Tapi seakan jauh
dari asa, idealisme mahasiswa makin tergerus. Atas kondisi seperti ini
mahasiswa perlahan menjadi apatis, pragmatis dan hilangnya idealisme-nya. Hal
ini didukung dalam mekanisme pembelajaran mahasiswa di Kampus yang hanya
terpusat pada aspek knowledge, yaitu seberapa banyak pengetahuan yang ditanamkan
ke dalam kepala mahasiswa, namun tidak membentuk mahasiswa yang melek akan
keadaan atau realitas yang sedang terjadi di negeri ini bahkan di dunia.
Akhirnya, mahasiswa seakan tidak punya waktu untuk memperhatikan situasi kekinian. Tentunya, perkara ini menyebabkan sikap kritis mereka perlahan hilang, malahan menjadi kacung-kacung peradaban. Pidato Ernest Mandel pada Seminar Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan di Universitas Leiden, Belanda pada 1970, ketika perayaan 70 tahun universitas tersebut berpendapat, kebutuhan (sistem, pen) kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam jumlah besar merangsang ekspansi universitas yang cepat dan menghasilkan "proletarianisasi" tenaga intelektual, yang tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis.
Hingga hari ini, hal
tersebut yang terjadi. Lalu, kapan mahasiswa akan memperhatikan segala
keterpurukan yang terjadi di negeri ini? Kekhawatiran kita bersama, dengan
setumpuk ilmu yang dimiliki, mahasiswa tidak memberikan pengaruh besar terhadap
perubahan di negeri ini khususnya mahasiswa sebagai armada masa depan. Wajar
saja hari ini kita melihat setiap pergantian generasi, tidak memberikan
perubahan signifikan terhadap perubahan di negeri ini.
Dalam sejarah
bangsa ini, mahasiswa memiliki andil yang besar dalam proses perubahan di tanah
air. Sejak masa penjajahan Belanda selama 3,5 Abad bangsa ini mulai paham arti
persatuan dalam meraih kebebasan. Sehingga pada 28 Oktober 1928 dibuatlah
sumpah pemuda untuk menyatukan para pemuda negeri ini. Memakai nama pemuda
karena memang yang menjadi motor pergerakan adalah para pemuda, yang
diantaranya ada juga yang mahasiswa namun masih sedikit. Dalam perkembangannya,
mahasiswa senantiasa mewarnai setiap perubahan demi perubahan di negeri ini.
Saat kemerdekaan, para pemuda-lah yang semangat untuk segera mem “proklamirkan”
kemerdekaan bangsa ini. Pada tahun ’60 pemuda-lah yang juga dengan gigih
melakukan perlawanan terhadap penjajahan yang masih bercokol di negeri ini,
juga perlawanan terhadap komunisme yang berada di negeri ini.
Pada tahun 98
agenda Reformasi bergulir, ditandai dengan lengsernya presiden waktu itu yang
telah berkuasa sekitar 32 tahun. Namun agenda ini dirasakan belum berhasil
memberikan dampak perubahan-perubahan yang lebih baik kepada masyarakat, tapi
justeru makin menyengsarakan rakyat. Pada tahun 2009 di buatlah “sumpah
Mahasiswa” pada tanggal 18 oktober 2009 di halaman Tennis Indoor Senayan
Jakarta. Sumpah mahasiswa ini merupakan event terbesar dalam sejarah perjuangan pergerakan
mahasiswa untuk perubahan di negeri ini menuju kebaikan. Sumpah mahasiswa ini
diikuti sekitar 5000 mahasiswa dari seluruh penjuru nusantara yang berjanji
untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan di negeri ini. Mahasiswa
sepakat untuk menjadikan Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang
terjadi di negeri ini, mahasiswa bersumpah akan terus melakukan perubahan menuju
penerapan Islam secara kaffah.
Penyebab
Mahasiswa menjadi Apatis, perjuangan mahasiswa saat ini menemui jalan buntu
tatkala ditanya, ending
dari perjuangan yang dilakukan di kampus apa? Akankah mengikuti
jejak senior-senior yang terlibat kasus korupsi? Sehingga tak heran jika
mahasiswa menjadi ‘apatis’ terhadap perjuangan yang dilakukan di kampus karena
melihat akhirnya setelah berkoar-koar dikampus tentang perubahan, malah setelah
ikut parlement, atau memiliki jabatan suara-suara perjuangan sudah tidak lagi
terdengar bahkan mungkin mereka bilang “itukan dulu saat mahasiswa”. Sungguh
aneh dan ironis.
Ketika melihat
pemandangan yang terjadi berkali-kali ini tidak hanya mahasiswa yang apatis
bahkan oportunis, masyarakat pun memandang bahwa mahasiswa hanya dijadikan kuda
tunggangan politik. Sehingga masyarakat juga menjadi tidak lagi percaya pada
perjuangan mahasiswa. Ini tejadi karena perjuangan yang dilakukan oleh
mahasiswa tidak memiliki tujuan yang jelas serta cara-cara yang digunakan pun
tidak jelas. Kondisi ini menjadikan perjuangan mahasiswa yang murni, tulus,
ikhlas dalam memperjuangkan masa depan rakyat menjadi berat, karena sulit
mengajak mahasiswa untuk bersama-sama berjuang di sisi lain masyarakat (orang
tua) menjadi tidak percaya terhadap perjuangan mahasiswa. Inilah salah satu
penyebab mengapa mahasiswa apatis terhadap gerakan perjuangan mahasiswa.
Perjuangan Mahasiswa Ideologis, Sejak awal pergerakan mahasiswa
yang tidak memiliki ideologi yang jelas tentu akan mengalami kegagalan.
Sehingga perlu adanya ideologi yang jelas dalam melakukan perubahan. Islam
adalah Ideologi. Ini merupakan sesuatu yang pasti dan sudah jelas. Orang yang
beranggapan bahwa Islam bukan Ideologi, meski dia bergelar Dr., Prof., Lc.,
MA., dipertanyakan gelar akademik mereka. Islam sebagai ideologi maknanya
adalah Islam yang menjadi asas kehidupan yang melahirkan aturan-aturan
kehidupan yang lahir dari asas ini untuk diterapkan dalam kehidupan. Hal ini
terjadi sebagaimana dulu Rasulullah SAW membangun negara Madinah.
Sehingga,
tatkala Islam menjadi idiologi maka saat terjadi masalah dalam bidang ekonomi,
maka solusi yang diambil adalah berdasarkan Islam, bukan Kapitalis. Saat
terjadi masalah dalam bidang hukum diambil hukum berdasarkan Islam, bukan hukum
warisan kolonial belanda/penjajah. Saat terjadi masalah politik, maka akan
diselesaikan bagaimana Islam mengatur politik negara, bukan mencontoh
Montesqui, Arisoteles, dll. Dari sini kita bisa melihat pergerakan mahasiswa
Ideologis dan pergerakan mahasiswa pragmatis. Mana yang memiliki tujuan yang
jelas mana yang samar.
Kenapa harus
Perjuangan Islam sebagai Ideologi? Sejak awal kemerdekaan bangsa ini, Ideologi
yang hendak di terapkan masih tarik ulur antara 3 ideologi yang ada di dunia
yakni Islam, Kapitalis dan Komunisme. Dan akhirnya saat ini yang diterapkan
adalah Demokrasi yang berasaskan Kapitalis-liberalis. Hal ini terlihat secara
nyata dalam penerapan kebijakan-kebijakan pemerintah meski secara tertulis
tidak ada kata-kata kapitalis-liberalis. Hal ini terlihat dalam bidang ekonomi,
bidang pertambangan, bidang pendidikan, bidang hukum, bidang sosial dll.
Islam harus
dipilih sebagai jalan perjuangan mahasiswa disamping memiliki Ide yang jelas,
solusi yang menyeluruh, juga memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh
ideologi yang lain (kapitalis dan komunis) yaitu pahala. Ketika kita berhukum
pada hukum yang Allah turunkan maka kita akan mendapatkan pahala, ini tidak
akan diperoleh saat menjalankan hukum kapitalis maupun komunisme.
Saat kasus
korupsi, dan masalah peradilan yang lainnya diselesaikan dalam hukum islam
tidak perlu bertele-tele seperti saat ini. Bahkan rakyat langsung bisa
memperkarakan pemimpin saat pemimpin tidak melakukan hukum-hukum Allah. Dalam
sistem demokrasi, presiden sebagai pemimpin tertinggi digaji untuk melaksanakan
Demokrasi yang katanya “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Sedangkan dalam
Sistem Khilafah, Khalifah tidak dibayar, tetapi mendapatkan santunan dalam
memenuhi seluruh kebutuhannya, jadi kerjanya khalifah itu adalah mengurusi
rakyat, dan bukan mencari gaji/kekayaan dengan cara menjadi khalifah.
Bagi mahasiswa
yang cerdas, yang melek terhadap kondisi dunia saat ini, akan melihat bahwa
masa depan dunia ini hanya ada pada Islam. Bukan pada kapitalisme apalagi
komunisme. Sebab, Amerika sebagai kampium demokrasi telah gagal, utangnya
membumbung tinggi, bahkan sampai hari ini. Amerika tidak mampu meloby untuk
menaikkan batas ambang utang yang dimiliki suatu negara, maka Amerika akan
menjadi negara gagal yang memiliki banyak utang yang tidak mampu dibayar.
Komunisme telah runtuh pada tahun ‘90-an karena tidak mampu membawa kesejahteraan
hakiki. Untuk itu hanya Islam, sekali lagi hanya Islam yang menjadi masa depan
dunia. Sehingga mahasiswa yang cerdas, mahasiswa yang memiliki pandangan
kedepan akan bergabung dalam barisan perjuangan mahasiswa Ideologis.
Itulah
perbedaan mahasiswa yang apatis dan mahasiswa ideologis, saatnya mahasiswa saat
ini mengambil peran penting serta bergabung dalam barisan mahasiswa ideologis
yang memiliki tujuan dan konsep yang jelas. Sudah saatnya mahasiswa tidak
sekedar memperingati sumpah pemuda tapi mahasiswa harus bergerak melakukan
perubahan menuju negeri ini bahkan dunia menjadi lebih baik dengan Islam.
Caranya sederhana pahami Islam dengan sungguh-sungguh dan sebarkanlah Islam itu
agar menjadi rahmat bagi sekalian alam, tinggalkan sikap apatis lalu ambil langkah
yang tepat yakni menjadi mahasiswa yang ideologis dengan mengambil Islam
sebagai Ideologi yang sahih.
Sumber : http://www.syababindonesia.com/2013/10/sumpah-pemuda-mahasiswa-apatis-versus.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar