Senin, 24 November 2014

Idul Fitri Mendewasakanku




“Pak, kira-kira saya dijemput jam berapa?”
“Jam 3 subuh dek, nanti saya hubungi kalau udah mau berangkat.” balasnya dari kejauhan
“Baiklah Pak, terima kasih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Ia menjawab salamku. Panggilan terputus. Aku meletakkan HP di bawa bantal.
                                                            ***
Baru kali ini aku menyalahkan lelapku. Tidurku semalam terlalu lelap akibat lelah mengerjakan tugas akhir dari dosen. Dosen salah satu mata kuliah yang paling tidak mengerti mahasiswanya, karena beliau jarang masuk maka bulan ramadhan yang seharusnya kami berkumpul dengan keluarga di kampung jadi tertunda karena harus menyelesaikan mata kuliahnya terlebih dahulu. Tentu hal tersebut membuat aku dan teman sekelas mengeluh, tapi mau gimana lagi nilai kami ada ditangannya. Menjelang lebaran sebelum pulang kampung beliau memberi tugas pengganti final untuk kami kerjakan dikampung karena waktu sudah tidak memungkinkan, soalnya besok  lusa sudah lebaran.
“Akh, bagaimana ini? aku kesiangan” keluhku pagi-pagi sambil mencari HP disetiap sisi kamar kontrakanku, dan menemukannya di bawah bantal. Aku kaget melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari supir langgananku jika hendak pulang kekampung. segera aku menghubunginya kembali.
“Halo Pak, maaf saya ketiduran. Sekarang bapak lagi ada dimana?” Ucapku panik
“Aduh maaf dek, bapak sudah jauh dari kota Makassar, ini sudah jam 5 tidak mungkin bapak kembali lagi jemput adek. Tidak enak sama penumpang lain, belum lagi jalanan macet.” jawab Pak supir dengan nada kecewa.
“Besok bapak kesini lagi kan?” sambungku. “Tidaklah dek, besok jalanan akan lebih macet lagi, kan besoknya udah mau lebaran dek jadi mana mungkin bapak kesana. Nanti kalau habis lebaran baru mulai tugas lagi”
Aku langsung mematikan teleponnya. Aku segera menghubungi mama dikampung dan menceritakannya semua. Aku tahu beliau kecewa namun mau bagaimana lagi. Akhirnya aku lebaran di perantauan. Semua teman kontrakanku sudah pulang ke kampung halamannya sisa aku dan sedih terkurung diruangan sepi.
                                                            ***
Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Suara takbir memecah hening malam ini, sesekali petasan bergantian meramaikan suara takbir. Di ruang bertabur pilu ini aku menikmati kesendirianku dengan berucap takbir mengikuti gema takbir dari mesjid. “Ini gara-gara tugas dari dosen, sehingga aku terlambat bangun” Batinku kecewa.Ah, sudahlah tak perlu disesali, anggaplah ini adalah pengalaman langka dalam hidupku.
Keesokan harinya dengan semangat aku berangkat ke lokasi shalat Idul Fitri. Aku berangkat tanpa membawa sedih dan kecewa, kuikhlaskan sedih dan kecewa itu terbang bebas tadi malam bersama kering air mataku. Aku percaya bahwa masih ada orang yang senasib bahkan lebih parah dariku yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari raya.
“Kak, jalannya jangan sambil melamur, nanti jatuh” Tegur seorang anak perempuan mengenakan mukena putih. Senyum menghiasi wajahnya kala menatapku. Aku hanya tersenyum padanya.
“Apa yang kakak pikirkan ?” sambungnya penasaran.
“Terasa aneh dek, lebaran tahun ini saya tidak bisa pulang ke kampung. Tidak bisa lebaran bersama keluarga” jawabku sambil memperlambat langkah kakiku.
“Kakak masih beruntung masih punya keluarga, beda dengan kami yang keluarga pun kami tak tahu entah kemana, bisa jadi memang kami tak punya keluarga seperti yang kakak rindukan” Wajah ceria anak perempuan tadi berubah murung ia menatap gadis kecil yang jalan serombongan mendahuluinya.
“Memang keluarganya kemana? Sudah meninggal?” Tanyaku heran.
“Entahlah kak, sejak kecil saya sudah berada di panti asuhan. Tapi aku punya keluarga baru yang setia bersamaku.” Ia tersenyum dan menunjuk kearah rombongan tadi. Segera ia berlalu meninggalkanku dan berlari menuju kearah temannya.
Rasa malu muncul seketika mendengar pengakuan anak kecil tadi. Bagaimana bisa aku secengeng ini dibandingnya. Aku harus terbiasa dengan sesuatu yang baru dalam hidupku meski mengecewakan dan menghadirkan pilu. Aku yakin ada rencana indah dibaliknya. Di hari raya ini aku semakin terlatih menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi konsekuensi hidup. Aku mempercepat langkahku menuju lokasi sholat Idul Fitri ,tak ada duka, kecewa dan sepi semua lenyap bersama hembusan angin sejuk di pagi berkah ini. 

Nining Amalia
Penghujung Ramadhan 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar