Sabtu, 05 April 2014

MODEL-MODEL MENGAJAR ( TEACHING MODELS ) (VERSI BRUCE JOICE DAN MARSYA WEIL)



A.  Pengertian dan Rumpun/Jenis Model Pembelajaran
Secara umum, istilah model pembelajaran diartikan sebagai penyederhanaan atau simplikasi dari sejunlah aspek dunia nyata sehingga dapat dikatakan bahwa model tidak lain dari pola/bentuk yang mewakili dunia nyata secara benar dan tepat. Sedangkan secara khusus, istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan dalam melakukan sesuatu kegiatan.
Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes keterpakaianannya oleh para pakar dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, Joyce dan Weil mengintrodusir 21 jenis model pembelajaran yang masing-masing memiliki karakteristi tersendiri dan membedakannya dari model pembelajaran yang lain. Berdasarkan karakteristik tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasikan model-model pembelajaran ke dalam empat rumpun model, yaitu:

1.      Rumpun Model-model Pengolahan Informasi (The Informatian Processing Models)
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongan-dorongan internal (dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data , merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan keluarnya serta mengembangkan bahsa untuk mengungkapkannya. Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat tujuh model pembelajaran, yaitu:
a.       Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
b.      Berfikir Induktif (Inductive Thinking)
c.       Latihan Penelitian (Inquiry Training)
d.      Pemandu Awal (Advance Organizer)
e.       Memorisasi (Memorization)
f.       Pengembangan Intelek (Developing Intelect)
g.      Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)
2.      Rumpun Model-model Personal (Personal Models)
      Penggunaan model-model pembelajaran dalam rumpun ini lebih memusatka perhatian kepada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan perhatian kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi semakinnsadar diri dan bertanggung jawab atas tujuan hidupnya. Dalam rumpun ini terdapat 4 model pembelajaran, yaitu:
a.        pengajaran tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
b.      Model Sinetik (Synetic Model)
c.       Latihan Kesadaran (Awareness Training)
d.      Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)

3.      Rumpun Model-model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model-model interaksi sosial ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan kerjasama dari para siswa. Dalam rumpun model-model interaksi sosial ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu:
a.       Investigasi Kelompok (Group Investigation)
b.      Bermain Peran (Role Playing)
c.       Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry)
d.      Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
e.       Penelitian ilmu Sosial (Social Science Inquiry)
4.      Rumpun Model-model Sistem perilaku (Behavioral System)
Rumpun model-model ini mementingkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatanmtingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk  polatingkah laku yang dikehendaki. Model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi serta metode dan tugas yng diberikan dalam rangka mengkomunikasikan keberhasilan. Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu:
a.       Belajar tuntas (Mastery learning)
b.      Belajar langsung (Direct Instruction)
c.       Belajar kontrol diri (Learning self control)
d.      Belajar melalui simulasi: Latihan Keterampilan dan Pengembangan Konsep (Training for Skill and Concept Development).
B. Unsur-unsur Model Pembelajaran
            Keempat rumpun model pembelajaran yang talah dikemukakan di atas, menurut Joyce dan Weil (1986:16-19) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1.      Sintaks (sintax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada fase-fase/tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model pembelajaran tertentu. Misalnya model deduktif akan mengunakan sintaks yang berbeda dengan model induktif.
2.      Sistem Sosial (The social system) adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran (situasi atau susana dan norma yang berlaku dalam penggunaan model pembelajaran tertentu). Pada garis besarnya terdapat tiga pola system sosial yang berlaku dalam model pembelajaran, yaitu:  (i) sistem sosial terstruktur secara ketat dalam arti guru yang sangat dominan mengatur struktur pembelajaran, (ii) sistem sosial dengan struktur yang moderat  dalam arti guru dan siswa berperan secara seimbang dalam mengatur struktur pembelajaran, (iii) sistem sosial dengan struktur yang longgar/rendah, dalam arti siwa diberi kewenangan yang besar untuk mengatur dan menentukan struktur pembelajaran.
3.      Prinsip Reaksi (Principles of Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang  menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap model.
4.      Sistem Pendukung (Support System) adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan perkataan lain segala fasilitas, sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran secara optimal.
5.      Dampak Instruksional (Instruksional Effect) dan dampak pengiring (Nurturant Effect). Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan  langsung dengan materi pembelajaran, sementara dampak pengiring adalah hasil belajar sampingan (iringan) yang dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran tertentu.
C. Profil Sepuluh Model Pembelajaran Pilihan
Dari ke sepuluh model pembelajaran pilihan terdapat tiga model dalam rumpun model pemrosesan informasi, dua model dalam rumpun model personal, tiga model dalam rumpun model interaksi sosial,dan dua model dalam rumpun model  sistem perilaku. Profil dari tujuh model pembelajaran pilihan tersebut, mencakup (i) Pengertian dan rasional, (ii) Sintaks,(iii) Sistem sosial, (iv) Prinsip reaksi,(v) Sistem pendukung, dan (vi) Dampak instruksional dan dampak pengiring dari masing-masing model.
1.        Model Pencapaian Konsep (Concept attainment)
a.      Pengertian dan Rasioanal
Model pencapaian konsep merupakan pola pembelajaran yang di rancang untuk memperoleh konsep melalui suatu proses yang berorientasi pada (1) menerima konsep yang diawali dengan guru mengajukan contoh-contoh (eksemplar) dari konsep yang akan diajarkan, (2) mempertimbangkan dan memilih konsep dalam hal mana siswa mengidentifikasi, mengajukan hipotesis, menganalisis dan membandingkan ciri (atribut)esensial dan yang tidak esensial dari contoh-contoh yang diajukan guru tersebut dan (3) diakhiri dengan kesimpulan tentang nama dari konsep tersebut.
            Setiap konsep, menurut Joyce dan Weil (1986) memiliki empat elemen yaitu: nama, contoh (eksamplar), ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial dan nilai dari ciri-ciri tersebut.
Memahami konsep sebagai tujuan dari model pencapaian konsep tersebut mengandung arti bahwa siswa dapat membedakan atribut  esensial dari atribut yang non esensial dari konsep tersebut.
            Model ini menurut Joyce dan Weil (1986) dikembangkan dari karya Jerome Brunner, Jacquiline Goodnow, dan George Austin yang berjudul A study of Thinking. Model ini dilandasi bahwa lingkungan dimana kita hidup berisi aneka ragam objek dan kita sebagai manusia harus mampu membeda-bedakan obyek-obyek dengan aspek-aspeknya.
b.      Sintaks
Sintaks dari model pencapaian konsep menurut Joyce dan Weil (1986:34-36) pada garis besarnya terdiri atas tiga tahap kegiatan, yaitu (1) tahap pertama : penyajian data dan identifikasi konsep, mencakup kegiatan-kegiatan (i) guru menyajikan contoh yang diberi label, (ii) masing-masing siswa membuat dan mengetes hipotesis, (iv) siswa membuat defenisi tentang konsep atas ciri esensialnya, (2) Tahap kedua : Mengetes pencapaian konsep, yang mencakup kegiatan-kegiatan (i) siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label dengan menyatakan ya atau bukan, (ii) guru menegaskan hipotesis, nama konsep dan menyatakan kembali defenisi konsep sesuai dengan ciri- ciri yang esensial, dan (3) Tahap ketiga : Menganalisis strategi berfikir, yang mencakup kegiatan-kegiatan (i)siswa mengungkapkan pemikirannya, (ii) siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep, (iii)siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis.
c.       Sistem Sosial Model Pencapaian konsep
Model ini memiliki struktur yang moderat dalam arti guru melakukan pengendalian  terhadap aktivitas pembelajaran, tetapi dapat di kembangkan menjadi kegiatan dialog bebas dan terbuka. Interaksi antar siswa digalakkan oleh guru.
d.      Prinsip Reaksi
Pada model ini perilaku yang seharusnya di tampilkan oleh guru dalam merespon perilaku siswa adalah (i) memberikan dukungan dengan menitik beratkan pada sifat hipotesis dan diskusi-diskusi yang berlangsung, (ii) memberikan bantuan kepada para siswa dalam mempertimbangkan hipotesis yang satu dari hipotesis lainnya, misalnya melalui penggunaan pertanyaan penuntun dan pelacak, (iii) mendorong siswa untuk memusatkan perhatiannya terhadap contoh-contoh yang spesifik, dan (iv) memberikan bantuan kepada siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai.
e.       Sistem Pendukung
Penerapan model ini membutuhkan sarana pendukung berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unik-unik yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Bila para siswa sudah dapat berfikir semakin kompleks, mereka akan dapat bertukar pikiran dan bekerja sama dalam membuat unit-unit data, seperti yang dilakukan dalam tahap dua saat mencari conto-contoh yang lain.
f.       Dampak instruksional dan pengiring
Penerapan model pemerolehan konsep ini dalam pembelajaran, memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring yang diadaptasi dari Joyce dan Weil (1986:39). Model pencapaian konsep dampak instruksional melalui Hakikat konsep, Strategi pembentukan, konsep-konsep, penalaran induksi. Model pencapaian konsep dampak pengiring melalui kesadaran akan pilihan pandangan, toleransi terhadap ketidak tentuan dengan apresiasi terhadap logika, kepekaan terhadap penalaran logis dalam komunikasi.
2.        Model berpikir Induktif (Inductive Thinking)
a.      Pengertian dan Rasional
Model berpikir induktif adalah pola pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif dan ilmiah. Model berpikir ini sangat penting sebagai solusi pemecahan masalah.


b.      Sintaks
Sintaks dari model berpikir induktif menurut Joyce dan Weil (1986:44-47) pada garis besarnya terdiri atas tiga tahap, diantaranya
1)      Tahap pertama : Pembentukan pengertian yang mencakup 3 langkah, yaitu :
a)      Mengenalkan masalah dan menguraikan masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
b)      Mengelompokkan fakta-fakta serupa menjadi suatu kumpulan
c)      Menentukan susunan fakta tersebut secara hierarkhi
2)      Tahap kedua : Interpretasi data, yang mencakup 3 langkah, yaitu :
a)      Mengenal rincian fakta dan hubungannya satu sama lain
b)      Menentukan hubungan sebab akibat
c)      Menarik kesimpulan
3)      Tahap ketiga : Penerapan prinsip, yang mencakup 3 langkah yaitu :
a)      Membuat perkiraan atau hipotesis dan meramalkan akibat-akibat
b)      Menerangkan hal-hal yang ada hubungannya dengan dukungan pada perkiraan atau hipotesis dan ramalan
c)      Memeriksa ramalan
c.       Sistem Sosial
Model berpikir Induktif memiliki system social yang cenderung moderat dan bersifat kooperatif. Pada awal proses pembelajaran, guru mengemukakan masalah, kemudian dalam proses (kegiatan) pembelajaran selanjutnya siswa dituntut untuk terlibat secara aktif, dibawah bimbingan dan pengarahan guru.
d.      Prinsip Reaksi
Prinsip Reaksi pada model ini adalah sebagai fasilitator dan monitor pembelajaran. Dalam posisi ini, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan penuntun dan pengarah untuk membimbing dan mengarahkan siswa melakukan proses penalaran langka demi langkah.
e.       Sistem Pendukung
Penerapan model induktif membutuhkan dukungan system penunjang berupa penyediaan sumber dan kesediaan guru memberikan kemudahan untuk belajar.
f.       Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Instruksional :
1)      Proses pembentukan pengertian
2)      Pengertian-pengertian khusus
Dampak pengiring :
1)      Perhatian pada aturan berpikir dan logika
2)      Kecermatan dan kepekaan bahasa
3. Model Pemandu Awal (Advanced Organizer)
a.      Pengertian dan Rasional
Model pemandu awal adalah pola pembelajaran yang didesain untuk mewujudkan pembelajaran menjadi lebih bermakna melalui organisator tertinggi bersifat utuh dan komprehensip dari suatu materi yang diajarkan.
b.      Sintaks
Sintaks dari model pemandu awal pada garis besarnya terdiri dari 3 tahap,  yaitu
1.      Presentasi pemandu awal yang mencakup langkah-langkah
a)      Menjelaskan tujuan pembelajaran
b)      Menyajikan hal-hal/bahan yang berkaitan dengan pemandu awal
c)      Mendorong siswa untuk menyadari pengetahuan dan pengalaman awal yang relevan dan organizer
2.      Presentasi tentang tugas belajar atau bahan pengajaran yang mencakup langkah-langkah
a)      Menyajikan bahan pengajaran
b)      Memelihara perhatian
c)      Membuat organisasi atau menyusun bahan pengajaran(yang disajikan)secara logis dan menjadi jelas bagi siswa sehingga mereka memahami arah secara keseluruhan
3.      Memperkuat Organisasi berpikir
a)      Menggunakan prinsip-prinsip penyatuan rekonsiliasi
b)      Mendorong siswa menerima bahan secara aktif
c)      Mendorong siswa untuk kritis dalam menerima bahan
d)     Meminta siswa untuk memberikan penjelasan lebih lanjut

c.       Sistem Sosial
Pada model ini guru senantiasa mengontrol struktur intelektual yaitu, secara kesinambungan menghubungkan materi berlajar dengan organizer/pemandu awalnya, membantu siswa membedakan materi baru dari materi yang dipelajari sebelumnya.
d.      Prinsip Reaksi
Cara guru mereaksi prilaku siswa pada model ini ditentukan oleh jelas tidaknya keberartian dan kebermaknaan materi baru yang diajarkan itu.
e.       Sistem pendukung
Penerapan model pemandu awal ini sangat membutuhkan dukungan/ketersediaan materi pembelajaran yang diorganisir dengan baik

f.       Dampak instruksional dan dampak pengiring
Dampak instruksional : Struktur (susunan), Konsep(pengertian)
Dampak pengiring       : Minat terhadap penelitian dan kebiasaan berpikir tepat.
4.        Model Sinektiks (Synectics)
a.      Pengertian dan rasional
Model sinektiks adalah pola pembelajaran yang didesain untuk melatih siswa mengembangkan keterampilan memecahkan masalah secara kreatif, kreativitas pribadi dan rasa simpati serta kemampuan membuat tilikan dalam hubungan sosial.
b.      Sintaks
Sintaks dari model senektiks terdiri atas beberapa tahap yaitu:
1.      Deskripsi kondisi saat ini dimana guru meminta siswa untuk mendeskripsikan sesuatu yang mereka amati saat ini
2.      Analogi langsung yaitu guru meminta siswa mengemukakan berbagai analogi  atau pengandaian , kemudian memilih salahsatu diantaranya untuk diekplorasi lebih jauh
3.      Analogi personal
4.      Konflik yang dipadatkan
5.      Analogi langsung
6.      Pengujian kembali tugas awal
c.       Sistem Sosial
Sistem sosial dalam model ini tergolong struktur sedang dimana guru mengambil inisiatif menetapkan urutan pelajaran dan membimbing mekanisme intraksi belajar.
d.      Prinsip Reaksi
Dalam mereaksi prilaku siswa, bentuk-bentuk prilaku yang diperankan oleh guru dalam model ini adalah mencatat seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh berpikir yang regular dan ia mencoba menciptakan suasan psikologisnyang dapat membangkitkan respon, memusatkan perhatian pada pola penalaran siswa yang tampak kaku atau tetap tidak berubah.
e.       Sistem Pendukung
Penerapan model sinektiks dalam proses pembelajaran membutuhkan sistem pendukung berupa kehadiran guru, alat dan bahan serta kelas.
f.       Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Instruksional : Kapasitas kreatif umum, dan kapasitas kreatif dalam bidang khusus. Dampak Pengiring : Pencapaian belajar dalam bidang studi, keutuhan dan produktivitas kelompok
5.  Model Pertemuan Kelas (The Classroom Meeting)
     a. Pengertian dan Rasional
Pertemuan kelas adalah pola pembelajaran yang di rancang unuk mengembangkan (i)pemahaman diri sendiri, dan (ii) rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Model in di kembangkan oleh William Glasser dengan teorinya yang di sebut reality therapy.
b. Sintaks
Sintaks odel pertemuan kelas terdiri atas 6 tahap, yaitu (1) Tahap satu: Menciptakan suasana (yang hangat, personal, dan bersahabat) yang memungkinkan keterlibatan siswa secara aktif, melalui kegiatan-kegiatan (i) meminta siswa untuk menyatakan keinginanya atau menyatakan bagaimana yang baik baginya, (ii) bertukar pendapat tanpa saling menyalahkaan; (2) Tahap dua: Mengemukakan permasalahan yang akan di diskusikan, dengan cara/upaya (i) guru meminta siswa atau guru sendiri yang mengemukakan masalah, (ii) guru atau siswa mengemukakan contoh peristiwa, (4) Tahap empat: Mengidentifikasi alternatif tindakan yang dapat di lakukan , yang mencakup kegiatan/langkah (i) siswa mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku , (ii) siswa menyepakati pilihan perilaku tersebut; (5) Tahap lima: Membuat komitmen dalam arti siswa membuat komitmen yang bersifat umum; dan (6) Tahap enam: Tindak lanjut perilaku. Setalah periode terentu, siswa menguji efektifitas dari komitmen dan perilaku sosial tersebut.
c. Sistem Sosial
Sistem sosial dari model pertemuan kelas brstuktur moderat (sedang). Kepemimpinan dalam arti tanggung jawab untuk membimbing proses interaksi pada setiap tahap terletak di tangan guru. Di sisi lain, para para siswa juga  tapi di harapkan dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi. Dan yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa keputusan moral  terletak di tangan siswa.
d. Prinsip Reaksi
Pola reaksi yang seyogianya di perankan oleh guru dalam model ini di biming oleh tiga prinsip, yaitu (i) melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat, personal , menarik dan hubungan yang peka antara guru dengan siswa; (ii)dengan melalui sikap tidak menentukan, guru har us dapat menerima tanggung jawab untuk mendiagnosis perilaku siswa, dan (iii) kelas sebagai suatu kesatuan, memilih dan mengikuti alternatif perilaku yang ada.
e.       Sistem Pendukung
Penerapan model pertemuan kelas ini membutuhkan dukungan berupa (i) guru yang memiliki kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpesonal dan diskusi kelompok, (ii) memiliki kemampuan untuk menciptakan iklim kelas yang terbuka yang tidak bersifat defensif, (iii) memiliki kemampuan membimbing kelompok menuju penilaian perilaku, komitmen dan tindak lanjut dari perilaku tersebut.   
f.        Dampak Intruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Intruksional : Kemandirian dan pengarahan diri dan pencapaian tujuan evaluasi. Dampak Pengiring : Keterbukaan dan keutuhan
6. Model Instevigasi Kelompok (Group Investigasion)
a.      Pengertian dan Rasional
Model investigasi kelompok adalah pola belajar mengajar yang di rancang untuk mengembangkan keterampilan berpartisipasi secara demokratis dan memecahkan masalah secara ilmiah. Model ini juga mengembangkan pengertian tentang kesederajat manusia. John Dewey dalam Joyce dan Weil (1986 : 227) mengemukakan bahwa keseluruhan kehidupan sekolah seyogianya di tata dan di organisir sebagai bentuk keil atau miniatur dari kehidupan demokrasi. Siswa seharusnya berpartisipasi dalam membangun sistem sosial melalui pengalaman dan secara berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Aspek ini menurut Dewey, merupakan persiapan yang terbaik bagi warga negara dalam hal demokrasi.
b.      Sintaks
Tahapan (langkah-langkah) dari model ini terdiri atas enam tahapan, yaitu : (1) Tahap satu: siswa di perhadapkan pada situasi problematis (teka-teki); (2) Tahap dua: Siswa mengeksplor reaksi terhadap situasi; (3) Tahap tiga siswa memformulasikan tugas belajar  tugas belajar dan mengorganisir aspek-aspek yang berkaitan dengannya, seperti rumusan masalah, peranan tugas-tugas dan sebagainya; (4) Tahap empat:  Siswa melakukan kegiatan penyelidikan secara perorangan ataupun klompok; (5) Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang di lakukan dalam kegiatan penyelidikan; dan (6) Tahap enam: Siswa melakukan pengulangan kegiatan (recycle actvity).
c.       Sistem Sosial
Sistem sosial model ini bersifat demokratis yang di tandai oleh keputusan-keputusan yang di kembangkan dari atau setidaknya di perkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi  titik sentral kegiatan belajar. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin dapat bertolak dari pengarahan  minimal dari guru.
d.      Prinsip Reaksi
Dalam hal cara guru mereaksi terhadap perilaku siswa, pada model ini guru lebih memerankan dirinya sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat. Sehubungan dengan itu guru seyogianya membimbing dan mengarahkan kegiatan kelompok dalam hal: (i) pemecahan masalah (ii) pengelolaan kelas dan permaknaan secara perseorangan.
e.       Sistem Pendukung
Implementasi model ini membutuhkan sistem pendukung berupa segala sesuatu yang erkaitan dengan kebutuhan siswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan di perlukan untuk proses pemecahan masalah, seperti perpustakakaan yang memiliki fasilitas yang memadai. Jika di mungkinkan akan lebih baik jika memanfaatkan sumber-sumber belajar di luar lingkungan sekolah.
f.       Dampak instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Intruksional : Pandangan Konstruktifitis tentang Pengetahuan, Penelitian yang Berdisiplin, Proses dan Keteraturan Kelompok yang  Efektif dan dampak pengiring : Menghormati Hak Asasi Manusia dan Komitmen terhadap Keanekaragaman, Kemerdekaan sebagai Pelajar, Komitmen terhadap Penelitian Sosial, dan Kehangatan dan Keterikatan Antar  Manusia
7. Model Penyelidikan Yurisprudensial (Jurispruential Inquiry)
a.      Pengertian dan Rasional
Model penyelidikan yuriprudensial merupakan pola pembelajaran yang di desain untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah nilai/hukum yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Secara esensial model ini merupakan pendidikan kewarganegaraan tingkat tinggi.
b.      Sintaks
Sintaks dari model penyelidikan yurisprudensial ini terdiri atas enam tahap, yaitu (1) Tahap satu: orientasi terhadap kasus yang mencakup (i) guru memperkenalkan bahan pengajaran, dan (ii) guru mereview data/fakta; (2) Tahap dua; mengidentifikasi isi atau kasus yang mencakup (i) siswa mengsitesiskan fakta-fakta ke dalam isu yang dihadapi, (ii) siswa memilih salah satu isu kebijaksanaan pemerintah untuk di diskusikan (3) Tahap tiga: menetapkan posisi dalam arti siwa mengartikulasikan posisi atau kedudukannya, kemudian siswa kemudian siswa menyatakan basis kedudukannya dalam hubungan dengan nilai sosial atau konsekuensi dari keputusan; (4) Tahap empat: mengeksplorasi pendirian (sikap mental), pola argumentasi, yang mencakup (i) menetapkan titik di mana terlihat adanya perusakan nilai atas dasar data yang di peroleh, (ii) membuktikan konsekuensi yang di inginkan dan yang tidak di inginkan dari posisi yang di pilih, (5) Tahap lima: menyaring dan menguji posisi, yang mencakup (i) siswa menyatakan posisi dan memberikan rasional mengenai posisinya tersebut, dan kemudian menguji situasi yang serupa, (ii) siswa meluruskan posisinya, dan (6) Tahap enam: mangetes asumsi faktual yang melatar belakangi posisi yang memenuhi syarat, yang mencakup (i) mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai tidaknya, dan (ii) menetapkan konsekuesi yang di perkirakan dan menguji kesahihan faktual darikonsekuensi itu.
c.       Sistem Sosial
Struktur dari model ini bervariasi dari struktur ketat sampai ke struktur rendah. Secara umum, guru menginisiasi atau mulai membuka tahapan dan selanjutnya bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya dengan catatan bahwa hal ini juga tergantung pada kemampuan siswa untuk menyalesaikan tugas belajarnya untuk setiap tahapan.
d.      Prinsip Reaksi
Reaksi guru, khususnya pada tahap empat dan lima tidak bersifat evaluatif dalam arti menyatakan setuju atau tidak setuju. Apa yang di lakukan oleh guru hanyalah berupa reaksi terhadap komentar siswa dengan cara memberikan pertanyaan yang relevan, konsisten, khusus atau umum dan mengklarifikasi secaa definisi.
e.       Sistem Pendukung
Implementasi model ini membutuhkan dukungan dukungan sarana/fasilitas yang berupa dokumen-dokumen yang relevan dengan masalah. Sehubungan dengan itu, seyogianya di sediakan sumber-sumber yang di publikasikan secara resmi  yang menyangkut kasus-kasus yang aktual.
f.       Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Intruksional : Kerangka untuk Menganalisis Ilmu-ilmu Sosial, Kemampuan Mengasumsikan Peranan Orang Lain, Kemampuan dalam Berdialog dan Dampak pengiring : Empathy/Pluralisme, Kemampuan untuk Berpartisipasi dan Kesediaan untuk Melakukan Tindakan Sosial, Fakta tentang Masalah Sosial.
8. Model Penelitian ilmu social (social science inquiry)
a.      Pengertian Dan Rasional
            Model penelitian ilmu sosial adalah pola belajar-mengajar yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dengan menggunakan penalaran logis berdasarkan penelitian ilmiah. Model ini juga mengembankan penertian tentang kesederajatan manusia dalam kehidupan.
b.      Sintaks
      Sintaks dari model penelitian ilmu sosial terdiri atas 6 tahap yaitu:
1.      Tahap satu : menyakinkan dan mengklasifikasi situasi yang mengandung teka-teki berkaitan dengan kenyataan sosial yang mungkin timbul dari ; kenyataan mutakhir , bahan bacaan , konflik di kelas ataupun dari berbagai sumber.
2.      Tahap dua :pengembangan hipotesis sebagai dasar dalam melakukan penelitian dan pemecahan masalah
3.      Tahap tiga : mendefenisikan dan menjelaskan hipotesis
4.      Tahap empat: mengeksplorasi hipotesis yang berkaitan dengan asumsi, implikasi,dan validitas logika.
5.      Tahap lima: mengumpulkan data dan bukti-bukti untuk mendukung hipotesis
6.      Tahap enam : merumuskan generelisasi  berupa pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa konsep yang ada kaitannya degan hipotesis.
c.       Sistem Sosial
            Pola hubungan guru siswa dalam medel ini terstruktur sedang (moderat). Guru mengambil inisiatif untuk memandu siswa dalam setiap tahap penelitian. Siswa disisi lain melakukan proses penelitian dan hal ini sangat bergantung pada kemampuan menelitih yang dimiliki oleh siswa. Siswa juga harus memilkul tanggung jawab untuk mengikuti proses dari tahap 1 sampai terakhir .


d.      Prinsip Reaksi
            pola perilku guru dalam merespon perilaku siswa lebih merefleksikan fungsi guru sebagai konselor. Dalam keseluruhan tahap ,guru berfungsi membantu para siswa untuk menjernihkan kedudukannya, memperbaiki proses belajar, membuat dan melaksanakan rencana. 
e.       Sistem Pendukung
            penerapan model penelitian ilmu sosial ini membutuhkan sistem pendukung berupa :
1.      Guru yang menyadari pentingnya penelitian yang dapat mengembangkan suasana yang luwes dalam penyelesaian masalah
2.      Perpustakaan yang memiliki perlengkapan dan fasilitas yang memadai
3.      Sumber-sumber disekitar sekolah , seperti perpustakaan, pasar, toko, kantor pos, museum, tempat-tempat peninggalan sejarah, dan sebagainya.
f.       Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
            penerapan model penelitian ilmu sosial dalam proses pembelajaran memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak intruksional : Penjajahan terhadap masalah-masalah sosial, Komitmen terhadap peningkatan kualitas warga Negara.  Dampak pengiring  :penghargaan terhadap azas manusia, tindakan sosial dan toleransi dalam berdialog.

9. Model Kontrol Diri
a.      Pengertian dan rasional
Model kontrol diri adalah pola pembelajaran yang di rancang untuk melatih siswa :
1.      Menegenal prinsip-prinsip prilaku
2.      Melakukan pengontrolan diri sendiri untuk berprilaku yang baik
Hubungan antara stimulus dengan respon yang disebut sebagai operants response atau operant behavior , adalah respon yang ditimbulkan oleh berbagai jenis stimulus yang bersumber dari linkungan, dengan kata lain individu(organism) berbuat terhadap lingkungan. 
b.      Sintaks
Sintaks dari model ini terdiri atas 4 tahap yaitu : tahap
1.      Memperkenalkan prinsip-prinsip prilaku yang  mencakup : (i) menkomunikasikan bahwa control diri merupakan fungsi dari lingkungan, (ii) menjelaskan prinsip-prinsip kontrol diri yang bersifat spesifik , dan (iii)membangun kesadaran untuk berpartisipasi .
2.      Membangun basis ( garis besar ) prilaku, yang mencakup (i) mensfesifikasikan secara jelas target prilaku yang akan dicapai, (ii) memutuskan prosedur pengukuran dan skedul, (iii) menyelenggarakan pengukuran, mencatat stimulus, kontrol, menguatkan konsekuensi
3.      Menetukan program kontrol diri, yang mencakp (i) membuat keputusan berkenaan dengan stimulus, dan menguatkan, (ii) menentukan tujuan jangka pendek dan jangka panjang, membuat program tertulis, dan menyepakati pertemuan dan waktu yang direviu, dan
4.      Memantau dan memodifikasi program yang mencakup atas, (i) siswa memulai program kontrol diri, melakukan pertemuan priodikc ntar siswa dengan guru untuk melihat kemajuan dan memodifikasi program jika di perlukan.
c.       Sistem Sosial.
           Pola hubungan guru siswa pada model ini tergolong moderat-ke-rendah. Meskipun perananan guru dalam menginiasi program tergolong penting, dipihak lain para siswa memiliki kewenangan melakukan kontrol dalam segala situasi dan pengelolahan aktifitas. Bahkan, segala aspek dari program kontrol diri dinegosisaikan dengan siswa.
d.      Prinsip Reaksi
          Guru memiliki peranan yang amat penting dalam menentukan keberhasilan program kontrol diri. Sehubungan dengan itu, pola prilaku guru dalam mereaksi perilaku siswa adalah:
1.      Memberanikan siswa untuk melakukan kontrol diri sendiri
2.      Mengingatkan siswa bahwa lingkungan sekitar pada umumnya tidak melakukan oengawasan sosial dalam arti mendorong siswa berperilaku baik sesuai degan harapan sekolah
3.      Pada awalnya guru bertindak sebagai penguat perilaku siswa, kemudian selanjutnya menyerahkan fungsi penguat kepada siswa sendiri
4.      Menjelaskan pentingnya bimbingan intelektual untuk melaksanakan prilaku yang baik dalam kehidupan
e.       Sistem pendukung
           Penerapan model kontrol diri pada dasarnya tidak memiliki sistem pendukung   khusus berupa saran dan fasilitas. Namun untuk keberhasilan model ini membutuhkan dukungan berupa :
1.      Guru yang memberanikan siswa untuk melakukan kontrol diri atas perilakunya sendiri
2.      Siswa memiliki keberanian untuk melakukan kontrol diri sendiri dan sekaligus memiliki keberanian untuk melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan selanjutnya melakukan perbakan terhadap prilakunya.
f.        Dampak Instruksional dan Dampak  Pengiring
           Penerapan model kontrol diri dalam proses pembelajaran memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak intruksional : meningkatkan perilaku yang ditargetkan dan mengurangi perilaku tidak baik, metode untuk mengontrol diri dan pandangan tentang perilaku yang baik. Dampak pengiring : rasa mampu melakukan control diri dan lingkungan,  perolehan harga diri dan kepercayaan diri.
10.  Model Belajar Simulasi
a.      Pengertian dan Rasional
            Sebagai model pembelajaran , simulasi merupakan penerapan dari prinsip sibernetika (cybernetics) dalam dunia pendidikan. Model simulasi diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan yang dianalogikan dengan proses sibernetika itu. Proses simulasi ini dirancang agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja dikontrol.
b.      sintaks
                Sintaks dari model pembelajaran simulasi terdiri atas  4 tahap yaitu :
1.      Orientasi yang mencakup :
(i)                 menyajikan topic yang luas dari simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegralkan ke dalam proses simulasi,
(ii)               menjelaskan simulasi dan permainan,
(iii)             memberikan gambaran teknis secara umum tentang simoba seculasi,
2.      Latihan bagi simulator, yang mencakup :
(i)  membuat scenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan yang harus dibuat dan tujuan yang akan dicapai ,
(ii)                Menetapkan peran dari simulator (pemeran),
(iii)              Mencoba secara singkat suatu episode
3.      Pelaksanaan proses simulasi, yang mencakup :
(i) Melaksanakan aktifitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut
(ii)               Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap penampilan simulator
(iii)             Menjernihkan hal-hal yang mengkonsepsi
(iv)             Melanjutkan permainan simulasi
4.      Debriefing simulator (partisipan) terhadap sebagian dan keseluruhan dari kegiatan berikut:
(i) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan presepsi yang timbul selama simulasi
(ii)               Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan peserta
c.       Sistem Sosial
            sistem sosial (pola hubungan guru siswa ) dalam modul simulasi ini struktur ketat dan kaku (rigorous). Didalam simulasi, guru harus secara sengaja memilih jenis kegiatan dan mengatur siswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan proses simulasi.
d.      Prinsip Reaksi
            Secara umum pola perilaku guru dalam mereaksi perilaku siswa diwarnai oleh peranan guru sebagai pasilitator yang member kemudahan. Dalam keseluruhan proses simulasi, guru bertugas dan bertanggung jawab atas terpeliharnya suasana belajar dengan cara menunjukkan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak evaluative (bersifat menilai) dalam hal ini, guru bertugas untuk lebih dahulu mendorong pengertian dan penafsiran para siswa terhadap isi dan makna dari simulasi.

e.        Sistem Pendukung
            penerapan model simulasi dalam proses pembelajaran membutuhkan sistem pendukung berupa sarana atau alat mulai dari yang sederhana dan murah sampai yang kompleks dan mahal. kata kuncinya adalah yang relevan (sesuai) dengan materi, proses, sifat dan tujuan simulasi.
f.    Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
            Penerapan model belajar simulasi dalam proses pembelajaran memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak intruksional : Konsep dan keterampilan, pengetahuan tentang politik dan system ekonomi. Dampak pengiring : Kesadaran tentang efektivitas, menghadapi konsekuensi, kesadaran tentang peran dan kesempatan, berpikir kritis dan membuat keputusan, Konsep dan keterampilan, serta pengetahuan tentang politik dan system ekonomi.

1 komentar: