Tampilkan postingan dengan label Koleksi Puisi Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Puisi Pribadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Bulan Berkah di Tahun Politik


(Nining Amalia)

Ramadhan berkah nuansa politik
Seharusnya berkah namun ternoda trik picik
Kemuliaan politik tak tercermin
Keberkahan ramadhan kian memudar

Mari kita tengok dunia maya
Para simpatisan saling melontar hinaan
Membuka aib dari kubu lawan
Mengapa lisan enggan terjaga?

Mari kita amati dunia nyata
Jarang lagi sibuk beribadah
Sibuknya mengkampanyekan jagoan
Pilih kami, pilih ini

Ramadhan kita terasa tak sejuk lagi
Politik semakin memanas menyambut pemilu
Riuh sambutan pemilu terdengar
Menenggelamkan gema ramadhan

Aku ingin, kami ingin ramadhan indah nan berkah
Politik mulia dan hikmah
Tak usah mencaci, tak usah berkoar
Rakyat tahu, mereka menyaksikan, tak usah menutupi.

Ramadhan 2014

Kota Kalong Kedamaian (Puisi)




Lama tak bersua denganmu
Kota kalong sarang kedamaian
Jarak yang tergaris menyisahkan rindu
Adalah sedihku di perantauan

Kini garis jarak telah terhapus
Aku datang, bersambutlah dengan damaimu
Nampak berbeda dari sebelumnya
Penampakanmu lebih hijau terlihat

Sejarah hidupku berlatarkanmu
Hingga kisah seperempat abadku ini
Kuhanturkan terima kasih untukmu
Karena telah menjaga keluargaku serta kisahku

Kini aku berada di bawah rindang pohon
Bergelantungan mahkluk khas kotaku
Kota kalong, kedatanganku disambut riuh oleh mereka
Ah, berisiknya merindukan…

Watansoppeng, 18 Juli 2014

Senin, 24 November 2014

Puisi ngasal


                                                            

 Angan Layar

Langit korea begitu indah
Jika terlihat dari sini
Rembulan tampak menakjubkan
Hembusan angin menumpahkan kesejukan

Mutiara salju dari langit, Aku menggigil
Terlebih saat bertemu sang idol dambaan
Terperangkap dalam kisah romantis
Ini kisahku bersama sang idol dan salju pertamaku

Hari ini aku bersua dengannya
Merangkai kata dengan bahasanya
Bahasa yang berkarakter bagiku, mungkin juga kalian
Ah, bahasa akrab ditelinga

Esoknya aku mendapati diriku indah
Mengenakan hanbok tradisional korea
Memakai pakaian tebal nan lucu
Cermin… apakah ini aku?

Sekarang aku merasa menjadi orang korea
Berbahasa, berpenampilan dan gaya hidup
Ala orang korea
Dan ini romantis bersama sang idol

Namun hari ini juga semua bisa sirna
Penampakan yang menghasilkan imajinasi ini sirna
Tak lagi pasang mata ini menyaksikan drama korea
Ah, sudah kubilang ini hanya jebakan angan sebuah layar


Watansoppeng, Juli 2013-07-07

Menanti Bersama (Gazaku)


Mengering air mata di padang duka
Perjuangan pilu mendatangkan Syurga
Senyum merekah di taman syahid
Pintu surga kian menanti, Semoga.

Meski demikian.. adakah hati yang enggan tergerak
Tergerak akan ikatan mulia akidah Islam
Kian menanti uluran tangan, tanah suci kita hendak terampas !
Bahkan jika nyawa taruhannya, bukankah tak mengapa demi agama Allah SWT

Sakit memang, perih perjuangan ini
Lebih perih jika tanah suci ini terampas
Tidakkah merasakan sakit? Bukankah kita satu tubuh saudaraku?
Kami menanti perjuangan, kemerdekaan atau syahid bersama kami… 

Watansoppengg, Juni 2014