Tempatkan
rasa “Malu” pada tempatnya, seperti sampah yang harus dibuang pada tempatnya.
Saya yakin sepenuhnya bahwa orang yang sering membuang sampah bukan pada
tempatnya sejatinya seringkali menempatkan rasa malunya bukan pada tempatnya
dan sebaliknya. Ini tentang sampah dan malu. Seharusnya rasa malu dimiliki
seseorang jika tak membuang sampah pada tempatnya, namun jika yang bersangkutan tidak merasa malu dengan
tindakannya itu maka dapat disimpulkan bahwa orang tersebut secara tidak
langsung berhasil pula menempatkan rasa malunya bukan pada tempatnya. Atau
bahkan tak punya rasa malu.. sederhana saja…
Saat ini
merupakan menit dari kesekian detik dalam hidupku dipenghujung minggu malam di
akhir bulan maret. Ah, tidak terasa bulan April akan segera tiba. Semoooooga ia
datang dengan segudang kabar gembira lengkap dengan semangatnya. Rasanya ini
pernah terjadi di tahun kemarin dan aku ingat dengan pasti aku menyebut
beberapa nama bulan diawal tahun 2013 yang ceritanya sempat kuabadikan di akun
wordpreesku. Waktu itu merupakan saat terberatku tahun lalu. Aku berhasil
melewatinya, jadi apa yang harus membuatku mengeluh ditahun ini.. bukakah aku
harus lebh kuat lagi? Yah, ceritanya sudah mulai keluar jalur J
Dipenghujung
malam yang damai ini, aku sedikit ingin bercerita mengenai sesuatu yang
beberapa hari ini mengusik kedamaianku.. oh, bukan. Ini mengenai statement dari
dosen yang di kagumi oleh banyak mahasiswa di jurusanku namun biasa saja
bagiku. Cantik memang, modis, mapan dari segi finansial dan pendidikan yang tinggi.
Paket lengkap bukan? Namun sayangnya
pemikirannya terlalu “sekuler”. Rata-rata dosen dikampus saya memang sekuler
maka jangan heran jika mahasiswanya pun sama, tukang kebun, pekerja dikantin
mungkin juga dan lembaga kemahasiswaannya pun asli sekulernya. Namun rasanya
enggan untuk mencap kampus tersebut sebagai kampus sekuler karena masih ada
saya dan teman seperjuangan yang tergabung dalam sebuah lembaga yang insya
allah tidak sekuler dan tengah berusaha menghancurkan pemikiran mereka yang
mendewakan sekulerisme.
Beliau berkata bahwa kita sebagai
umat islam seharusnya berpedoman pada alquran, jadi apabila ada seseorang yang
mengaku beragama islam namun bertindak/ berbuat yang tidak sesuai dengan ini
alquran maka ia termasuk musyrik, itu sedikit menggelikan menurutku. Bagaimana
tidak statement yang luar biasa benarnya namun beliau sendiri secara tidak
langsung menunjuk dirinya yang tidak mengenakan pakaian yang syar’i yakni tidak
sesuai dengan apa yang dikabarkan dalam alqur’an. Ini hanya sedikit gambarannya.. selama ia
mengajar dikelas saya banyak yang bisa kusimpulkan sehingga saya berani
menuliskan tentangnya. Biar bagaimanapun terima kasih telah menjadi inspirasi
menulisku… hehehhe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar