Diumur yang hampir genap 6 tahun ini aku merasa telah disibukkan oleh
dunia, lengah sedikit saja kerugian akan menyeretku kearus penderitaan. Kembali
pagi ini aku terbangun dari lelap bisu dunia yang dipasung oleh gelap semalam, dingin
menusuk tubuh namun semangatku tak pernah surut oleh cuaca yang bisa memanjakan
diri dalam balutan selimut. Seusai shalat subuh aku segera membangunkan Layla adikku yang berumur 4 tahun untuk
menemaniku menemui teman bermainku setiap saat sehingga aku sibuk dari
kewajibanku untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Teman yang selalu menantiku
untuk bermain, tak peduli hujan, terik bahkan gelap sekalipun.
Aku berjalan dari
gang ke gang untuk mendapatkan barang bekas. yah, ronsokan itu adalah teman bermainku.
Di umurku ini kata seorang teman yang sekarang duduk dibangku sekolah
seharusnya di isi dengan belajar dan bermain, oleh karena itu, saya menganggap
barang bekas ini adalah temanku yang sering bermain bersamaku ketika aku
memulung bersama adikku. Sepeninggalan ayahku beberapa bulan yang lalu
mejadikanku seorang anak laki-laki yang kuat dan berpikir dewasa.
“Ragil, kalau kamu ingin menjadi orang yang sukses, maka lakukanlah
kegiatan yang akan menghantarkanmu kepada kesuksesan, nak!” Ayahku pernah berpesan
seperti itu. Kata-kata itu bak sebuah sihir yang menumbuhkan semangat kerjaku.
Seperti biasa,
setiap hari aku bangun lebih awal untuk beraktivitas., kembali teringat pesan
ayah “Untuk menjadi hebat lakukanlah hal yang hebat diluar kebiasaan orang lain”.
Namun hari ini adikku Layla jatuh sakit sehingga membiarkannya beristrahat di
rumah kardus hunian kami. Dulu waktu ayah masih hidup kami punya rumah di
pinggir kota namun setelah ayah meninggal rumah tersebut di ambil dan di jual
oleh saudara ayah yang mengaku akan merawat kami namun ternyata malah
menelantarkan saya dan Layla.
“Nak, tidak
sekolah? “ sapa seorang wanita paru baya
yang dari tadi mengamatiku memulung di tempat sampah salah satu rumah mewah.
“Hm, saya sibuk
bu.” Jawabku sambil tersenyum kearah wanita tersebut.
“ Kecil-kecil
sudah sibuk, sekolah sudah gratis nak.” Ucapnya
“Saya sibuk
memulung bu, tubuh saya juga butuh makan saya masih ingin hidup meski kehidupan
terkadang menyiksaku terlalu perih.” Jawabku sambil melanjutkan pekerjaanku.
“Orang tuamu mana
nak?” Tanya wanita tersebut.
“Sudah meninggal,
kalau saya sekolah siapa yang akan mencari uang untuk makanan sehari-hari saya dan adikku, ayahku
selalu berpesan untuk menjaga adikku dan bekerja keras agar bisa sekolah dan
kelak menjadi orang sukses. Sekarang saya lagi berusaha mengumpulkan
pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup agar bisa sekolah.” Kali ini aku
menjawab panjang lebar. wanita tersebut tersenyum kearahku dan berjalan masuk
kerumah mewah yang tempat sampahnya menjadi tempat memulungku kala itu.
“Jangan menyerah nak, Hidup memang keras tapi kamu harus lebih
keras untuk dapat bertahan hidup.” Ayahku pernah berpesan seperti itu setiap
kali aku mengeluh. Beliau semasa hidupnya sering menasehatiku agar tetap
menjadi seorang laki-laki yang kuat, baik dan bertanggung jawab, maka tak heran
hingga sekarang aku tumbuh menjadi anak yang pekerja keras. Hingga suatu saat
wanita paru baya yang kutemui di depan rumahnya keramin menemuiku dan
menawarkanku untuk bekerja dirumahnya dan menyekolahkanku. Rasa syukur tak
terhingga kupanjatkan kepada Nya. Hingga akhirnya aku sekolah sembari bekerja
dirumah wanita tersebut, pekerjaan yang tidak terlalu berat. Sementara adikku
Layla sekarang sekolah di taman kanak-kanak.
Di sekolah hari pertamaku, Pak guru menyuruh kami maju kedepan
kelas satu per satu untuk menceritakan tentang kedua orang tua. Saya merasa
sedih karena orang tua sudah meningggal, hingga akhirnya giliran saya untuk
maju kedepan kelas dihari pertamaku duduk dibangku sekolah dasar.
“Orang tua saya sudah
meninggal, Ibu meninggal waktu saya dilahirkan, ayah saya meninggal beberapa
bulan yang lalu. Mereka orang tua yang
hebat, meski tak berada di sisiku. Ibuku hebat karena mengorbankan nyawanya untukku
maka dari itu aku tak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Ibuku. Ayahku
memang telah meninggal, namun selama hidupnya ia selalu menasehatiku dan
nasehatnya bagaikan mantra yang memberiku kekuatan dalam menghadapi kehidupan
meski tanpa orang tua di sampingku. Beliau adalah sosok terhebat dalam hidupku,
seseorang yang raganya telah tiada jiwanya masih terasa bersamaku jika
mengingat nasehatnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar