Rabu, 03 Juni 2015

Reformasi Telah Mati, Saatnya REVOLUSI !




Apa kabar pergerakan mahasiswa? Masih konsisten dengan aksi 20 Mei mendatang?
Beberapa hari yang lalu dunia maya diramaikan dengan selebaran ajakan aksi besar-besaran yang di pelopori oleh BEM SI yang mengudang semua elemen mahasiswa pergerakan untuk melakukan aksi melengserkan rezim Jokowi JK dengan menyerbu istana negara pada 20 Mei mendatang.. Rezim Jokowi JK diawal jabatannya saja telah menghadiahkan kenaikan harga BBM kepada rakyatnya, disusul dengan kenaikan tarif dasar listrik hingga membuat barang-barang harganya melambung tinggi. Penolakan dari berbagai pergerakan mahasiswa muncul kepermukaan meski media bungkam dan tutup mata dengan aksi tersebut kecuali media-media local yang dipelopori oleh mahasiswa. Merasa gerah dengan sikap pemerintah yang seolah menganggap angin lalu suara mahasiswa dan jerit penderitaan rakyat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, aktivis kampus yang tergabung dalam berbagai pergerakan mahasiswa sepakat ingin mengadakan aksi mengusung reformasi Jilid 2. Reformasi (lagi) ?
Melengserkan rezim? Terus mau apa? Melakukan pemilihan umum lagi dengan biaya yang melangit menguras dompet anggaran belanja negara dan kembali menutupi dengan ngutang kepada para lintah-lintah kapitalis? Ataukah dengan menaikkan pajak penghasilan rakyat atau mencabut subsidi diberbagai lini? Setelah terpilih presiden baru, dimulailah kehidupan baru masyarakat dengan tingkat kemiskinan semakin tinggi. Bisakah menjamin presiden baru akan lebih baik dari yang sebelumnya? Bukannya pesimis, tapi dalam era kapitalistik ini bukankah kita tahu bahwa yang berkuasa adalah pemilik modal, yang bisa saja mengendalikan pemimpin sebuah negara berkembang seperti Indonesia bak wayang atau boneka kapitalis. Maka apa bedanya dengan presiden yang sebelumnya.
Tak bisa dipungkiri selama kapitalisme masih mencengkram sebuah negara maka kedaulatan negara akan tercabik-cabik, karena dalam sistem demokrasi biaya politik sangatlah mahal, untuk menduduki sebuah jabatan baik itu DPR membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit, apalagi untuk mendapatkan suara dari rakyat tidak cukup hanya dengan membangun citra yang baik namun juga modal yang cukup besar. Biayanya dari mana lagi selain dari para pemilik modal. Maka jangan heran ketika mereka berhasil duduk di kursi jabatan mereka akan bekerja untuk yang telah memberikan suntikan dana atas keberhasilan memainkan politik kotornya. Rakyat? Hanya disisakan kepingan janji yang akan meleleh di kemudian hari bak gunung es di musim panas.
Saudaraku yang merindukan perubahan.. mari kita menata dan menyamakan rindu kita akan sebuah perubahan agar kelak langkah, suara, dan teriakan perubahan yang kita serukan kepada pemerintah bisa senada. Tak cukup hanya pergantian rezim namun yang menjadi akar permasalahan yang menyebabkan carut marut di berbagai lini kehidupan kita adalah sistem negara kita, demokrasi. Tidakkah kita pernah berpikir lebih mendalam dan menghilangkan dogma-dogma yang menjadi benteng penghalang kekrtisan berpikir kita bahwa, sistem hari ini benar-benar menghasilkan pemimpin tak punya kuasa memimpin rakyatnya akibat hegemoni asing. Bahkan Aristoteles saja pernah mengatakan bahwa “Demokrasi adalah buah pemikiran manusia purba” dan mantan perdana menteri Inggris mengatakan “Demokrasi adalah alternative terburuk dari bentuk pemerintahan manusia” kita tahu bersama bahwa Inggris merupakan negara yang paling demokratis mengatakan hal demikian.
Kita sepakat untuk menolak kapitalisme, neoliberalisme dan neoimpralisme namun tidakkah pernah berpikir bahwa penolakan kita terhadap hal tersebut tanpa menyertai penolakan terhadap demokrasi didalamnya adalah impian kosong? Karena sejatinya atas nama kebebasan kebablasan yang diciptakan demokrasi maka segala bentuk penjajahan modern dunia berhasil menggerogoti setiap negara yang mengusung sistem demokrasi. Berbicara tentang kapitalisme yang sama-sama kita menolak keberadaannya, juga merupakan sisi gelap dari penerapan demokrasi, seperti yang dibahasakan sebelumnya bahwa politik dalam sistem demokrasi sangat mahal maka hal tersebut mengudang para pemilik modal untuk melakukan investasi berupa  modal kepada para perindu kursi kekuasaan. Kapitalisme kian menunjukkan eksistensinya meski kian menyengsarakan namun tetap saja dibutuhkan keberadaannya dalam alam demokrasi.
Maka salah jika kita menganggap bahwa semua ini bukan masalah sistemik namun karena oknum karena sejatinya seseorang yang ingin berjuang dalam sistem demokrasi maka ia tidak akan mampu menopang kuatnya arus kapitalisme didalamnya hingga ia terseret dalam arus tersebut. Oleh karenanya yang harus kita suarakan bersama adalah bukan hanya mengganti rezim tapi juga mengganti sistem negara kita. Pergantian rezim telah terjadi beberapa kali dalam nafas kemerdekaan negara kita . Namun kita mungkin menyadari bersama bahwa para pemimpin sebelum sama saja. Benar jika tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik pencipta. Namun pernah kah kita berpikir bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang tidak sempurna karena buah pemikiran dari manusia yang tak sempurna, maka mengapa harus mendewakan dan menganggapnya harga mati? Padahal perlu kita ketahui bahwa ada sistem negara yang berasal dari sang pencipta yang maha sempurna , yakni sistem Islam (Khilafah). Sistem yang tidak hanya memuliakan ummat Islam semata namun pun diluar dari Islam selama ia mau diatur dengan syariat Islam kecuali dalam perkara ibadah ritual mereka. Pencipta telah merancang aturan sesuai dengan fitrah manusia dengan kemaha-tahuanNya.. karena sebaik-baik aturan adalah dari sang maha pengatur itu sendiri. Allah SWT. Masihkan kita mengingkarinya dan membabi buta cinta dan kefanatikan kita terhadap demokrasi?
Saudaraku, Mahasiswa pergerakan… tak cukup hanya dengan solusi sempalan reformasi, mari kita menata ulang taman Indonesia dengan menciptakan REVOLUSI ISLAM Jilid II !!!!!!
Makassar, 12 April 2015 Pukul 20:07 WITA
Dengan sedikit kegerahan dengan semangat aksi mahasiswa yang meneriakkan reformasi jilid 2. Namun kami tetap melawan dan tetap dijalur revolusi.. Takbirr !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar