Terkadang kita merasa
ingin berlari dari keterasingan yang tak seharusnya dirasakan dalam wadah
pengikat ukhuwai. Ketika ada yang mencegah maka kita kembali dan bersua, namun
keterasingan kembali menggila dan rasa tak dianggap muncul, maka disitulah aku
berlari tanpa menoleh, kau kejar pun takkan kupeduli. Aku berharap keimanan
dalam diri mencegah pergiku ketika lisanmu dan kekuatanmu tak lagi mampu
mencegahku beranjak namun sepertinya sia-sia.
“Mika, kuatlah!” Aku
membatin dengan butiran air mata mengalir dipipi dan membasahi kerudung
merahku, melihat mereka dari jauh seolah menyisahkan perih dalam hati. Sungguh,
kebersamaan dengan mereka adalah sebuah pecahan yang tersangkut dalam hatiku.
Mengingatnya membuatku sakit. Ingin melepasnya namun tak bisa dan seolah tak
mau. Menjalani hari tanpa mereka seperti kehilangan separuh aku dalam diriku,
hidupku.
***
Perbincangan sore itu
yang menyenangkan, pembicaraan tentang masalah ummat dan diakhiri dengan
diskusi kecil mencari solusi syar’i dalam Islam. Terkadang ditengah diskusi,
dari kita ada yang mengeluh akan rutinitas kampus dan tugas kuliah yang menyita
waktu. “Tapi. Eh.. bukankah tujuan perantauan kita adalah kuliah?” Lala
memotong keluhanku.
“Sudahlah tidak usah
mengeluh dengan tugas kuliah, kita kerjakan saja asal jangan sampai aktivitas
akademik menjadi kerikil yang menghambat laju kereta dakwah kita di kampus ini”
sambungnya sambil merangkul bahuku. Lala teman seangkatanku namun kami berbeda
kelas, harinya dipenuhi dengan semangat meski ada saja masalah kecil yang menahan
tawanya. Aku dan beberapa teman seperjuangan yang lain kerap kali berkumpul
ditempat yang sama, tempat yang mungkin jarang terjamah oleh mahluk kampus
kecuali mereka yang semisal kami, beranda mesjid kampus. Kami selalu ingin agar
hati kami terpaut dengan mesjid maka salah satu sarananya adalah berkunjung ke rumah-Nya,
teringat akan sebuah petikan hadist yang mengatakan bahwa akan ada tujuh
golongan yang akan mendapat perlindunganku diakhirat.. yang mana salah satunya
adalah hati yang selalu terpaut dengan mesjid.
Bukan hanya itu,
kebersamaan kita sangat terasa jika berada dalam medan perjuangan dakwah,
ketika apa yang disampaikan terbalas pengabaian, ketika bulletin yang disebar
berujung tatapan sinis, meski demikian masih ada saja hati yang tak mengunci
pintunya rapat-rapat akan Islam. Untuk pemilik hati yang senantiasa terbuka
untuk kebaikan, semoga cahaya akan menuntunmu kearah perjuangan mulia. Kita
melaju bersama dalam kereta dakwah menuju ketujuan mulia. Jangan ragu akan
kugandeng tanganmu, tak kulepas hingga kau yang melepas terlebih dahulu.
Tapi.. tiba-tiba
gandengan tangan terlepas, aku ingkar akan sebuah janji. Tak bisa kutahan
gejolak dalam batinku, keterasingan dan seolah tak dianggap oleh yang lain
membuatku ingin berlari dan melepas semua ikatan antara aku dan mereka. Jiwa
futur menguasaiku, aku lupa dimana meletakkan imanku karena ego tengah
menguasai. Selama ini aku bisa terima namun rasanya cukup keterlaluan jika
harus kujalani perjuangan ini dengan keterasingan jika berada diantara kalian,
meski dalam kadar sedikit namun itu menyiksa. Dan aku pergi..
***
Aku tak peduli dengan
keusilan angin yang memainkan kerudungku, rerumput yang menari mengajakku
bermain bersama angin. Cuaca hari ini cerah, di taman kampus kuberbisik pada
langit.. “Bisakah kupinjam birumu untuk hatiku yang mendung?” Langit tak
menjawab, aku memang tak berharap jawabnya. Ditengah lamunanku suara yang
terdengar akrab menyapaku hangat.
“Assalamualaykum,
jangan kecewakan makhluk disekitarmu dengan wajah murung yang kau suguhkan
untuknya saudariku” gadis berkerudung
hijau itu menghampirku dengan senyum diwajahnya, ia menemaniku berbisik kepada
langit namun dengan harap yang berbeda “Berilah
cahaya bahagia teruntuknya, sungguh hatinya benar-benar kabut” batinnya
seolah terdengat olehku dengan tatapan matanya yang teduh. Rani, begitu aku
sering menyapanya. Seseorang yang janjiku padanya telah kuingkari, seolah ia
menhampiriku untuk menuntut akan sebuah
janji. Namun hanya kubalas salamnya dengan senyum. Hanya tersenyum.
“Tahukah kamu, kereta
dakwah akan terus melaju tanpa menunggu mereka yang dilema akan keraguan,
berhenti terlalu lama membuatmu akan tertinggal. Dakwah juga akan menyeleksi
orang-orang yang benar-benar kuat mengembannya akan dimuliakan dan yang
meninggalkannya akan dihinakan zaman” Rani menatap kosong jauh kedepan seolah
berat rasanya menyapaikan hal ini padaku.
“Saya tidak
meninggalkan dakwah ini, namun kesulitan berada dalam suatu kelompok membuatku
seolah ingin menjauh, aku terlalu lelah. Rasanya jiwa-jiwa yang rapuh sepertiku
tak mampu bertahan dalam kelompok yang demikian. Telah kuputuskan untuk tetap
berdakwah atas individu” Balasku lemah
“Bukankah kita sudah
paham akan wajibnya bergabung dalam kelompok dakwah, karena dengan bergabungnya
kita dengan kelompok dakwah maka akan ada senantiasa orang-orang di sekitar
yang akan menegur kita kala lalai, dan ingat yang kita perjuangkan adalah
sesuatu yang besar. Maka butuh kekuatan yang besar pula untuk melawannya. Ini
bukan sesuatu yang bisa kita lawan dengan personal saja, namun kita butuh
kelompok yang bisa saling bahu membahu ibarat sebuah bangunan yang saling
mengokohkan antara unsur yang satu dengan yang lain. Jangan menciptakan badai
dalam pergerakan dakwahmu saudariku, akan tiba masa dimana rasa tidak senang
kita bersama mereka yang memperjuangkan sesuatu yang mulia, namun itu lebih
baik daripada tawamu dan nyamanmu bersama sang pelaku maksiat yang enggan untuk
memperjuangkan sesuatu yang harus diperjuangkan, yakni agama Allah SWT.” Ucapnya
sembari mengulur tangan kepadaku dan menatapku.
“Tangan yang dulu
merangkul dan menggandengku untuk berjuang bisa kini tak akan kulepas meski ia
melepaskannya. Sepertinya tangan kita telah ditakdirkan untuk senantiasa
bergandengan dalam perjuangan ini, saling menguatkan kala sisi futur menguasai
salah satunya, maka tanganku telah melaksanakan tugas yang semestinya,
assalamualaikum..” Ia mengakhiri pembincaraan syahdu siang itu dan berlalu.
“Waalaykumsalam…”
Balasku tak berdaya, seolah kata yang terucap dari lisannya mengujam jantungku.
Detak iman mulai terdengar dan menguasaiku kembali..
“Sungguh, hal terbodoh
yang pernah kulakukan adalah berpikir untuk mundur dalam medan dakwah, dan
betapa pengecutnya diriku jika benar-benar keluar dari kelompok dakwah hanya
karena tekanan batin yang kurasakan” setelah
berhasil kutata hatiku dengan keimanan kualihkan pandanganku kelangit.
“Terima kasih telah
meminjamkan birumu yang kau titip melalui saudariku. Langit.”
Makassar,
24 februari 2015
“Teruntuk
jiwa yang ingin melepas pedang perjuangan dari genggamannya… Ingat, zaman tidak
akan sudi menorehkan kisahmu dengan tinta emasnya dalam catatan kaki sejarah bagi pecundang
seperti kalian..”
“
Buatlah seseorang disekeliling kita merasa dihargai keberadaannya, jangan
menebar cinta dan melewatkan salah satunya. Sesungguhnya tersimpan sisi rapuh
dalam masing-masing insan, seberapa kuat pun ia terlihat”
“Teruntuk
saudariku yang selalu menuntut untuk dimengerti, berhenti jadi makhluk egois.
Karena kita adalah pengemban dakwah bukan tuan puteri, meski demikian kelak
akan dipersunting oleh pangeran impian yang dititipkan Allah SWT melalui
perjuangan dakwah kita”
-Nining
Amalia-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar