A.
Pengertian dan
Rumpun/Jenis Model Pembelajaran
Secara umum,
istilah model pembelajaran diartikan sebagai penyederhanaan atau simplikasi
dari sejunlah aspek dunia nyata sehingga dapat dikatakan bahwa model tidak lain
dari pola/bentuk yang mewakili dunia nyata secara benar dan tepat. Sedangkan
secara khusus, istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan dalam melakukan sesuatu kegiatan.
Berdasarkan hasil
kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah
dikembangkan dan di tes keterpakaianannya oleh para pakar dalam bidang
pendidikan dan pembelajaran, Joyce dan Weil mengintrodusir 21 jenis model
pembelajaran yang masing-masing memiliki karakteristi tersendiri dan
membedakannya dari model pembelajaran yang lain. Berdasarkan karakteristik
tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasikan model-model pembelajaran ke dalam
empat rumpun model, yaitu:
1.
Rumpun
Model-model Pengolahan Informasi (The Informatian Processing Models)
Model-model
pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip
pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongan-dorongan internal
(dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan
mengorganisasikan data , merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan
keluarnya serta mengembangkan bahsa untuk mengungkapkannya. Dalam rumpun model
pembelajaran ini terdapat tujuh model pembelajaran, yaitu:
a.
Pencapaian
Konsep (Concept Attainment)
b.
Berfikir
Induktif (Inductive Thinking)
c.
Latihan
Penelitian (Inquiry Training)
d.
Pemandu Awal
(Advance Organizer)
e.
Memorisasi
(Memorization)
f.
Pengembangan
Intelek (Developing Intelect)
g.
Penelitian
Ilmiah (Scientic Inquiry)
2.
Rumpun
Model-model Personal (Personal Models)
Penggunaan model-model pembelajaran dalam
rumpun ini lebih memusatka perhatian kepada pandangan perseorangan dan berusaha
menggalakkan perhatian kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi
semakinnsadar diri dan bertanggung jawab atas tujuan hidupnya. Dalam rumpun ini
terdapat 4 model pembelajaran, yaitu:
a.
pengajaran tanpa Arahan (Non Directive
Teaching)
b.
Model Sinetik
(Synetic Model)
c.
Latihan
Kesadaran (Awareness Training)
d.
Pertemuan Kelas
(Classroom Meeting)
3.
Rumpun
Model-model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model-model
interaksi sosial ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan kerjasama
dari para siswa. Dalam rumpun model-model interaksi sosial ini terdapat 5 model
pembelajaran, yaitu:
a.
Investigasi
Kelompok (Group Investigation)
b.
Bermain Peran
(Role Playing)
c.
Penelitian
Yurisprudensial (Jurisprudential Inquiry)
d.
Latihan
Laboratoris (Laboratory Training)
e.
Penelitian ilmu
Sosial (Social Science Inquiry)
4.
Rumpun
Model-model Sistem perilaku (Behavioral System)
Rumpun model-model ini mementingkan
penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi
penguatanmtingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk polatingkah laku yang dikehendaki. Model ini
memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi serta metode dan tugas yng
diberikan dalam rangka mengkomunikasikan keberhasilan. Dalam rumpun model
sistem perilaku ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu:
a.
Belajar tuntas
(Mastery learning)
b.
Belajar
langsung (Direct Instruction)
c.
Belajar kontrol
diri (Learning self control)
d.
Belajar melalui
simulasi: Latihan Keterampilan dan Pengembangan Konsep (Training for Skill and
Concept Development).
B. Unsur-unsur
Model Pembelajaran
Keempat
rumpun model pembelajaran yang talah dikemukakan di atas, menurut Joyce dan
Weil (1986:16-19) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1.
Sintaks
(sintax) yaitu urutan langkah pengajaran yang menunjuk pada
fase-fase/tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model
pembelajaran tertentu. Misalnya model deduktif akan mengunakan sintaks yang
berbeda dengan model induktif.
2.
Sistem Sosial
(The social system) adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya
proses pembelajaran (situasi atau susana dan norma yang berlaku dalam
penggunaan model pembelajaran tertentu). Pada garis besarnya terdapat tiga pola
system sosial yang berlaku dalam model pembelajaran, yaitu: (i) sistem sosial terstruktur secara ketat
dalam arti guru yang sangat dominan mengatur struktur pembelajaran, (ii) sistem
sosial dengan struktur yang moderat
dalam arti guru dan siswa berperan secara seimbang dalam mengatur
struktur pembelajaran, (iii) sistem sosial dengan struktur yang longgar/rendah,
dalam arti siwa diberi kewenangan yang besar untuk mengatur dan menentukan
struktur pembelajaran.
3.
Prinsip Reaksi
(Principles of Reaction) berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru
melihat dan memperlakukan para siswa, termasuk bagaimana seharusnya guru
memberikan respon terhadap siswa. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana
seharusnya guru menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap model.
4.
Sistem
Pendukung (Support System) adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran di kelas. Dengan perkataan lain segala fasilitas, sarana, bahan
dan alat yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran
secara optimal.
5.
Dampak
Instruksional (Instruksional Effect) dan dampak pengiring (Nurturant Effect).
Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai atau yang berkaitan langsung dengan materi pembelajaran,
sementara dampak pengiring adalah hasil belajar sampingan (iringan) yang
dicapai sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaran tertentu.
C. Profil
Sepuluh Model Pembelajaran Pilihan
Dari ke sepuluh
model pembelajaran pilihan terdapat tiga model dalam rumpun model pemrosesan
informasi, dua model dalam rumpun model personal, tiga model dalam rumpun model
interaksi sosial,dan dua model dalam rumpun model sistem perilaku. Profil dari tujuh model
pembelajaran pilihan tersebut, mencakup (i) Pengertian dan rasional, (ii)
Sintaks,(iii) Sistem sosial, (iv) Prinsip reaksi,(v) Sistem pendukung, dan (vi)
Dampak instruksional dan dampak pengiring dari masing-masing model.
1.
Model Pencapaian Konsep (Concept attainment)
a.
Pengertian dan Rasioanal
Model pencapaian konsep merupakan
pola pembelajaran yang di rancang untuk memperoleh konsep melalui suatu proses
yang berorientasi pada (1) menerima konsep yang diawali dengan guru mengajukan
contoh-contoh (eksemplar) dari konsep yang akan diajarkan, (2) mempertimbangkan
dan memilih konsep dalam hal mana siswa mengidentifikasi, mengajukan hipotesis,
menganalisis dan membandingkan ciri (atribut)esensial dan yang tidak esensial
dari contoh-contoh yang diajukan guru tersebut dan (3) diakhiri dengan
kesimpulan tentang nama dari konsep tersebut.
Setiap konsep,
menurut Joyce dan Weil (1986) memiliki empat elemen yaitu: nama, contoh
(eksamplar), ciri-ciri (atribut) esensial dan tidak esensial dan nilai dari
ciri-ciri tersebut.
Memahami konsep sebagai tujuan dari model pencapaian konsep
tersebut mengandung arti bahwa siswa dapat membedakan atribut esensial dari atribut yang non esensial dari
konsep tersebut.
Model ini menurut
Joyce dan Weil (1986) dikembangkan dari karya Jerome Brunner, Jacquiline
Goodnow, dan George Austin yang berjudul A study of Thinking. Model ini
dilandasi bahwa lingkungan dimana kita hidup berisi aneka ragam objek dan kita
sebagai manusia harus mampu membeda-bedakan obyek-obyek dengan aspek-aspeknya.
b.
Sintaks
Sintaks dari model pencapaian konsep
menurut Joyce dan Weil (1986:34-36) pada garis besarnya terdiri atas tiga tahap
kegiatan, yaitu (1) tahap pertama : penyajian data dan identifikasi konsep,
mencakup kegiatan-kegiatan (i) guru menyajikan contoh yang diberi label, (ii)
masing-masing siswa membuat dan mengetes hipotesis, (iv) siswa membuat defenisi
tentang konsep atas ciri esensialnya, (2) Tahap kedua : Mengetes pencapaian
konsep, yang mencakup kegiatan-kegiatan (i) siswa mengidentifikasi tambahan
contoh yang tidak diberi label dengan menyatakan ya atau bukan, (ii) guru
menegaskan hipotesis, nama konsep dan menyatakan kembali defenisi konsep sesuai
dengan ciri- ciri yang esensial, dan (3) Tahap ketiga : Menganalisis strategi
berfikir, yang mencakup kegiatan-kegiatan (i)siswa mengungkapkan pemikirannya,
(ii) siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep, (iii)siswa
mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis.
c.
Sistem Sosial Model Pencapaian konsep
Model ini memiliki struktur yang
moderat dalam arti guru melakukan pengendalian
terhadap aktivitas pembelajaran, tetapi dapat di kembangkan menjadi
kegiatan dialog bebas dan terbuka. Interaksi antar siswa digalakkan oleh guru.
d.
Prinsip Reaksi
Pada model ini perilaku yang
seharusnya di tampilkan oleh guru dalam merespon perilaku siswa adalah (i)
memberikan dukungan dengan menitik beratkan pada sifat hipotesis dan
diskusi-diskusi yang berlangsung, (ii) memberikan bantuan kepada para siswa
dalam mempertimbangkan hipotesis yang satu dari hipotesis lainnya, misalnya
melalui penggunaan pertanyaan penuntun dan pelacak, (iii) mendorong siswa untuk
memusatkan perhatiannya terhadap contoh-contoh yang spesifik, dan (iv)
memberikan bantuan kepada siswa dalam mendiskusikan dan menilai strategi
berpikir yang mereka pakai.
e.
Sistem Pendukung
Penerapan model ini membutuhkan
sarana pendukung berupa bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan
dalam bentuk unik-unik yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Bila para siswa
sudah dapat berfikir semakin kompleks, mereka akan dapat bertukar pikiran dan
bekerja sama dalam membuat unit-unit data, seperti yang dilakukan dalam tahap
dua saat mencari conto-contoh yang lain.
f.
Dampak instruksional dan pengiring
Penerapan model pemerolehan konsep
ini dalam pembelajaran, memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring yang
diadaptasi dari Joyce dan Weil (1986:39). Model pencapaian konsep dampak
instruksional melalui Hakikat konsep, Strategi pembentukan, konsep-konsep,
penalaran induksi. Model pencapaian konsep dampak pengiring melalui kesadaran
akan pilihan pandangan, toleransi terhadap ketidak tentuan dengan apresiasi
terhadap logika, kepekaan terhadap penalaran logis dalam komunikasi.
2.
Model berpikir
Induktif (Inductive Thinking)
a.
Pengertian dan
Rasional
Model berpikir induktif adalah pola pembelajaran
yang dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif dan ilmiah. Model
berpikir ini sangat penting sebagai solusi pemecahan masalah.
b.
Sintaks
Sintaks dari model berpikir induktif
menurut Joyce dan Weil (1986:44-47) pada garis besarnya terdiri atas tiga
tahap, diantaranya
1)
Tahap pertama :
Pembentukan pengertian yang mencakup 3 langkah, yaitu :
a)
Mengenalkan
masalah dan menguraikan masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
b)
Mengelompokkan
fakta-fakta serupa menjadi suatu kumpulan
c)
Menentukan
susunan fakta tersebut secara hierarkhi
2)
Tahap kedua :
Interpretasi data, yang mencakup 3 langkah, yaitu :
a)
Mengenal
rincian fakta dan hubungannya satu sama lain
b)
Menentukan
hubungan sebab akibat
c)
Menarik
kesimpulan
3)
Tahap ketiga :
Penerapan prinsip, yang mencakup 3 langkah yaitu :
a)
Membuat
perkiraan atau hipotesis dan meramalkan akibat-akibat
b)
Menerangkan
hal-hal yang ada hubungannya dengan dukungan pada perkiraan atau hipotesis dan
ramalan
c)
Memeriksa
ramalan
c.
Sistem Sosial
Model berpikir Induktif memiliki system
social yang cenderung moderat dan bersifat kooperatif. Pada awal proses
pembelajaran, guru mengemukakan masalah, kemudian dalam proses (kegiatan)
pembelajaran selanjutnya siswa dituntut untuk terlibat secara aktif, dibawah
bimbingan dan pengarahan guru.
d.
Prinsip Reaksi
Prinsip Reaksi pada model ini adalah
sebagai fasilitator dan monitor pembelajaran. Dalam posisi ini, guru mengajukan
pertanyaan-pertanyaan penuntun dan pengarah untuk membimbing dan mengarahkan
siswa melakukan proses penalaran langka demi langkah.
e.
Sistem
Pendukung
Penerapan model induktif membutuhkan
dukungan system penunjang berupa penyediaan sumber dan kesediaan guru
memberikan kemudahan untuk belajar.
f.
Dampak
Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Instruksional :
1)
Proses
pembentukan pengertian
2)
Pengertian-pengertian
khusus
Dampak pengiring :
1)
Perhatian pada
aturan berpikir dan logika
2)
Kecermatan dan
kepekaan bahasa
3. Model Pemandu Awal (Advanced Organizer)
a.
Pengertian dan
Rasional
Model pemandu awal adalah pola
pembelajaran yang didesain untuk mewujudkan pembelajaran menjadi lebih bermakna
melalui organisator tertinggi bersifat utuh dan komprehensip dari suatu materi
yang diajarkan.
b.
Sintaks
Sintaks dari model pemandu awal pada
garis besarnya terdiri dari 3 tahap, yaitu
1.
Presentasi
pemandu awal yang mencakup langkah-langkah
a)
Menjelaskan
tujuan pembelajaran
b)
Menyajikan
hal-hal/bahan yang berkaitan dengan pemandu awal
c)
Mendorong siswa
untuk menyadari pengetahuan dan pengalaman awal yang relevan dan organizer
2.
Presentasi
tentang tugas belajar atau bahan pengajaran yang mencakup langkah-langkah
a)
Menyajikan
bahan pengajaran
b)
Memelihara
perhatian
c)
Membuat
organisasi atau menyusun bahan pengajaran(yang disajikan)secara logis dan
menjadi jelas bagi siswa sehingga mereka memahami arah secara keseluruhan
3.
Memperkuat
Organisasi berpikir
a)
Menggunakan
prinsip-prinsip penyatuan rekonsiliasi
b)
Mendorong siswa
menerima bahan secara aktif
c)
Mendorong siswa
untuk kritis dalam menerima bahan
d)
Meminta siswa
untuk memberikan penjelasan lebih lanjut
c.
Sistem Sosial
Pada model ini guru senantiasa
mengontrol struktur intelektual yaitu, secara kesinambungan menghubungkan
materi berlajar dengan organizer/pemandu awalnya, membantu siswa membedakan
materi baru dari materi yang dipelajari sebelumnya.
d.
Prinsip Reaksi
Cara guru mereaksi prilaku siswa
pada model ini ditentukan oleh jelas tidaknya keberartian dan kebermaknaan
materi baru yang diajarkan itu.
e.
Sistem
pendukung
Penerapan model pemandu awal ini
sangat membutuhkan dukungan/ketersediaan materi pembelajaran yang diorganisir dengan
baik
f.
Dampak
instruksional dan dampak pengiring
Dampak instruksional : Struktur (susunan), Konsep(pengertian)
Dampak pengiring : Minat
terhadap penelitian dan kebiasaan berpikir tepat.
4.
Model Sinektiks
(Synectics)
a.
Pengertian dan
rasional
Model sinektiks adalah pola
pembelajaran yang didesain untuk melatih siswa mengembangkan keterampilan
memecahkan masalah secara kreatif, kreativitas pribadi dan rasa simpati serta
kemampuan membuat tilikan dalam hubungan sosial.
b.
Sintaks
Sintaks dari model senektiks terdiri atas beberapa tahap yaitu:
1.
Deskripsi
kondisi saat ini dimana guru meminta siswa untuk mendeskripsikan sesuatu yang
mereka amati saat ini
2.
Analogi
langsung yaitu guru meminta siswa mengemukakan berbagai analogi atau pengandaian , kemudian memilih salahsatu
diantaranya untuk diekplorasi lebih jauh
3.
Analogi
personal
4.
Konflik yang
dipadatkan
5.
Analogi
langsung
6.
Pengujian
kembali tugas awal
c.
Sistem Sosial
Sistem sosial dalam model ini
tergolong struktur sedang dimana guru mengambil inisiatif menetapkan urutan
pelajaran dan membimbing mekanisme intraksi belajar.
d.
Prinsip Reaksi
Dalam mereaksi prilaku siswa,
bentuk-bentuk prilaku yang diperankan oleh guru dalam model ini adalah mencatat
seberapa jauh siswa secara individual terikat oleh berpikir yang regular dan ia
mencoba menciptakan suasan psikologisnyang dapat membangkitkan respon,
memusatkan perhatian pada pola penalaran siswa yang tampak kaku atau tetap
tidak berubah.
e.
Sistem
Pendukung
Penerapan model sinektiks dalam
proses pembelajaran membutuhkan sistem pendukung berupa kehadiran guru, alat
dan bahan serta kelas.
f.
Dampak
Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Instruksional : Kapasitas kreatif
umum, dan kapasitas kreatif dalam bidang khusus. Dampak Pengiring : Pencapaian
belajar dalam bidang studi, keutuhan dan produktivitas kelompok
5. Model Pertemuan Kelas (The Classroom Meeting)
a. Pengertian dan Rasional
Pertemuan kelas
adalah pola pembelajaran yang di rancang unuk mengembangkan (i)pemahaman diri
sendiri, dan (ii) rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Model in
di kembangkan oleh William Glasser dengan teorinya yang di sebut reality
therapy.
b.
Sintaks
Sintaks odel
pertemuan kelas terdiri atas 6 tahap, yaitu (1) Tahap satu: Menciptakan suasana
(yang hangat, personal, dan bersahabat) yang memungkinkan keterlibatan siswa
secara aktif, melalui kegiatan-kegiatan (i) meminta siswa untuk menyatakan
keinginanya atau menyatakan bagaimana yang baik baginya, (ii) bertukar pendapat
tanpa saling menyalahkaan; (2) Tahap dua: Mengemukakan permasalahan yang akan
di diskusikan, dengan cara/upaya (i) guru meminta siswa atau guru sendiri yang
mengemukakan masalah, (ii) guru atau siswa mengemukakan contoh peristiwa, (4)
Tahap empat: Mengidentifikasi alternatif tindakan yang dapat di lakukan , yang
mencakup kegiatan/langkah (i) siswa mendiskusikan berbagai pilihan atau
alternatif perilaku , (ii) siswa menyepakati pilihan perilaku tersebut; (5)
Tahap lima: Membuat komitmen dalam arti siswa membuat komitmen yang bersifat
umum; dan (6) Tahap enam: Tindak lanjut perilaku. Setalah periode terentu,
siswa menguji efektifitas dari komitmen dan perilaku sosial tersebut.
c.
Sistem Sosial
Sistem sosial
dari model pertemuan kelas brstuktur moderat (sedang). Kepemimpinan dalam arti
tanggung jawab untuk membimbing proses interaksi pada setiap tahap terletak di
tangan guru. Di sisi lain, para para siswa juga tapi di
harapkan dapat mengambil inisiatif dalam memilih topik diskusi. Dan yang tidak
kurang pentingnya adalah bahwa keputusan moral
terletak di tangan siswa.
d. Prinsip Reaksi
Pola reaksi
yang seyogianya di perankan oleh guru dalam model ini di biming oleh tiga
prinsip, yaitu (i) melibatkan siswa dengan menumbuhkan suasana yang hangat,
personal , menarik dan hubungan yang peka antara guru dengan siswa; (ii)dengan
melalui sikap tidak menentukan, guru har us dapat menerima tanggung jawab untuk
mendiagnosis perilaku siswa, dan (iii) kelas sebagai suatu kesatuan, memilih
dan mengikuti alternatif perilaku yang ada.
e.
Sistem
Pendukung
Penerapan model
pertemuan kelas ini membutuhkan dukungan berupa (i) guru yang memiliki
kepribadian yang hangat dan terampil dalam mengelola hubungan interpesonal dan
diskusi kelompok, (ii) memiliki kemampuan untuk menciptakan iklim kelas yang
terbuka yang tidak bersifat defensif, (iii) memiliki kemampuan membimbing
kelompok menuju penilaian perilaku, komitmen dan tindak lanjut dari perilaku
tersebut.
f.
Dampak Intruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Intruksional : Kemandirian dan pengarahan diri dan pencapaian
tujuan evaluasi. Dampak Pengiring : Keterbukaan dan keutuhan
6. Model
Instevigasi Kelompok (Group Investigasion)
a.
Pengertian dan
Rasional
Model
investigasi kelompok adalah pola belajar mengajar yang di rancang untuk
mengembangkan keterampilan berpartisipasi secara demokratis dan memecahkan
masalah secara ilmiah. Model ini juga mengembangkan pengertian tentang
kesederajat manusia. John Dewey
dalam Joyce dan Weil (1986 : 227) mengemukakan bahwa keseluruhan kehidupan
sekolah seyogianya di tata dan di organisir sebagai bentuk keil atau miniatur
dari kehidupan demokrasi. Siswa seharusnya berpartisipasi dalam membangun
sistem sosial melalui pengalaman dan secara berangsur-angsur belajar bagaimana
menerapkan metode ilmiah untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Aspek ini
menurut Dewey, merupakan persiapan yang terbaik bagi warga negara dalam hal
demokrasi.
b.
Sintaks
Tahapan
(langkah-langkah) dari model ini terdiri atas enam tahapan, yaitu : (1) Tahap
satu: siswa di perhadapkan pada situasi problematis (teka-teki); (2) Tahap dua:
Siswa mengeksplor reaksi terhadap situasi; (3) Tahap tiga siswa memformulasikan
tugas belajar tugas belajar dan
mengorganisir aspek-aspek yang berkaitan dengannya, seperti rumusan masalah,
peranan tugas-tugas dan sebagainya; (4) Tahap empat: Siswa melakukan kegiatan penyelidikan secara
perorangan ataupun klompok; (5) Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang di
lakukan dalam kegiatan penyelidikan; dan (6) Tahap enam: Siswa melakukan
pengulangan kegiatan (recycle actvity).
c.
Sistem
Sosial
Sistem sosial
model ini bersifat demokratis yang di tandai oleh keputusan-keputusan yang di
kembangkan dari atau setidaknya di perkuat oleh pengalaman kelompok dalam
konteks masalah yang menjadi titik
sentral kegiatan belajar. Kegiatan kelompok yang terjadi sedapat mungkin dapat
bertolak dari pengarahan minimal dari
guru.
d.
Prinsip
Reaksi
Dalam hal cara
guru mereaksi terhadap perilaku siswa, pada model ini guru lebih memerankan
dirinya sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat.
Sehubungan dengan itu guru seyogianya membimbing dan mengarahkan kegiatan
kelompok dalam hal: (i) pemecahan masalah (ii) pengelolaan kelas dan permaknaan
secara perseorangan.
e.
Sistem
Pendukung
Implementasi
model ini membutuhkan sistem pendukung berupa segala sesuatu yang erkaitan
dengan kebutuhan siswa untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan
di perlukan untuk proses pemecahan masalah, seperti perpustakakaan yang
memiliki fasilitas yang memadai. Jika di mungkinkan akan lebih baik jika
memanfaatkan sumber-sumber belajar di luar
lingkungan sekolah.
f.
Dampak
instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak Intruksional : Pandangan
Konstruktifitis tentang Pengetahuan, Penelitian yang Berdisiplin, Proses dan
Keteraturan Kelompok yang Efektif dan
dampak pengiring : Menghormati Hak Asasi Manusia dan Komitmen terhadap
Keanekaragaman, Kemerdekaan sebagai Pelajar, Komitmen terhadap Penelitian
Sosial, dan Kehangatan dan Keterikatan Antar Manusia
7. Model Penyelidikan Yurisprudensial (Jurispruential Inquiry)
a.
Pengertian dan
Rasional
Model
penyelidikan yuriprudensial merupakan pola pembelajaran yang di desain untuk
mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah nilai/hukum yang
berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Secara esensial model ini
merupakan pendidikan kewarganegaraan tingkat tinggi.
b.
Sintaks
Sintaks dari
model penyelidikan yurisprudensial ini terdiri atas enam tahap, yaitu (1) Tahap
satu: orientasi terhadap kasus yang mencakup (i) guru memperkenalkan bahan
pengajaran, dan (ii) guru mereview data/fakta; (2) Tahap dua; mengidentifikasi
isi atau kasus yang mencakup (i) siswa mengsitesiskan fakta-fakta ke dalam isu
yang dihadapi, (ii) siswa memilih salah satu isu kebijaksanaan pemerintah untuk
di diskusikan (3) Tahap tiga: menetapkan posisi dalam arti siwa
mengartikulasikan posisi atau kedudukannya, kemudian siswa kemudian siswa
menyatakan basis kedudukannya dalam hubungan dengan nilai sosial atau
konsekuensi dari keputusan; (4) Tahap empat: mengeksplorasi pendirian (sikap
mental), pola argumentasi, yang mencakup (i) menetapkan titik di mana terlihat
adanya perusakan nilai atas dasar data yang di peroleh, (ii) membuktikan
konsekuensi yang di inginkan dan yang tidak di inginkan dari posisi yang di
pilih, (5) Tahap lima: menyaring dan menguji posisi, yang mencakup (i) siswa
menyatakan posisi dan memberikan rasional mengenai posisinya tersebut, dan
kemudian menguji situasi yang serupa, (ii) siswa meluruskan posisinya, dan (6)
Tahap enam: mangetes asumsi faktual yang melatar belakangi posisi yang memenuhi
syarat, yang mencakup (i) mengidentifikasi asumsi faktual dan menetapkan sesuai
tidaknya, dan (ii) menetapkan konsekuesi yang di perkirakan dan menguji
kesahihan faktual darikonsekuensi itu.
c.
Sistem
Sosial
Struktur dari
model ini bervariasi dari struktur ketat sampai ke struktur rendah. Secara
umum, guru menginisiasi atau mulai membuka tahapan dan selanjutnya bergerak
dari satu tahap ke tahap berikutnya dengan catatan bahwa hal ini juga
tergantung pada kemampuan siswa untuk menyalesaikan tugas belajarnya untuk
setiap tahapan.
d.
Prinsip
Reaksi
Reaksi guru,
khususnya pada tahap empat dan lima tidak bersifat evaluatif dalam arti
menyatakan setuju atau tidak setuju. Apa yang di lakukan oleh guru hanyalah
berupa reaksi terhadap komentar siswa dengan cara memberikan pertanyaan yang
relevan, konsisten, khusus atau umum dan mengklarifikasi secaa definisi.
e.
Sistem
Pendukung
Implementasi
model ini membutuhkan dukungan dukungan sarana/fasilitas yang berupa
dokumen-dokumen yang relevan dengan masalah. Sehubungan dengan itu, seyogianya
di sediakan sumber-sumber yang di publikasikan secara resmi yang menyangkut kasus-kasus yang aktual.
f.
Dampak
Instruksional dan Dampak Pengiring
Dampak
Intruksional : Kerangka untuk Menganalisis Ilmu-ilmu Sosial, Kemampuan
Mengasumsikan Peranan Orang Lain, Kemampuan dalam Berdialog dan Dampak
pengiring : Empathy/Pluralisme, Kemampuan untuk Berpartisipasi dan Kesediaan
untuk Melakukan Tindakan Sosial, Fakta tentang Masalah Sosial.
8. Model Penelitian
ilmu social (social science inquiry)
a.
Pengertian Dan Rasional
Model penelitian
ilmu sosial adalah pola belajar-mengajar yang dirancang untuk mengembangkan
keterampilan memecahkan masalah dengan menggunakan penalaran logis berdasarkan
penelitian ilmiah. Model ini juga mengembankan penertian tentang kesederajatan
manusia dalam kehidupan.
b.
Sintaks
Sintaks dari model
penelitian ilmu sosial terdiri atas 6 tahap yaitu:
1.
Tahap satu :
menyakinkan dan mengklasifikasi situasi yang mengandung teka-teki berkaitan
dengan kenyataan sosial yang mungkin timbul dari ; kenyataan mutakhir , bahan
bacaan , konflik di kelas ataupun dari berbagai sumber.
2.
Tahap dua
:pengembangan hipotesis sebagai dasar dalam melakukan penelitian dan pemecahan
masalah
3.
Tahap tiga :
mendefenisikan dan menjelaskan hipotesis
4.
Tahap empat:
mengeksplorasi hipotesis yang berkaitan dengan asumsi, implikasi,dan validitas
logika.
5.
Tahap lima:
mengumpulkan data dan bukti-bukti untuk mendukung hipotesis
6.
Tahap enam :
merumuskan generelisasi berupa
pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa
konsep yang ada kaitannya degan hipotesis.
c.
Sistem Sosial
Pola hubungan guru
siswa dalam medel ini terstruktur sedang (moderat). Guru mengambil inisiatif
untuk memandu siswa dalam setiap tahap penelitian. Siswa disisi lain melakukan
proses penelitian dan hal ini sangat bergantung pada kemampuan menelitih yang
dimiliki oleh siswa. Siswa juga harus memilkul tanggung jawab untuk mengikuti
proses dari tahap 1 sampai terakhir .
d.
Prinsip Reaksi
pola perilku guru
dalam merespon perilaku siswa lebih merefleksikan fungsi guru sebagai konselor.
Dalam keseluruhan tahap ,guru berfungsi membantu para siswa untuk menjernihkan
kedudukannya, memperbaiki proses belajar, membuat dan melaksanakan
rencana.
e.
Sistem
Pendukung
penerapan model
penelitian ilmu sosial ini membutuhkan sistem pendukung berupa :
1.
Guru yang
menyadari pentingnya penelitian yang dapat mengembangkan suasana yang luwes
dalam penyelesaian masalah
2.
Perpustakaan
yang memiliki perlengkapan dan fasilitas yang memadai
3.
Sumber-sumber
disekitar sekolah , seperti perpustakaan, pasar, toko, kantor pos, museum,
tempat-tempat peninggalan sejarah, dan sebagainya.
f.
Dampak
Instruksional dan Dampak Pengiring
penerapan model
penelitian ilmu sosial dalam proses pembelajaran memiliki dampak instruksional
dan dampak pengiring. Dampak intruksional : Penjajahan terhadap masalah-masalah
sosial, Komitmen terhadap peningkatan kualitas warga Negara. Dampak pengiring :penghargaan terhadap azas manusia, tindakan
sosial dan toleransi dalam berdialog.
9. Model
Kontrol Diri
a.
Pengertian dan rasional
Model kontrol diri adalah pola
pembelajaran yang di rancang untuk melatih siswa :
1.
Menegenal
prinsip-prinsip prilaku
2.
Melakukan
pengontrolan diri sendiri untuk berprilaku yang baik
Hubungan antara stimulus dengan respon yang disebut sebagai
operants response atau operant behavior , adalah respon yang ditimbulkan oleh
berbagai jenis stimulus yang bersumber dari linkungan, dengan kata lain
individu(organism) berbuat terhadap lingkungan.
b.
Sintaks
Sintaks dari model ini terdiri atas
4 tahap yaitu : tahap
1.
Memperkenalkan
prinsip-prinsip prilaku yang mencakup :
(i) menkomunikasikan bahwa control diri merupakan fungsi dari lingkungan, (ii)
menjelaskan prinsip-prinsip kontrol diri yang bersifat spesifik , dan
(iii)membangun kesadaran untuk berpartisipasi .
2.
Membangun basis
( garis besar ) prilaku, yang mencakup (i) mensfesifikasikan secara jelas
target prilaku yang akan dicapai, (ii) memutuskan prosedur pengukuran dan
skedul, (iii) menyelenggarakan pengukuran, mencatat stimulus, kontrol,
menguatkan konsekuensi
3.
Menetukan
program kontrol diri, yang mencakp (i) membuat keputusan berkenaan dengan
stimulus, dan menguatkan, (ii) menentukan tujuan jangka pendek dan jangka
panjang, membuat program tertulis, dan menyepakati pertemuan dan waktu yang
direviu, dan
4.
Memantau dan
memodifikasi program yang mencakup atas, (i) siswa memulai program kontrol
diri, melakukan pertemuan priodikc ntar siswa dengan guru untuk melihat
kemajuan dan memodifikasi program jika di perlukan.
c.
Sistem Sosial.
Pola hubungan guru siswa pada model
ini tergolong moderat-ke-rendah. Meskipun perananan guru dalam menginiasi
program tergolong penting, dipihak lain para siswa memiliki kewenangan
melakukan kontrol dalam segala situasi dan pengelolahan aktifitas. Bahkan,
segala aspek dari program kontrol diri dinegosisaikan dengan siswa.
d.
Prinsip Reaksi
Guru memiliki peranan yang amat
penting dalam menentukan keberhasilan program kontrol diri. Sehubungan dengan
itu, pola prilaku guru dalam mereaksi perilaku siswa adalah:
1.
Memberanikan
siswa untuk melakukan kontrol diri sendiri
2.
Mengingatkan
siswa bahwa lingkungan sekitar pada umumnya tidak melakukan oengawasan sosial
dalam arti mendorong siswa berperilaku baik sesuai degan harapan sekolah
3.
Pada awalnya
guru bertindak sebagai penguat perilaku siswa, kemudian selanjutnya menyerahkan
fungsi penguat kepada siswa sendiri
4.
Menjelaskan
pentingnya bimbingan intelektual untuk melaksanakan prilaku yang baik dalam
kehidupan
e.
Sistem pendukung
Penerapan model kontrol diri pada
dasarnya tidak memiliki sistem pendukung
khusus berupa saran dan fasilitas. Namun untuk keberhasilan model ini
membutuhkan dukungan berupa :
1.
Guru yang
memberanikan siswa untuk melakukan kontrol diri atas perilakunya sendiri
2.
Siswa memiliki
keberanian untuk melakukan kontrol diri sendiri dan sekaligus memiliki
keberanian untuk melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan selanjutnya
melakukan perbakan terhadap prilakunya.
f.
Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Penerapan model kontrol diri dalam
proses pembelajaran memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak
intruksional : meningkatkan perilaku yang ditargetkan dan mengurangi perilaku
tidak baik, metode untuk mengontrol diri dan pandangan tentang perilaku yang
baik. Dampak pengiring : rasa mampu melakukan control diri dan lingkungan, perolehan harga diri dan kepercayaan diri.
10. Model Belajar Simulasi
a.
Pengertian dan Rasional
Sebagai model pembelajaran , simulasi merupakan penerapan dari
prinsip sibernetika (cybernetics) dalam dunia pendidikan. Model simulasi
diterapkan dalam dunia pendidikan dengan tujuan untuk mengaktifkan kemampuan
yang dianalogikan dengan proses sibernetika itu. Proses simulasi ini dirancang
agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja
dikontrol.
b.
sintaks
Sintaks dari model pembelajaran
simulasi terdiri atas 4 tahap yaitu :
1.
Orientasi yang
mencakup :
(i)
menyajikan
topic yang luas dari simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegralkan ke
dalam proses simulasi,
(ii)
menjelaskan
simulasi dan permainan,
(iii)
memberikan
gambaran teknis secara umum tentang simoba seculasi,
2.
Latihan bagi
simulator, yang mencakup :
(i)
membuat scenario yang berisi aturan, peranan,
langkah, pencatatan, bentuk keputusan yang harus dibuat dan tujuan yang akan
dicapai ,
(ii)
Menetapkan peran dari simulator (pemeran),
(iii)
Mencoba secara singkat suatu episode
3.
Pelaksanaan
proses simulasi, yang mencakup :
(i)
Melaksanakan
aktifitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut
(ii)
Memperoleh
umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap penampilan simulator
(iii)
Menjernihkan
hal-hal yang mengkonsepsi
(iv)
Melanjutkan
permainan simulasi
4.
Debriefing
simulator (partisipan) terhadap sebagian dan keseluruhan dari kegiatan berikut:
(i)
Memberikan
ringkasan mengenai kejadian dan presepsi yang timbul selama simulasi
(ii)
Memberikan
ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan peserta
c.
Sistem Sosial
sistem sosial (pola hubungan guru
siswa ) dalam modul simulasi ini struktur ketat dan kaku (rigorous). Didalam
simulasi, guru harus secara sengaja memilih jenis kegiatan dan mengatur siswa
dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai segala sesuatu yang
berkaitan dengan proses simulasi.
d.
Prinsip Reaksi
Secara
umum pola perilaku guru dalam mereaksi perilaku siswa diwarnai oleh peranan
guru sebagai pasilitator yang member kemudahan. Dalam keseluruhan proses
simulasi, guru bertugas dan bertanggung jawab atas terpeliharnya suasana
belajar dengan cara menunjukkan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak
evaluative (bersifat menilai) dalam hal ini, guru bertugas untuk lebih dahulu
mendorong pengertian dan penafsiran para siswa terhadap isi dan makna dari
simulasi.
e.
Sistem Pendukung
penerapan
model simulasi dalam proses pembelajaran membutuhkan sistem pendukung berupa
sarana atau alat mulai dari yang sederhana dan murah sampai yang kompleks dan
mahal. kata kuncinya adalah yang relevan (sesuai) dengan materi, proses, sifat
dan tujuan simulasi.
f.
Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Penerapan
model belajar simulasi dalam proses pembelajaran memiliki dampak instruksional
dan dampak pengiring. Dampak intruksional : Konsep dan keterampilan,
pengetahuan tentang politik dan system ekonomi. Dampak pengiring : Kesadaran
tentang efektivitas, menghadapi konsekuensi, kesadaran tentang peran dan
kesempatan, berpikir kritis dan membuat keputusan, Konsep dan keterampilan,
serta pengetahuan tentang politik dan system ekonomi.
Terimakasih buat ilmunya
BalasHapus