Apa
kabar pergerakan mahasiswa? Masih konsisten dengan aksi 20 Mei mendatang?
Beberapa hari yang lalu
dunia maya diramaikan dengan selebaran ajakan aksi besar-besaran yang di pelopori
oleh BEM SI yang mengudang semua elemen mahasiswa pergerakan untuk melakukan
aksi melengserkan rezim Jokowi JK dengan menyerbu istana negara pada 20 Mei
mendatang.. Rezim Jokowi JK diawal jabatannya saja telah menghadiahkan kenaikan
harga BBM kepada rakyatnya, disusul dengan kenaikan tarif dasar listrik hingga
membuat barang-barang harganya melambung tinggi. Penolakan dari berbagai
pergerakan mahasiswa muncul kepermukaan meski media bungkam dan tutup mata
dengan aksi tersebut kecuali media-media local yang dipelopori oleh mahasiswa. Merasa
gerah dengan sikap pemerintah yang seolah menganggap angin lalu suara mahasiswa
dan jerit penderitaan rakyat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, aktivis
kampus yang tergabung dalam berbagai pergerakan mahasiswa sepakat ingin
mengadakan aksi mengusung reformasi Jilid 2. Reformasi (lagi) ?
Melengserkan rezim?
Terus mau apa? Melakukan pemilihan umum lagi dengan biaya yang melangit
menguras dompet anggaran belanja negara dan kembali menutupi dengan ngutang
kepada para lintah-lintah kapitalis? Ataukah dengan menaikkan pajak penghasilan
rakyat atau mencabut subsidi diberbagai lini? Setelah terpilih presiden baru,
dimulailah kehidupan baru masyarakat dengan tingkat kemiskinan semakin tinggi.
Bisakah menjamin presiden baru akan lebih baik dari yang sebelumnya? Bukannya
pesimis, tapi dalam era kapitalistik ini bukankah kita tahu bahwa yang berkuasa
adalah pemilik modal, yang bisa saja mengendalikan pemimpin sebuah negara
berkembang seperti Indonesia bak wayang atau boneka kapitalis. Maka apa bedanya
dengan presiden yang sebelumnya.
Tak bisa dipungkiri
selama kapitalisme masih mencengkram sebuah negara maka kedaulatan negara akan
tercabik-cabik, karena dalam sistem demokrasi biaya politik sangatlah mahal,
untuk menduduki sebuah jabatan baik itu DPR membutuhkan biaya yang tidaklah
sedikit, apalagi untuk mendapatkan suara dari rakyat tidak cukup hanya dengan
membangun citra yang baik namun juga modal yang cukup besar. Biayanya dari mana
lagi selain dari para pemilik modal. Maka jangan heran ketika mereka berhasil
duduk di kursi jabatan mereka akan bekerja untuk yang telah memberikan suntikan
dana atas keberhasilan memainkan politik kotornya. Rakyat? Hanya disisakan
kepingan janji yang akan meleleh di kemudian hari bak gunung es di musim panas.
Saudaraku yang merindukan
perubahan.. mari kita menata dan menyamakan rindu kita akan sebuah perubahan
agar kelak langkah, suara, dan teriakan perubahan yang kita serukan kepada
pemerintah bisa senada. Tak cukup hanya pergantian rezim namun yang menjadi
akar permasalahan yang menyebabkan carut marut di berbagai lini kehidupan kita
adalah sistem negara kita, demokrasi. Tidakkah kita pernah berpikir lebih
mendalam dan menghilangkan dogma-dogma yang menjadi benteng penghalang
kekrtisan berpikir kita bahwa, sistem hari ini benar-benar menghasilkan
pemimpin tak punya kuasa memimpin rakyatnya akibat hegemoni asing. Bahkan
Aristoteles saja pernah mengatakan bahwa “Demokrasi adalah buah pemikiran
manusia purba” dan mantan perdana menteri Inggris mengatakan “Demokrasi adalah
alternative terburuk dari bentuk pemerintahan manusia” kita tahu bersama bahwa
Inggris merupakan negara yang paling demokratis mengatakan hal demikian.
Kita sepakat untuk
menolak kapitalisme, neoliberalisme dan neoimpralisme namun tidakkah pernah
berpikir bahwa penolakan kita terhadap hal tersebut tanpa menyertai penolakan
terhadap demokrasi didalamnya adalah impian kosong? Karena sejatinya atas nama
kebebasan kebablasan yang diciptakan demokrasi maka segala bentuk penjajahan
modern dunia berhasil menggerogoti setiap negara yang mengusung sistem
demokrasi. Berbicara tentang kapitalisme yang sama-sama kita menolak
keberadaannya, juga merupakan sisi gelap dari penerapan demokrasi, seperti yang
dibahasakan sebelumnya bahwa politik dalam sistem demokrasi sangat mahal maka
hal tersebut mengudang para pemilik modal untuk melakukan investasi berupa modal kepada para perindu kursi kekuasaan.
Kapitalisme kian menunjukkan eksistensinya meski kian menyengsarakan namun
tetap saja dibutuhkan keberadaannya dalam alam demokrasi.
Maka salah jika kita
menganggap bahwa semua ini bukan masalah sistemik namun karena oknum karena
sejatinya seseorang yang ingin berjuang dalam sistem demokrasi maka ia tidak
akan mampu menopang kuatnya arus kapitalisme didalamnya hingga ia terseret dalam
arus tersebut. Oleh karenanya yang harus kita suarakan bersama adalah bukan
hanya mengganti rezim tapi juga mengganti sistem negara kita. Pergantian rezim
telah terjadi beberapa kali dalam nafas kemerdekaan negara kita . Namun kita
mungkin menyadari bersama bahwa para pemimpin sebelum sama saja. Benar jika tak
ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik pencipta. Namun
pernah kah kita berpikir bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang tidak
sempurna karena buah pemikiran dari manusia yang tak sempurna, maka mengapa
harus mendewakan dan menganggapnya harga mati? Padahal perlu kita ketahui bahwa
ada sistem negara yang berasal dari sang pencipta yang maha sempurna , yakni
sistem Islam (Khilafah). Sistem yang tidak hanya memuliakan ummat Islam semata
namun pun diluar dari Islam selama ia mau diatur dengan syariat Islam kecuali
dalam perkara ibadah ritual mereka. Pencipta telah merancang aturan sesuai
dengan fitrah manusia dengan kemaha-tahuanNya.. karena sebaik-baik aturan
adalah dari sang maha pengatur itu sendiri. Allah SWT. Masihkan kita
mengingkarinya dan membabi buta cinta dan kefanatikan kita terhadap demokrasi?
Saudaraku, Mahasiswa
pergerakan… tak cukup hanya dengan solusi sempalan reformasi, mari kita menata
ulang taman Indonesia dengan menciptakan REVOLUSI ISLAM Jilid II !!!!!!
Makassar, 12 April 2015
Pukul 20:07 WITA
Dengan
sedikit kegerahan dengan semangat aksi mahasiswa yang meneriakkan reformasi
jilid 2. Namun kami tetap melawan dan tetap dijalur revolusi.. Takbirr !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar