Senin, 24 November 2014

Kekuatan Mantra Ayah


                            
Diumur yang hampir genap 6 tahun ini aku merasa telah disibukkan oleh dunia, lengah sedikit saja kerugian akan menyeretku kearus penderitaan. Kembali pagi ini aku terbangun dari lelap bisu dunia yang dipasung oleh gelap semalam, dingin menusuk tubuh namun semangatku tak pernah surut oleh cuaca yang bisa memanjakan diri dalam balutan selimut. Seusai shalat subuh aku segera membangunkan  Layla adikku yang berumur 4 tahun untuk menemaniku menemui teman bermainku setiap saat sehingga aku sibuk dari kewajibanku untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Teman yang selalu menantiku untuk bermain, tak peduli hujan, terik bahkan gelap sekalipun. 
            Aku berjalan dari gang ke gang untuk mendapatkan barang bekas. yah, ronsokan itu adalah teman bermainku. Di umurku ini kata seorang teman yang sekarang duduk dibangku sekolah seharusnya di isi dengan belajar dan bermain, oleh karena itu, saya menganggap barang bekas ini adalah temanku yang sering bermain bersamaku ketika aku memulung bersama adikku. Sepeninggalan ayahku beberapa bulan yang lalu mejadikanku seorang anak laki-laki yang kuat dan berpikir dewasa.
“Ragil, kalau kamu ingin menjadi orang yang sukses, maka lakukanlah kegiatan yang akan menghantarkanmu kepada kesuksesan, nak!” Ayahku pernah berpesan seperti itu. Kata-kata itu bak sebuah sihir yang menumbuhkan semangat kerjaku.
            Seperti biasa, setiap hari aku bangun lebih awal untuk beraktivitas., kembali teringat pesan ayah “Untuk menjadi hebat lakukanlah hal yang hebat diluar kebiasaan orang lain”. Namun hari ini adikku Layla jatuh sakit sehingga membiarkannya beristrahat di rumah kardus hunian kami. Dulu waktu ayah masih hidup kami punya rumah di pinggir kota namun setelah ayah meninggal rumah tersebut di ambil dan di jual oleh saudara ayah yang mengaku akan merawat kami namun ternyata malah menelantarkan saya dan Layla.
            “Nak, tidak sekolah? “ sapa seorang  wanita paru baya yang dari tadi mengamatiku memulung di tempat sampah salah satu rumah mewah.
            “Hm, saya sibuk bu.” Jawabku sambil tersenyum kearah wanita tersebut.
            “ Kecil-kecil sudah sibuk, sekolah sudah gratis nak.” Ucapnya
            “Saya sibuk memulung bu, tubuh saya juga butuh makan saya masih ingin hidup meski kehidupan terkadang menyiksaku terlalu perih.” Jawabku sambil melanjutkan pekerjaanku.
            “Orang tuamu mana nak?” Tanya wanita tersebut.
            “Sudah meninggal, kalau saya sekolah siapa yang akan mencari uang untuk  makanan sehari-hari saya dan adikku, ayahku selalu berpesan untuk menjaga adikku dan bekerja keras agar bisa sekolah dan kelak menjadi orang sukses. Sekarang saya lagi berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup agar bisa sekolah.” Kali ini aku menjawab panjang lebar. wanita tersebut tersenyum kearahku dan berjalan masuk kerumah mewah yang tempat sampahnya menjadi tempat memulungku kala itu.
“Jangan menyerah nak, Hidup memang keras tapi kamu harus lebih keras untuk dapat bertahan hidup.” Ayahku pernah berpesan seperti itu setiap kali aku mengeluh. Beliau semasa hidupnya sering menasehatiku agar tetap menjadi seorang laki-laki yang kuat, baik dan bertanggung jawab, maka tak heran hingga sekarang aku tumbuh menjadi anak yang pekerja keras. Hingga suatu saat wanita paru baya yang kutemui di depan rumahnya keramin menemuiku dan menawarkanku untuk bekerja dirumahnya dan menyekolahkanku. Rasa syukur tak terhingga kupanjatkan kepada Nya. Hingga akhirnya aku sekolah sembari bekerja dirumah wanita tersebut, pekerjaan yang tidak terlalu berat. Sementara adikku Layla sekarang sekolah di taman kanak-kanak.
Di sekolah hari pertamaku, Pak guru menyuruh kami maju kedepan kelas satu per satu untuk menceritakan tentang kedua orang tua. Saya merasa sedih karena orang tua sudah meningggal, hingga akhirnya giliran saya untuk maju kedepan kelas dihari pertamaku duduk dibangku sekolah dasar.
“Orang tua saya sudah meninggal, Ibu meninggal waktu saya dilahirkan, ayah saya meninggal beberapa bulan yang lalu.  Mereka orang tua yang hebat, meski tak berada di sisiku. Ibuku hebat karena mengorbankan nyawanya untukku maka dari itu aku tak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Ibuku. Ayahku memang telah meninggal, namun selama hidupnya ia selalu menasehatiku dan nasehatnya bagaikan mantra yang memberiku kekuatan dalam menghadapi kehidupan meski tanpa orang tua di sampingku. Beliau adalah sosok terhebat dalam hidupku, seseorang yang raganya telah tiada jiwanya masih terasa bersamaku jika mengingat nasehatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar