka disitulah aku berlari tanpa menoleh, kau kejar pun takkan kupeduli. Aku berharap keimanan dalam diri mencegah pergiku ketika lisanmu dan kekuatanmu tak lagi mampu mencegahku beranjak namun sepertinya sia-sia.

“Mika, kuatlah!” Aku membatin dengan butiran air mata mengalir dipipi dan membasahi kerudung merahku, melihat mereka dari jauh seolah menyisahkan perih dalam hati. Sungguh, kebersamaan dengan mereka adalah sebuah pecahan yang tersangkut dalam hatiku. Mengingatnya membuatku sakit. Ingin melepasnya namun tak bisa dan seolah tak mau. Menjalani hari tanpa mereka seperti kehilangan separuh aku dalam diriku, hidupku.
***
Perbincangan sore itu yang menyenangkan, pembicaraan tentang masalah ummat dan diakhiri dengan diskusi kecil mencari solusi syar’i dalam Islam. Terkadang ditengah diskusi, dari kita ada yang mengeluh akan rutinitas kampus dan tugas kuliah yang menyita waktu. “Tapi. Eh.. bukankah tujuan perantauan kita adalah kuliah?” Lala memotong keluhanku. 

“Sudahlah tidak usah mengeluh dengan tugas kuliah, kita kerjakan saja asal jangan sampai aktivitas akademik menjadi kerikil yang menghambat laju kereta dakwah kita di kampus ini” sambungnya sambil merangkul bahuku. Lala teman seangkatanku namun kami berbeda kelas, harinya dipenuhi dengan semangat meski ada saja masalah kecil yang menahan tawanya. Aku dan beberapa teman seperjuangan yang lain kerap kali berkumpul ditempat yang sama, tempat yang mungkin jarang terjamah oleh mahluk kampus kecuali mereka yang semisal kami, beranda mesjid kampus. Kami selalu ingin agar hati kami terpaut dengan mesjid maka salah satu sarananya adalah berkunjung ke rumah-Nya, teringat akan sebuah petikan hadist yang mengatakan bahwa akan ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindunganku diakhirat.. yang mana salah satunya adalah hati yang selalu terpaut dengan mesjid.

Bukan hanya itu, kebersamaan kita sangat terasa jika berada dalam medan perjuangan dakwah, ketika apa yang disampaikan terbalas pengabaian, ketika bulletin yang disebar berujung tatapan sinis, meski demikian masih ada saja hati yang tak mengunci pintunya rapat-rapat akan Islam. Untuk pemilik hati yang senantiasa terbuka untuk kebaikan, semoga cahaya akan menuntunmu kearah perjuangan mulia. Kita melaju bersama dalam kereta dakwah menuju ketujuan mulia. Jangan ragu akan kugandeng tanganmu, tak kulepas hingga kau yang melepas terlebih dahulu.

Tapi.. tiba-tiba gandengan tangan terlepas, aku ingkar akan sebuah janji. Tak bisa kutahan gejolak dalam batinku, keterasingan dan seolah tak dianggap oleh yang lain membuatku ingin berlari dan melepas semua ikatan antara aku dan mereka. Jiwa futur menguasaiku, aku lupa dimana meletakkan imanku karena ego tengah menguasai. Selama ini aku bisa terima namun rasanya cukup keterlaluan jika harus kujalani perjuangan ini dengan keterasingan jika berada diantara kalian, meski dalam kadar sedikit namun itu menyiksa. Dan aku pergi..
***
Aku tak peduli dengan keusilan angin yang memainkan kerudungku, rerumput yang menari mengajakku bermain bersama angin. Cuaca hari ini cerah, di taman kampus kuberbisik pada langit.. “Bisakah kupinjam birumu untuk hatiku yang mendung?” Langit tak menjawab, aku memang tak berharap jawabnya. Ditengah lamunanku suara yang terdengar akrab menyapaku hangat.

“Assalamualaykum, jangan kecewakan makhluk disekitarmu dengan wajah murung yang kau suguhkan untuknya saudariku”  gadis berkerudung hijau itu menghampirku dengan senyum diwajahnya, ia menemaniku berbisik kepada langit namun dengan harap yang berbeda “Berilah  cahaya bahagia teruntuknya, sungguh hatinya benar-benar kabut” batinnya seolah terdengat olehku dengan tatapan matanya yang teduh. Rani, begitu aku sering menyapanya. Seseorang yang janjiku padanya telah kuingkari, seolah ia menhampiriku untuk menuntut  akan sebuah janji. Namun hanya kubalas salamnya dengan senyum. Hanya tersenyum.

“Tahukah kamu, kereta dakwah akan terus melaju tanpa menunggu mereka yang dilema akan keraguan, berhenti terlalu lama membuatmu akan tertinggal. Dakwah juga akan menyeleksi orang-orang yang benar-benar kuat mengembannya akan dimuliakan dan yang meninggalkannya akan dihinakan zaman” Rani menatap kosong jauh kedepan seolah berat rasanya menyapaikan hal ini padaku.

“Saya tidak meninggalkan dakwah ini, namun kesulitan berada dalam suatu kelompok membuatku seolah ingin menjauh, aku terlalu lelah. Rasanya jiwa-jiwa yang rapuh sepertiku tak mampu bertahan dalam kelompok yang demikian. Telah kuputuskan untuk tetap berdakwah atas individu” Balasku lemah

“Bukankah kita sudah paham akan wajibnya bergabung dalam kelompok dakwah, karena dengan bergabungnya kita dengan kelompok dakwah maka akan ada senantiasa orang-orang di sekitar yang akan menegur kita kala lalai, dan ingat yang kita perjuangkan adalah sesuatu yang besar. Maka butuh kekuatan yang besar pula untuk melawannya. Ini bukan sesuatu yang bisa kita lawan dengan personal saja, namun kita butuh kelompok yang bisa saling bahu membahu ibarat sebuah bangunan yang saling mengokohkan antara unsur yang satu dengan yang lain. Jangan menciptakan badai dalam pergerakan dakwahmu saudariku, akan tiba masa dimana rasa tidak senang kita bersama mereka yang memperjuangkan sesuatu yang mulia, namun itu lebih baik daripada tawamu dan nyamanmu bersama sang pelaku maksiat yang enggan untuk memperjuangkan sesuatu yang harus diperjuangkan, yakni agama Allah SWT.” Ucapnya sembari mengulur tangan kepadaku dan menatapku.

“Tangan yang dulu merangkul dan menggandengku untuk berjuang bisa kini tak akan kulepas meski ia melepaskannya. Sepertinya tangan kita telah ditakdirkan untuk senantiasa bergandengan dalam perjuangan ini, saling menguatkan kala sisi futur menguasai salah satunya, maka tanganku telah melaksanakan tugas yang semestinya, assalamualaikum..” Ia mengakhiri pembincaraan syahdu siang itu dan berlalu.

“Waalaykumsalam…” Balasku tak berdaya, seolah kata yang terucap dari lisannya mengujam jantungku. Detak iman mulai terdengar dan menguasaiku kembali..

“Sungguh, hal terbodoh yang pernah kulakukan adalah berpikir untuk mundur dalam medan dakwah, dan betapa pengecutnya diriku jika benar-benar keluar dari kelompok dakwah hanya karena tekanan  batin yang kurasakan” setelah berhasil kutata hatiku dengan keimanan kualihkan pandanganku kelangit.

“Terima kasih telah meminjamkan birumu yang kau titip melalui saudariku. Langit.”

Makassar, 24 februari 2015

“Teruntuk jiwa yang ingin melepas pedang perjuangan dari genggamannya… Ingat, zaman tidak akan sudi menorehkan kisahmu dengan tinta emasnya dalam catatan kaki sejarah bagi pecundang seperti kalian..”

“ Buatlah seseorang disekeliling kita merasa dihargai keberadaannya, jangan menebar cinta dan melewatkan salah satunya. Sesungguhnya tersimpan sisi rapuh dalam masing-masing insan, seberapa kuat pun ia terlihat”

“Teruntuk saudariku yang selalu menuntut untuk dimengerti, berhenti jadi makhluk egois. Karena kita adalah pengemban dakwah bukan tuan puteri, meski demikian kelak akan dipersunting oleh pangeran impian yang dititipkan Allah SWT melalui perjuangan dakwah kita”

-Nining Amalia-

Senin, 24 November 2014

Idul Fitri Mendewasakanku




“Pak, kira-kira saya dijemput jam berapa?”
“Jam 3 subuh dek, nanti saya hubungi kalau udah mau berangkat.” balasnya dari kejauhan
“Baiklah Pak, terima kasih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Ia menjawab salamku. Panggilan terputus. Aku meletakkan HP di bawa bantal.
                                                            ***
Baru kali ini aku menyalahkan lelapku. Tidurku semalam terlalu lelap akibat lelah mengerjakan tugas akhir dari dosen. Dosen salah satu mata kuliah yang paling tidak mengerti mahasiswanya, karena beliau jarang masuk maka bulan ramadhan yang seharusnya kami berkumpul dengan keluarga di kampung jadi tertunda karena harus menyelesaikan mata kuliahnya terlebih dahulu. Tentu hal tersebut membuat aku dan teman sekelas mengeluh, tapi mau gimana lagi nilai kami ada ditangannya. Menjelang lebaran sebelum pulang kampung beliau memberi tugas pengganti final untuk kami kerjakan dikampung karena waktu sudah tidak memungkinkan, soalnya besok  lusa sudah lebaran.
“Akh, bagaimana ini? aku kesiangan” keluhku pagi-pagi sambil mencari HP disetiap sisi kamar kontrakanku, dan menemukannya di bawah bantal. Aku kaget melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari supir langgananku jika hendak pulang kekampung. segera aku menghubunginya kembali.
“Halo Pak, maaf saya ketiduran. Sekarang bapak lagi ada dimana?” Ucapku panik
“Aduh maaf dek, bapak sudah jauh dari kota Makassar, ini sudah jam 5 tidak mungkin bapak kembali lagi jemput adek. Tidak enak sama penumpang lain, belum lagi jalanan macet.” jawab Pak supir dengan nada kecewa.
“Besok bapak kesini lagi kan?” sambungku. “Tidaklah dek, besok jalanan akan lebih macet lagi, kan besoknya udah mau lebaran dek jadi mana mungkin bapak kesana. Nanti kalau habis lebaran baru mulai tugas lagi”
Aku langsung mematikan teleponnya. Aku segera menghubungi mama dikampung dan menceritakannya semua. Aku tahu beliau kecewa namun mau bagaimana lagi. Akhirnya aku lebaran di perantauan. Semua teman kontrakanku sudah pulang ke kampung halamannya sisa aku dan sedih terkurung diruangan sepi.
                                                            ***
Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Suara takbir memecah hening malam ini, sesekali petasan bergantian meramaikan suara takbir. Di ruang bertabur pilu ini aku menikmati kesendirianku dengan berucap takbir mengikuti gema takbir dari mesjid. “Ini gara-gara tugas dari dosen, sehingga aku terlambat bangun” Batinku kecewa.Ah, sudahlah tak perlu disesali, anggaplah ini adalah pengalaman langka dalam hidupku.
Keesokan harinya dengan semangat aku berangkat ke lokasi shalat Idul Fitri. Aku berangkat tanpa membawa sedih dan kecewa, kuikhlaskan sedih dan kecewa itu terbang bebas tadi malam bersama kering air mataku. Aku percaya bahwa masih ada orang yang senasib bahkan lebih parah dariku yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari raya.
“Kak, jalannya jangan sambil melamur, nanti jatuh” Tegur seorang anak perempuan mengenakan mukena putih. Senyum menghiasi wajahnya kala menatapku. Aku hanya tersenyum padanya.
“Apa yang kakak pikirkan ?” sambungnya penasaran.
“Terasa aneh dek, lebaran tahun ini saya tidak bisa pulang ke kampung. Tidak bisa lebaran bersama keluarga” jawabku sambil memperlambat langkah kakiku.
“Kakak masih beruntung masih punya keluarga, beda dengan kami yang keluarga pun kami tak tahu entah kemana, bisa jadi memang kami tak punya keluarga seperti yang kakak rindukan” Wajah ceria anak perempuan tadi berubah murung ia menatap gadis kecil yang jalan serombongan mendahuluinya.
“Memang keluarganya kemana? Sudah meninggal?” Tanyaku heran.
“Entahlah kak, sejak kecil saya sudah berada di panti asuhan. Tapi aku punya keluarga baru yang setia bersamaku.” Ia tersenyum dan menunjuk kearah rombongan tadi. Segera ia berlalu meninggalkanku dan berlari menuju kearah temannya.
Rasa malu muncul seketika mendengar pengakuan anak kecil tadi. Bagaimana bisa aku secengeng ini dibandingnya. Aku harus terbiasa dengan sesuatu yang baru dalam hidupku meski mengecewakan dan menghadirkan pilu. Aku yakin ada rencana indah dibaliknya. Di hari raya ini aku semakin terlatih menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi konsekuensi hidup. Aku mempercepat langkahku menuju lokasi sholat Idul Fitri ,tak ada duka, kecewa dan sepi semua lenyap bersama hembusan angin sejuk di pagi berkah ini. 

Nining Amalia
Penghujung Ramadhan 2014

Kekuatan Mantra Ayah


                            
Diumur yang hampir genap 6 tahun ini aku merasa telah disibukkan oleh dunia, lengah sedikit saja kerugian akan menyeretku kearus penderitaan. Kembali pagi ini aku terbangun dari lelap bisu dunia yang dipasung oleh gelap semalam, dingin menusuk tubuh namun semangatku tak pernah surut oleh cuaca yang bisa memanjakan diri dalam balutan selimut. Seusai shalat subuh aku segera membangunkan  Layla adikku yang berumur 4 tahun untuk menemaniku menemui teman bermainku setiap saat sehingga aku sibuk dari kewajibanku untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Teman yang selalu menantiku untuk bermain, tak peduli hujan, terik bahkan gelap sekalipun. 
            Aku berjalan dari gang ke gang untuk mendapatkan barang bekas. yah, ronsokan itu adalah teman bermainku. Di umurku ini kata seorang teman yang sekarang duduk dibangku sekolah seharusnya di isi dengan belajar dan bermain, oleh karena itu, saya menganggap barang bekas ini adalah temanku yang sering bermain bersamaku ketika aku memulung bersama adikku. Sepeninggalan ayahku beberapa bulan yang lalu mejadikanku seorang anak laki-laki yang kuat dan berpikir dewasa.
“Ragil, kalau kamu ingin menjadi orang yang sukses, maka lakukanlah kegiatan yang akan menghantarkanmu kepada kesuksesan, nak!” Ayahku pernah berpesan seperti itu. Kata-kata itu bak sebuah sihir yang menumbuhkan semangat kerjaku.
            Seperti biasa, setiap hari aku bangun lebih awal untuk beraktivitas., kembali teringat pesan ayah “Untuk menjadi hebat lakukanlah hal yang hebat diluar kebiasaan orang lain”. Namun hari ini adikku Layla jatuh sakit sehingga membiarkannya beristrahat di rumah kardus hunian kami. Dulu waktu ayah masih hidup kami punya rumah di pinggir kota namun setelah ayah meninggal rumah tersebut di ambil dan di jual oleh saudara ayah yang mengaku akan merawat kami namun ternyata malah menelantarkan saya dan Layla.
            “Nak, tidak sekolah? “ sapa seorang  wanita paru baya yang dari tadi mengamatiku memulung di tempat sampah salah satu rumah mewah.
            “Hm, saya sibuk bu.” Jawabku sambil tersenyum kearah wanita tersebut.
            “ Kecil-kecil sudah sibuk, sekolah sudah gratis nak.” Ucapnya
            “Saya sibuk memulung bu, tubuh saya juga butuh makan saya masih ingin hidup meski kehidupan terkadang menyiksaku terlalu perih.” Jawabku sambil melanjutkan pekerjaanku.
            “Orang tuamu mana nak?” Tanya wanita tersebut.
            “Sudah meninggal, kalau saya sekolah siapa yang akan mencari uang untuk  makanan sehari-hari saya dan adikku, ayahku selalu berpesan untuk menjaga adikku dan bekerja keras agar bisa sekolah dan kelak menjadi orang sukses. Sekarang saya lagi berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup agar bisa sekolah.” Kali ini aku menjawab panjang lebar. wanita tersebut tersenyum kearahku dan berjalan masuk kerumah mewah yang tempat sampahnya menjadi tempat memulungku kala itu.
“Jangan menyerah nak, Hidup memang keras tapi kamu harus lebih keras untuk dapat bertahan hidup.” Ayahku pernah berpesan seperti itu setiap kali aku mengeluh. Beliau semasa hidupnya sering menasehatiku agar tetap menjadi seorang laki-laki yang kuat, baik dan bertanggung jawab, maka tak heran hingga sekarang aku tumbuh menjadi anak yang pekerja keras. Hingga suatu saat wanita paru baya yang kutemui di depan rumahnya keramin menemuiku dan menawarkanku untuk bekerja dirumahnya dan menyekolahkanku. Rasa syukur tak terhingga kupanjatkan kepada Nya. Hingga akhirnya aku sekolah sembari bekerja dirumah wanita tersebut, pekerjaan yang tidak terlalu berat. Sementara adikku Layla sekarang sekolah di taman kanak-kanak.
Di sekolah hari pertamaku, Pak guru menyuruh kami maju kedepan kelas satu per satu untuk menceritakan tentang kedua orang tua. Saya merasa sedih karena orang tua sudah meningggal, hingga akhirnya giliran saya untuk maju kedepan kelas dihari pertamaku duduk dibangku sekolah dasar.
“Orang tua saya sudah meninggal, Ibu meninggal waktu saya dilahirkan, ayah saya meninggal beberapa bulan yang lalu.  Mereka orang tua yang hebat, meski tak berada di sisiku. Ibuku hebat karena mengorbankan nyawanya untukku maka dari itu aku tak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Ibuku. Ayahku memang telah meninggal, namun selama hidupnya ia selalu menasehatiku dan nasehatnya bagaikan mantra yang memberiku kekuatan dalam menghadapi kehidupan meski tanpa orang tua di sampingku. Beliau adalah sosok terhebat dalam hidupku, seseorang yang raganya telah tiada jiwanya masih terasa bersamaku jika mengingat nasehatnya

Minggu, 04 Mei 2014

Wanita Bermata Jely




    Udara panas serta angin membawa debu berhamburan di perkampungan sebuah rumah dan beberapa rumah di sekelilingnya. Hari ini begitu panas, yang menyebabkan udara dan hawa di luar rumah sangat tidak mengenakkan.
     Siang itu meski terik, bambang dengan semangat membawa alat pancingannya ke danau tempat dimana ia bersama teman-temannya sering memancing,dia senang memandangi pemandangan disepanjang jalan menuju tempat ia memancing. Melewati sawah-sawah bertanamkan jagung, menyusuri jalan pedesaan yang biasa dikatakan ramai tapi tidak untuk siang yang panas ini, yono yang tak sengaja bertemu bambang dengan wajah gerah dan mengipas wajahnya bertanya kepada bambang,

Yono    : bambang,, mau kemana kamu siang-siang begini ?
Bambang : kamu tidak melihat alat-alat pancinganku ini ? pastilah  mau kedanau, masa ke hutan.
Yono : panas-panas begini ?
Bambang: ya,, apa boleh buat, ini lauk untuk makan sore nanti..
Yono : okelah,, hati-hati dijalan.. Assalamu Alaikum,,
Bambang: Waalaikum Salam..

     Bambangpun melanjutkan perjalanannya. Jalanan menurun membuat bambang hampir jatuh, sandalnya pun putus sebelah, membuat kaki sebelah kirinya berjalan tanpa alas, ini menambah perjuangannya sampai kedanau. Sesampainya di danau, cuaca mulai mendung, mungkin akan turun hujan, Allah pasti kasihan padaku,, pikirnya.. Tak lama ia memancing, di seberang danau, dia melihat seorang wanita berkerudung putih, membaca sebuah Al-Quran, suaranya yang merdu membuat hati dan pikiran bambang menjadi tenang. Dalam hati dia bertanya “siapa dia ? baru kali ini aku melihatnya “,bambangpun mencoba menghampiri wanita berkerudung putih itu, tapi ketika Bambang mulai melangkahkan kaki, wanita itu sudah menghilang, pergi entah kemana. Bambang penasaran dengan wanita itu, ya,, wanita berparas cantik, berpenampilan anggun, dan bermata jely, sesosok wanita sholeha yang membuat hatinya menjadi terkagum-kagum.
Hujan mulai turun membasahi ubun-ubunnya, bambang yang mendapat cukup banyak ikan bergegas pulang..
Petang mulai datang, suara adzan magrib dari berbagai arah telah berkumandang,bambangpun bergegas ke mesjid. Dengan khusyu’ ia laksanakan shalatnya itu. Setelah shalat, di seberang jalan ia memandangi seorang wanita cantik dengan pipi kemerah-merahan bak St. Khadijah  keluar dengan kerudung putihnya, bambang mulai teringat dengan wanita di seberang danau tadi siang. Tak jauh berbeda dengan kejadian tadi siang, dia masih penasaran dengan wanita itu, tapi apa daya dia hanya lelaki sederhana dan pemalu, melihatnya dari kejauhan sudah membuatnya mengambil nafas panjang dan merasa deg-degan.
Akhirnya bambang tidak tahan untuk diam terus, ia mencoba mengikuti wanita itu dari belakang, ia ingin tau, kemana wanita itu akan pergi. Dengan perlahan kakinya melangkah dan sangat berhati-hati, tapi sayangnya dia kehilangan jejak wanita itu. Dia pun membalikkan badannya untuk kembali pulang kerumah, tapi ternyata matanya memandangi sesosok wanita yang berdiri tak jauh darinya. Diapun terkejut, salah tingkah dan langsung bersegera pergi.
Sesampainya di rumah, dia masih memikirkan Wanita bermata jely itu, tatapannya sangat tajam, menusuk sampai kehati, perasaannya gelisah, resah, dan gundah, seakan-akan malam itu adalah malam yang paling panjang, malam yang paling gelap, dan malam yang paling hening, bambang jadi risau dan galau,” ini karena wanita itu” ucapnya dalam hati .. Tak terasa waktupun menunjukkan untuk shalat isyha, kakinyapun bergegas melangkah untuk berwudhu dan shalat,. Setiap rakaat ia selalu melakukannya dengan sempurna, sampai sujud terakhir,, ia berdoa panjang lebar kepada Sang Khaliq,  “ya Allah, jika ia jodohku maka dekatkanlah,, jika bukan jodohku, maka jodohkanlah,, aamiin“ dalam doanya..
Karena tidur terlalu larut,, ia tak sempat bangun untuk shalat malam, yah,, kebiasaan yang kali ini tak ia penuhi.
Keesokan harinya Bambang sengaja ke danau, berharap sosok wanita bermata jely itu juga berada disana, dan ternyata benar, Sumayyah,, yah.. itulah nama yang sempat didengar oleh bambang ketika teman Sumayyah memanggilnya,dan Bambang tak menyangka, teman dekat sumayyah adalah Leha, teman Bambang waktu SMA, dan ia tiba-tiba teringat seseorang yang sering bersama Leha waktu SMA, dan ternyata,, Sumayyah adalah Aatifah Sumayyah, yang waktu SMA di panggil dengan nama Tifah. Matanya menatap Sumayyah dengan tajam, bibirnya gemetar bak gitar yang dipetik, sosok Tifah yang ia cintai tak tersentuh,, dan ia cintai dalam diam, selama tiga tahun, kini ia hadir kembali dalam kehidupannya dengan penampilan anggun dan masuk dalam kategori Wanita Sholeha. MasyaAllah, kejadian itu meyakinkannya bahwa Sumayyah adalah jodohnya, ia tahu Allah mempertemukan mereka disaat hati mereka sudah siap untuk menjalankan Sunnah, yaitu duduk bersama dalam pelaminan, tapi... ternyata itu salah, Terlihat seorang ikhwan menghampirinya, memegang tangannya, menggandengnya dengan erat, dan memanggilnya istri.. ternyata Allah menulis skenario lain, skenario yang tak diharapkan oleh Bambang, yah,,, sumayyah adalah milik orang lain yang tak bisa lagi dimiliki oleh Bambang. Seketika matanya memerah, dan meneteskan air mata, astagfirulloh, astagfirulloh,, astagfirulloh,, ucapnya dalam hati.. ia memohon ampun kepada Allah, dan mendoakan Sumayyah agar selalu dalam lindunganNya dan menjadi keluarga yang sakinah, Mawaddah, Warohmah bersama sang suami. Aamiin.



 Karya : Ukhty A. Hardianti Muis,