Senin, 08 Desember 2014

Pengakuan Hujan


Gerbang 21 terbuka bersambut tetesan kesejukan dari langit dan pergantian kurikulum…
Selamat datang tahun ke-21 ku didunia. Alam cukup bersahabat ia menghadiahkan musim hujan dihari lahirku, mungkin ia tahu bahwa aku mencintai sahabat karibnya itu, hujan.  Kali ini aku akan berkisah tentang hujan dan pengakuan cintaku…. Tarian hujan dan iramanya seolah mengajakku berbagi kisah dan duka. Katanya ini tentang pengakuan cintaku padanya…
“ Sejak kapan kau mencintaiku?” 
“ Sejak aku mengenalmu dan sejak kau mempertemukanku dengan seseorang yang menuntunku kedalam perubahan besar dalam hidupku?”
“Siapa orang itu, seseorang yang kau cintai melebihku?”
“Tak ingin kujawab hujanku, jangan menghadirkan lagi kisah yang telah kau hanyutkan bersama tetesanmu”
“Yasudah, tapi kuharap jangan memanggilku dalam rindu jika kedatanganku tak kau sambut”
“Maksudmu hujanku? Bukankah kedatanganmu sering menghadirkan senyum lepas diwajahku, bahkan tiap tetesanmu tengah membasahi sisi gersang hatiku. Aku mencintaimu. Belumkah itu cukup bagimu?”
“Aku tahu, kata itu sering kau ucap dalam lisan dan penamu. Katanya kau mencintaiku, merinduku, mengharapkan hadirku.. namun hari itu tepatnya dipenghujung Okteber kemarin aku datang untuk menjawab kerinduanmu, menghadirkan sejuk dihatimu. Kulihat diberanda mesjid BTP kau duduk dengan wajah seriusmu.. aku benci melihat angin yang bebas bercengkrama denganmu, memainkan kerudung warna merah jambumu hari itu. Ia tampak leluasa, sesekali kau pasang wajah kesalmu dengan ulah angin yang begitu usil.”
*Terdiam*
“Hari itu kuluapkan bahagiaku dengan percikan air yang menetes rapi tiap butirannya turun kebumi, kupersembahkan hujan pertama dimusim kemaraumu, kutahu kau sangat menyukainya… hendak kuusir angin yang begitu usil dalam menggodamu, namun tetap saja ia tak mau pergi, maafkan aku kala itu, tak mampu menjagamu dari keusilan angin,..”
“Tak mengapa bukan angin datang untuk mengundangmu kesisiku? Berdamailah dengan angin,  ia adalah teman baik dari teman baikmu, alam.” 
“Sudahlah, selamanya aku takkan berdamai dengan angin selama kau masih terus menghindariku, dan asyik bercumbu ria dengannya sementara katamu kau mencintaiku”
“Maksudmu hujanku?”
“Katanya kau mencintaiku dan merindukanku, tapi saat kuhadirkan diriku ditengah hidupmu kerapkali kau menghindariku dan tak mau tersentuh olehku? Hanya memandangiku bersama hembusan angin dibawah atap. Sesekali kau menggerutu oleh basah dan becek jalanmu. Kau hanya mempermainkanku dengan telapak tangan yang lama tak terjamah olehku dibawah naungan atap. Katanya kau merindukanku, akupun sama. Aku rindu menari bersamamu tak peduli angin mengusik namun bahagia kita mengalahkan indah pelangi kala redaku. Aku ingat dengan jelas dalam memori jangka panjangku bahwa terakhir kali kau menari bersama hujan adalah ketika kau mengenakan seragam merah putih dengan wajah penuh suka berbalut kepolosan.  Aku merindukan saat itu, bisakah kau kembali saja pada saat itu, dirimu sekrang telah berubah. Katanya merindukanku namun selalu menghindariku saat aku menjatuhkan puing-puing kesejukan bahagiaku untuk menyatu dengan tubuhmu… Atau  apakah seseorang yang kupertemukanmu tanpa sengaja dulu telah kembali?”
“Jangan membenci angin, bukankah dia kerap kali mengiringmu kearahku dalam teduhan.  Ia juga sering bernyanyi memanggil awan untuk menghadirkanmu dan meneriakkan rindu seorang penduduk bumi akan sejukmu.  Ia membantuku menjawab kerinduan yang terpasung kemarau berkepanjangan. Aku tak membenci kemarau, aku ingin kalian berdua hadir dalam hidupku… “
“Baiklah, takkan kubenci angin, setelah ini akan kucoba untuk bedamai dengannya. Tapi belum kudapati jawaban dari segala tanda tanya dalam benakku yang telah kuungkap padamu..” *Menunggu*

Bersambung….. 

Aku tengah berpikir tentang segala risau dan kecewa hujan padaku…
Makassar, 08 Desember 2014 bersama malam, hujan dan jendela kamar berembun diterpa cahaya lampu jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar