Gerbang 21
terbuka bersambut tetesan kesejukan dari langit dan pergantian kurikulum…
Selamat datang tahun ke-21 ku didunia. Alam
cukup bersahabat ia menghadiahkan musim hujan dihari lahirku, mungkin ia tahu
bahwa aku mencintai sahabat karibnya itu, hujan. Kali ini aku akan berkisah tentang hujan dan
pengakuan cintaku…. Tarian hujan dan iramanya seolah mengajakku berbagi kisah
dan duka. Katanya ini tentang pengakuan cintaku padanya…
“ Sejak kapan kau mencintaiku?”
“ Sejak aku mengenalmu dan sejak kau mempertemukanku
dengan seseorang yang menuntunku kedalam perubahan besar dalam hidupku?”
“Siapa orang itu, seseorang yang kau cintai
melebihku?”
“Tak ingin kujawab hujanku, jangan
menghadirkan lagi kisah yang telah kau hanyutkan bersama tetesanmu”
“Yasudah, tapi kuharap jangan memanggilku
dalam rindu jika kedatanganku tak kau sambut”
“Maksudmu hujanku? Bukankah kedatanganmu
sering menghadirkan senyum lepas diwajahku, bahkan tiap tetesanmu tengah
membasahi sisi gersang hatiku. Aku mencintaimu. Belumkah itu cukup bagimu?”
“Aku tahu, kata itu sering kau ucap dalam
lisan dan penamu. Katanya kau mencintaiku, merinduku, mengharapkan hadirku..
namun hari itu tepatnya dipenghujung Okteber kemarin aku datang untuk menjawab
kerinduanmu, menghadirkan sejuk dihatimu. Kulihat diberanda mesjid BTP kau
duduk dengan wajah seriusmu.. aku benci melihat angin yang bebas bercengkrama
denganmu, memainkan kerudung warna merah jambumu hari itu. Ia tampak leluasa,
sesekali kau pasang wajah kesalmu dengan ulah angin yang begitu usil.”
*Terdiam*
“Hari itu kuluapkan bahagiaku dengan percikan
air yang menetes rapi tiap butirannya turun kebumi, kupersembahkan hujan
pertama dimusim kemaraumu, kutahu kau sangat menyukainya… hendak kuusir angin
yang begitu usil dalam menggodamu, namun tetap saja ia tak mau pergi, maafkan
aku kala itu, tak mampu menjagamu dari keusilan angin,..”
“Tak mengapa bukan angin datang untuk
mengundangmu kesisiku? Berdamailah dengan angin, ia adalah teman baik dari teman baikmu,
alam.”
“Sudahlah, selamanya aku takkan berdamai
dengan angin selama kau masih terus menghindariku, dan asyik bercumbu ria
dengannya sementara katamu kau mencintaiku”
“Maksudmu hujanku?”
“Katanya kau mencintaiku dan merindukanku,
tapi saat kuhadirkan diriku ditengah hidupmu kerapkali kau menghindariku dan
tak mau tersentuh olehku? Hanya memandangiku bersama hembusan angin dibawah
atap. Sesekali kau menggerutu oleh basah dan becek jalanmu. Kau hanya
mempermainkanku dengan telapak tangan yang lama tak terjamah olehku dibawah
naungan atap. Katanya kau merindukanku, akupun sama. Aku rindu menari bersamamu
tak peduli angin mengusik namun bahagia kita mengalahkan indah pelangi kala
redaku. Aku ingat dengan jelas dalam memori jangka panjangku bahwa terakhir
kali kau menari bersama hujan adalah ketika kau mengenakan seragam merah putih
dengan wajah penuh suka berbalut kepolosan.
Aku merindukan saat itu, bisakah kau kembali saja pada saat itu, dirimu
sekrang telah berubah. Katanya merindukanku namun selalu menghindariku saat aku
menjatuhkan puing-puing kesejukan bahagiaku untuk menyatu dengan tubuhmu…
Atau apakah seseorang yang
kupertemukanmu tanpa sengaja dulu telah kembali?”
“Jangan membenci angin, bukankah dia kerap
kali mengiringmu kearahku dalam teduhan.
Ia juga sering bernyanyi memanggil awan untuk menghadirkanmu dan
meneriakkan rindu seorang penduduk bumi akan sejukmu. Ia membantuku menjawab kerinduan yang
terpasung kemarau berkepanjangan. Aku tak membenci kemarau, aku ingin kalian
berdua hadir dalam hidupku… “
“Baiklah, takkan kubenci angin, setelah ini
akan kucoba untuk bedamai dengannya. Tapi belum kudapati jawaban dari segala
tanda tanya dalam benakku yang telah kuungkap padamu..” *Menunggu*
Bersambung…..
Aku tengah berpikir tentang segala risau dan
kecewa hujan padaku…
Makassar, 08 Desember 2014 bersama malam,
hujan dan jendela kamar berembun diterpa cahaya lampu jalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar