Dua hari setelah pengakuanku dan hujan
terluapkan, kini ia tak lagi menyambut pagiku dan menghantar lelapku. Pikirku mungkin
kepergiannya akan lebih cepat dari biasanya jika terlambat kuyakinkan hatinya
bahwa masih ada cinta untuknya dari hati masing-masing insan, tak mengerti
mengapa hujan akhir tahun 2014 ini agak sensitive J ataukah aku
salah mengatrikan hujan. Oke, lama kupikirkan setiap tanya yang diteteskannya
untukku, tentang cintaku dan rinduku….
Menantimu dalam gersang tidaklah mudah,
memikirkanmmu setiap saat dan mengharap hadirmu. Sepertinya memang ada jarak
yang digariskan alam untuk kita. Wujud rasa cinta seorang insane terhadap hujan
adalah mensyukuri kedatangannya dan tidak menlontarkan keluh atas hujan.
Biarkan aku mencintaimu seperti itu, mencintaimu pasti dalam benar. Adapun jika
kumenikmati setiap butir tetesanmu itu karena kukagumi indahmu. Menghindari
tetesanmu yang jatuh kebumi bukan karena kutak mencintaimu, namun karena aku
benar-benar mencintaimu.. Biarkanlah cinta kita tumbuh bersama kedewasaan.
Dulu
sewaktu kecilku kuluapkan rasa cintaku dengan bermain bersamamu di tanah
lapang, meski setelahnya akan ada demam menghinggapi, namun tak mengapa asal
bahagia kita bisa menciptakan pelangi yang lebih indah dari biasanya. Kini
biarkanku mencintaimu dengan cara lain.. Menatapmu dari teduh, mengharapkanmu
dan bergembira atas hadirmu… Dan kini lebih sering kusematkan kau dalam penaku.
Kukatakan pada dunia bahwa aku mencintaimu.. terlebih cintaku yang teramat
sangat kepada penciptamu, pencipta kita, pencipta cinta kita . Allah SWT..
Maka pantaskah kau ragukan cintaku?
Izinkanku mencintaimu dengan cara yang lain…
Jumat berkahku tanpa sambutmu, semoga setelah
ini aku bisa menyaksikan tarian hujan yang berdamai dengan angin… ^^
Baca juga pengakuan hujan #part 1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar