Sabtu, 21 Maret 2015

Sumpah Pemuda: Mahasiswa Apatis Versus Mahasiswa Ideologis

Ada yang istimewa setiap bualn Oktober. Tepat di bulan ini, diperingati lahirnya momentum gerakan pemuda pada tanggal 28 Oktober 2013. Pemuda di mana di barisan terdepannya adalah mahasiswa. Di tengah-tengah hiruk pikuk berbagai polemik di negeri ini, mereka digadang untuk tetap kritis. Para pemuda mesti memiliki nilai tawar untuk menjadi pemimpin masa depan. Menyelami lebih dalam apa yang kini mereka hadapi sembari belajar dari kondisi kekinian, mahasiswa pasti tahu bagaimana gelagat para pemimpin mereka saat ini. Berbagai masalah timbul mulai dari kasus korupsi dikalangan pejabat baik Legislatif, ekskutif dan yudikatif, belum lagi akhir-akhir ini telah diselenggarakan ajang maksiyat Miss World 2013 di Bali dan APEC yang syarat dengan pengerukan kekayaan alam di negeri ini oleh korporasi Asing dalam hal ini Amerika Serikat.
Tapi seakan jauh dari asa, idealisme mahasiswa makin tergerus. Atas kondisi seperti ini mahasiswa perlahan menjadi apatis, pragmatis dan hilangnya idealisme-nya. Hal ini didukung dalam mekanisme pembelajaran mahasiswa di Kampus yang hanya terpusat pada aspek knowledge, yaitu seberapa banyak pengetahuan yang ditanamkan ke dalam kepala mahasiswa, namun tidak membentuk mahasiswa yang melek akan keadaan atau realitas yang sedang terjadi di negeri ini bahkan di dunia.

Akhirnya, mahasiswa seakan tidak punya waktu untuk memperhatikan situasi kekinian. Tentunya, perkara ini menyebabkan sikap kritis mereka perlahan hilang, malahan menjadi kacung-kacung peradaban. Pidato Ernest Mandel pada Seminar Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan  di Universitas Leiden, Belanda pada 1970, ketika perayaan 70 tahun universitas tersebut berpen­dapat, kebutuhan (sistem, pen) kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam jumlah besar merangsang ekspansi universitas  yang cepat  dan  menghasilkan "proletarianisasi"  tenaga  intelektual, yang  tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis.
Hingga hari ini, hal tersebut yang terjadi. Lalu, kapan mahasiswa akan memperhatikan segala keterpurukan yang terjadi di negeri ini? Kekhawatiran kita bersama, dengan setumpuk ilmu yang dimiliki, mahasiswa tidak memberikan pengaruh besar terhadap perubahan di negeri ini khususnya mahasiswa sebagai armada masa depan. Wajar saja hari ini kita melihat setiap pergantian generasi, tidak memberikan perubahan signifikan terhadap perubahan di negeri ini.
Dalam sejarah bangsa ini, mahasiswa memiliki andil yang besar dalam proses perubahan di tanah air. Sejak masa penjajahan Belanda selama 3,5 Abad bangsa ini mulai paham arti persatuan dalam meraih kebebasan. Sehingga pada  28 Oktober 1928 dibuatlah sumpah pemuda untuk menyatukan para pemuda negeri ini. Memakai nama pemuda karena memang yang menjadi motor pergerakan adalah para pemuda, yang diantaranya ada juga yang mahasiswa namun masih sedikit. Dalam perkembangannya, mahasiswa senantiasa mewarnai setiap perubahan demi perubahan di negeri ini. Saat kemerdekaan, para pemuda-lah yang semangat untuk segera mem “proklamirkan” kemerdekaan bangsa ini. Pada tahun ’60 pemuda-lah yang juga dengan gigih melakukan perlawanan terhadap penjajahan yang masih bercokol di negeri ini, juga perlawanan terhadap komunisme yang berada di negeri ini.
Pada tahun 98 agenda Reformasi bergulir, ditandai dengan lengsernya presiden waktu itu yang telah berkuasa sekitar 32 tahun. Namun agenda ini dirasakan belum berhasil memberikan dampak perubahan-perubahan yang lebih baik kepada masyarakat, tapi justeru makin menyengsarakan rakyat. Pada tahun 2009 di buatlah “sumpah Mahasiswa” pada tanggal 18 oktober 2009 di halaman Tennis Indoor Senayan Jakarta. Sumpah mahasiswa ini merupakan event terbesar dalam sejarah perjuangan pergerakan mahasiswa untuk perubahan di negeri ini menuju kebaikan. Sumpah mahasiswa ini diikuti sekitar 5000 mahasiswa dari seluruh penjuru nusantara yang berjanji untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan di negeri ini. Mahasiswa sepakat untuk menjadikan Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang terjadi di negeri ini, mahasiswa bersumpah akan terus melakukan perubahan menuju penerapan Islam secara kaffah.
Penyebab Mahasiswa menjadi Apatis, perjuangan mahasiswa saat ini menemui jalan buntu tatkala ditanya, ending dari perjuangan yang dilakukan di kampus apa? Akankah mengikuti jejak senior-senior yang terlibat kasus korupsi? Sehingga tak heran jika mahasiswa menjadi ‘apatis’ terhadap perjuangan yang dilakukan di kampus karena melihat akhirnya setelah berkoar-koar dikampus tentang perubahan, malah setelah ikut parlement, atau memiliki jabatan suara-suara perjuangan sudah tidak lagi terdengar bahkan mungkin mereka bilang “itukan dulu saat mahasiswa”. Sungguh aneh dan ironis.
Ketika melihat pemandangan yang terjadi berkali-kali ini tidak hanya mahasiswa yang apatis bahkan oportunis, masyarakat pun memandang bahwa mahasiswa hanya dijadikan kuda tunggangan politik. Sehingga masyarakat juga menjadi tidak lagi percaya pada perjuangan mahasiswa. Ini tejadi karena perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa tidak memiliki tujuan yang jelas serta cara-cara yang digunakan pun tidak jelas. Kondisi ini menjadikan perjuangan mahasiswa yang murni, tulus, ikhlas dalam memperjuangkan masa depan rakyat menjadi berat, karena sulit mengajak mahasiswa untuk bersama-sama berjuang di sisi lain masyarakat (orang tua) menjadi tidak percaya terhadap perjuangan mahasiswa. Inilah salah satu penyebab mengapa mahasiswa apatis terhadap gerakan perjuangan mahasiswa. 
Perjuangan Mahasiswa Ideologis, Sejak awal pergerakan mahasiswa yang tidak memiliki ideologi yang jelas tentu akan mengalami kegagalan. Sehingga perlu adanya ideologi yang jelas dalam melakukan perubahan. Islam adalah Ideologi. Ini merupakan sesuatu yang pasti dan sudah jelas. Orang yang beranggapan bahwa Islam bukan Ideologi, meski dia bergelar Dr., Prof., Lc., MA., dipertanyakan gelar akademik mereka. Islam sebagai ideologi maknanya adalah Islam yang menjadi asas kehidupan yang melahirkan aturan-aturan kehidupan yang lahir dari asas ini untuk diterapkan dalam kehidupan. Hal ini terjadi sebagaimana dulu Rasulullah SAW membangun negara Madinah.
Sehingga, tatkala Islam menjadi idiologi maka saat terjadi masalah dalam bidang ekonomi, maka solusi yang diambil adalah berdasarkan Islam, bukan Kapitalis. Saat terjadi masalah dalam bidang hukum diambil hukum berdasarkan Islam, bukan hukum warisan kolonial belanda/penjajah. Saat terjadi masalah politik, maka akan diselesaikan bagaimana Islam mengatur politik negara, bukan mencontoh Montesqui, Arisoteles, dll. Dari sini kita bisa melihat pergerakan mahasiswa Ideologis dan pergerakan mahasiswa pragmatis. Mana yang memiliki tujuan yang jelas mana yang samar.
Kenapa harus Perjuangan Islam sebagai Ideologi? Sejak awal kemerdekaan bangsa ini, Ideologi yang hendak di terapkan masih tarik ulur antara 3 ideologi yang ada di dunia yakni Islam, Kapitalis dan Komunisme. Dan akhirnya saat ini yang diterapkan adalah Demokrasi yang berasaskan Kapitalis-liberalis. Hal ini terlihat secara nyata dalam penerapan kebijakan-kebijakan pemerintah meski secara tertulis tidak ada kata-kata kapitalis-liberalis. Hal ini terlihat dalam bidang ekonomi, bidang pertambangan, bidang pendidikan, bidang hukum, bidang sosial dll.
Islam harus dipilih sebagai jalan perjuangan mahasiswa disamping memiliki Ide yang jelas, solusi yang menyeluruh, juga memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh ideologi yang lain (kapitalis dan komunis) yaitu pahala. Ketika kita berhukum pada hukum yang Allah turunkan maka kita akan mendapatkan pahala, ini tidak akan diperoleh saat menjalankan hukum kapitalis maupun komunisme.
Saat kasus korupsi, dan masalah peradilan yang lainnya diselesaikan dalam hukum islam tidak perlu bertele-tele seperti saat ini. Bahkan rakyat langsung bisa memperkarakan pemimpin saat pemimpin tidak melakukan hukum-hukum Allah. Dalam sistem demokrasi, presiden sebagai pemimpin tertinggi digaji untuk melaksanakan Demokrasi yang katanya “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Sedangkan dalam Sistem Khilafah, Khalifah tidak dibayar, tetapi mendapatkan santunan dalam memenuhi seluruh kebutuhannya, jadi kerjanya khalifah itu adalah mengurusi rakyat, dan bukan mencari gaji/kekayaan dengan cara menjadi khalifah.
Bagi mahasiswa yang cerdas, yang melek terhadap kondisi dunia saat ini, akan melihat bahwa masa depan dunia ini hanya ada pada Islam. Bukan pada kapitalisme apalagi komunisme. Sebab, Amerika sebagai kampium demokrasi telah gagal, utangnya membumbung tinggi, bahkan sampai hari ini. Amerika tidak mampu meloby untuk menaikkan batas ambang utang yang dimiliki suatu negara, maka Amerika akan menjadi negara gagal yang memiliki banyak utang yang tidak mampu dibayar. Komunisme telah runtuh pada tahun ‘90-an karena tidak mampu membawa kesejahteraan hakiki. Untuk itu hanya Islam, sekali lagi hanya Islam yang menjadi masa depan dunia. Sehingga mahasiswa yang cerdas, mahasiswa yang memiliki pandangan kedepan akan bergabung dalam barisan perjuangan mahasiswa Ideologis.
Itulah perbedaan mahasiswa yang apatis dan mahasiswa ideologis, saatnya mahasiswa saat ini mengambil peran penting serta bergabung dalam barisan mahasiswa ideologis yang memiliki tujuan dan konsep yang jelas. Sudah saatnya mahasiswa tidak sekedar memperingati sumpah pemuda tapi mahasiswa harus bergerak melakukan perubahan menuju negeri ini bahkan dunia menjadi lebih baik dengan Islam. Caranya sederhana pahami Islam dengan sungguh-sungguh dan sebarkanlah Islam itu agar menjadi rahmat bagi sekalian alam, tinggalkan sikap apatis lalu ambil langkah yang tepat yakni menjadi mahasiswa yang ideologis dengan mengambil Islam sebagai Ideologi yang sahih.
 
Sumber : http://www.syababindonesia.com/2013/10/sumpah-pemuda-mahasiswa-apatis-versus.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar