Minggu, 08 Maret 2015

Pinjam Birumu





Terkadang kita merasa ingin berlari dari keterasingan yang tak seharusnya dirasakan dalam wadah pengikat ukhuwai. Ketika ada yang mencegah maka kita kembali dan bersua, namun keterasingan kembali menggila dan rasa tak dianggap muncul, maka disitulah aku berlari tanpa menoleh, kau kejar pun takkan kupeduli. Aku berharap keimanan dalam diri mencegah pergiku ketika lisanmu dan kekuatanmu tak lagi mampu mencegahku beranjak namun sepertinya sia-sia.

“Mika, kuatlah!” Aku membatin dengan butiran air mata mengalir dipipi dan membasahi kerudung merahku, melihat mereka dari jauh seolah menyisahkan perih dalam hati. Sungguh, kebersamaan dengan mereka adalah sebuah pecahan yang tersangkut dalam hatiku. Mengingatnya membuatku sakit. Ingin melepasnya namun tak bisa dan seolah tak mau. Menjalani hari tanpa mereka seperti kehilangan separuh aku dalam diriku, hidupku.
***
Perbincangan sore itu yang menyenangkan, pembicaraan tentang masalah ummat dan diakhiri dengan diskusi kecil mencari solusi syar’i dalam Islam. Terkadang ditengah diskusi, dari kita ada yang mengeluh akan rutinitas kampus dan tugas kuliah yang menyita waktu. “Tapi. Eh.. bukankah tujuan perantauan kita adalah kuliah?” Lala memotong keluhanku. 

“Sudahlah tidak usah mengeluh dengan tugas kuliah, kita kerjakan saja asal jangan sampai aktivitas akademik menjadi kerikil yang menghambat laju kereta dakwah kita di kampus ini” sambungnya sambil merangkul bahuku. Lala teman seangkatanku namun kami berbeda kelas, harinya dipenuhi dengan semangat meski ada saja masalah kecil yang menahan tawanya. Aku dan beberapa teman seperjuangan yang lain kerap kali berkumpul ditempat yang sama, tempat yang mungkin jarang terjamah oleh mahluk kampus kecuali mereka yang semisal kami, beranda mesjid kampus. Kami selalu ingin agar hati kami terpaut dengan mesjid maka salah satu sarananya adalah berkunjung ke rumah-Nya, teringat akan sebuah petikan hadist yang mengatakan bahwa akan ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindunganku diakhirat.. yang mana salah satunya adalah hati yang selalu terpaut dengan mesjid.

Bukan hanya itu, kebersamaan kita sangat terasa jika berada dalam medan perjuangan dakwah, ketika apa yang disampaikan terbalas pengabaian, ketika bulletin yang disebar berujung tatapan sinis, meski demikian masih ada saja hati yang tak mengunci pintunya rapat-rapat akan Islam. Untuk pemilik hati yang senantiasa terbuka untuk kebaikan, semoga cahaya akan menuntunmu kearah perjuangan mulia. Kita melaju bersama dalam kereta dakwah menuju ketujuan mulia. Jangan ragu akan kugandeng tanganmu, tak kulepas hingga kau yang melepas terlebih dahulu.

Tapi.. tiba-tiba gandengan tangan terlepas, aku ingkar akan sebuah janji. Tak bisa kutahan gejolak dalam batinku, keterasingan dan seolah tak dianggap oleh yang lain membuatku ingin berlari dan melepas semua ikatan antara aku dan mereka. Jiwa futur menguasaiku, aku lupa dimana meletakkan imanku karena ego tengah menguasai. Selama ini aku bisa terima namun rasanya cukup keterlaluan jika harus kujalani perjuangan ini dengan keterasingan jika berada diantara kalian, meski dalam kadar sedikit namun itu menyiksa. Dan aku pergi..
***
Aku tak peduli dengan keusilan angin yang memainkan kerudungku, rerumput yang menari mengajakku bermain bersama angin. Cuaca hari ini cerah, di taman kampus kuberbisik pada langit.. “Bisakah kupinjam birumu untuk hatiku yang mendung?” Langit tak menjawab, aku memang tak berharap jawabnya. Ditengah lamunanku suara yang terdengar akrab menyapaku hangat.

“Assalamualaykum, jangan kecewakan makhluk disekitarmu dengan wajah murung yang kau suguhkan untuknya saudariku”  gadis berkerudung hijau itu menghampirku dengan senyum diwajahnya, ia menemaniku berbisik kepada langit namun dengan harap yang berbeda “Berilah  cahaya bahagia teruntuknya, sungguh hatinya benar-benar kabut” batinnya seolah terdengat olehku dengan tatapan matanya yang teduh. Rani, begitu aku sering menyapanya. Seseorang yang janjiku padanya telah kuingkari, seolah ia menhampiriku untuk menuntut  akan sebuah janji. Namun hanya kubalas salamnya dengan senyum. Hanya tersenyum.

“Tahukah kamu, kereta dakwah akan terus melaju tanpa menunggu mereka yang dilema akan keraguan, berhenti terlalu lama membuatmu akan tertinggal. Dakwah juga akan menyeleksi orang-orang yang benar-benar kuat mengembannya akan dimuliakan dan yang meninggalkannya akan dihinakan zaman” Rani menatap kosong jauh kedepan seolah berat rasanya menyapaikan hal ini padaku.

“Saya tidak meninggalkan dakwah ini, namun kesulitan berada dalam suatu kelompok membuatku seolah ingin menjauh, aku terlalu lelah. Rasanya jiwa-jiwa yang rapuh sepertiku tak mampu bertahan dalam kelompok yang demikian. Telah kuputuskan untuk tetap berdakwah atas individu” Balasku lemah

“Bukankah kita sudah paham akan wajibnya bergabung dalam kelompok dakwah, karena dengan bergabungnya kita dengan kelompok dakwah maka akan ada senantiasa orang-orang di sekitar yang akan menegur kita kala lalai, dan ingat yang kita perjuangkan adalah sesuatu yang besar. Maka butuh kekuatan yang besar pula untuk melawannya. Ini bukan sesuatu yang bisa kita lawan dengan personal saja, namun kita butuh kelompok yang bisa saling bahu membahu ibarat sebuah bangunan yang saling mengokohkan antara unsur yang satu dengan yang lain. Jangan menciptakan badai dalam pergerakan dakwahmu saudariku, akan tiba masa dimana rasa tidak senang kita bersama mereka yang memperjuangkan sesuatu yang mulia, namun itu lebih baik daripada tawamu dan nyamanmu bersama sang pelaku maksiat yang enggan untuk memperjuangkan sesuatu yang harus diperjuangkan, yakni agama Allah SWT.” Ucapnya sembari mengulur tangan kepadaku dan menatapku.

“Tangan yang dulu merangkul dan menggandengku untuk berjuang bisa kini tak akan kulepas meski ia melepaskannya. Sepertinya tangan kita telah ditakdirkan untuk senantiasa bergandengan dalam perjuangan ini, saling menguatkan kala sisi futur menguasai salah satunya, maka tanganku telah melaksanakan tugas yang semestinya, assalamualaikum..” Ia mengakhiri pembincaraan syahdu siang itu dan berlalu.

“Waalaykumsalam…” Balasku tak berdaya, seolah kata yang terucap dari lisannya mengujam jantungku. Detak iman mulai terdengar dan menguasaiku kembali..

“Sungguh, hal terbodoh yang pernah kulakukan adalah berpikir untuk mundur dalam medan dakwah, dan betapa pengecutnya diriku jika benar-benar keluar dari kelompok dakwah hanya karena tekanan  batin yang kurasakan” setelah berhasil kutata hatiku dengan keimanan kualihkan pandanganku kelangit.

“Terima kasih telah meminjamkan birumu yang kau titip melalui saudariku. Langit.”

Makassar, 24 februari 2015

“Teruntuk jiwa yang ingin melepas pedang perjuangan dari genggamannya… Ingat, zaman tidak akan sudi menorehkan kisahmu dengan tinta emasnya dalam catatan kaki sejarah bagi pecundang seperti kalian..”

“ Buatlah seseorang disekeliling kita merasa dihargai keberadaannya, jangan menebar cinta dan melewatkan salah satunya. Sesungguhnya tersimpan sisi rapuh dalam masing-masing insan, seberapa kuat pun ia terlihat”

“Teruntuk saudariku yang selalu menuntut untuk dimengerti, berhenti jadi makhluk egois. Karena kita adalah pengemban dakwah bukan tuan puteri, meski demikian kelak akan dipersunting oleh pangeran impian yang dititipkan Allah SWT melalui perjuangan dakwah kita”

-Nining Amalia-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar