Sabtu, 05 April 2014

Rasa malu, sampah dan sekularisme



Tempatkan rasa “Malu” pada tempatnya, seperti sampah yang harus dibuang pada tempatnya. Saya yakin sepenuhnya bahwa orang yang sering membuang sampah bukan pada tempatnya sejatinya seringkali menempatkan rasa malunya bukan pada tempatnya dan sebaliknya. Ini tentang sampah dan malu. Seharusnya rasa malu dimiliki seseorang jika tak membuang sampah pada tempatnya, namun jika yang  bersangkutan tidak merasa malu dengan tindakannya itu maka dapat disimpulkan bahwa orang tersebut secara tidak langsung berhasil pula menempatkan rasa malunya bukan pada tempatnya. Atau bahkan tak punya rasa malu.. sederhana saja…
Saat ini merupakan menit dari kesekian detik dalam hidupku dipenghujung minggu malam di akhir bulan maret. Ah, tidak terasa bulan April akan segera tiba. Semoooooga ia datang dengan segudang kabar gembira lengkap dengan semangatnya. Rasanya ini pernah terjadi di tahun kemarin dan aku ingat dengan pasti aku menyebut beberapa nama bulan diawal tahun 2013 yang ceritanya sempat kuabadikan di akun wordpreesku. Waktu itu merupakan saat terberatku tahun lalu. Aku berhasil melewatinya, jadi apa yang harus membuatku mengeluh ditahun ini.. bukakah aku harus lebh kuat lagi? Yah, ceritanya sudah mulai keluar jalur J
Dipenghujung malam yang damai ini, aku sedikit ingin bercerita mengenai sesuatu yang beberapa hari ini mengusik kedamaianku.. oh, bukan. Ini mengenai statement dari dosen yang di kagumi oleh banyak mahasiswa di jurusanku namun biasa saja bagiku. Cantik memang, modis, mapan dari segi finansial dan pendidikan yang tinggi. Paket lengkap bukan?  Namun sayangnya pemikirannya terlalu “sekuler”. Rata-rata dosen dikampus saya memang sekuler maka jangan heran jika mahasiswanya pun sama, tukang kebun, pekerja dikantin mungkin juga dan lembaga kemahasiswaannya pun asli sekulernya. Namun rasanya enggan untuk mencap kampus tersebut sebagai kampus sekuler karena masih ada saya dan teman seperjuangan yang tergabung dalam sebuah lembaga yang insya allah tidak sekuler dan tengah berusaha menghancurkan pemikiran mereka yang mendewakan sekulerisme.
            Beliau berkata bahwa kita sebagai umat islam seharusnya berpedoman pada alquran, jadi apabila ada seseorang yang mengaku beragama islam namun bertindak/ berbuat yang tidak sesuai dengan ini alquran maka ia termasuk musyrik, itu sedikit menggelikan menurutku. Bagaimana tidak statement yang luar biasa benarnya namun beliau sendiri secara tidak langsung menunjuk dirinya yang tidak mengenakan pakaian yang syar’i yakni tidak sesuai dengan apa yang dikabarkan dalam alqur’an.  Ini hanya sedikit gambarannya.. selama ia mengajar dikelas saya banyak yang bisa kusimpulkan sehingga saya berani menuliskan tentangnya. Biar bagaimanapun terima kasih telah menjadi inspirasi menulisku… hehehhe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar