Kultur masyarakat yang banyak cengengesan semodel inilah yang kita khawatirkan menjadi penghalang kita untuk maju. Berbagai isu krusial selalu ditanggapi dengan ringan dan biasa saja. Padahal lama-lama hal ini telah membuat kita semakin ‘nanceb’ melekat kuat pada masalah. Isu Ahok-Haji lulung sengaja dibuatnya terpingkal-pingkal, isu naiknya harga kebutuhan pokok dibuat gambar meme yang mampu menyebabkan luka hilang sementara. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas fenomena kemalasan intelektual ini? siapa pihak yang harus kita tuduh dalam menumpulkan kritisme? Namun pertanyaan yang paling jujur dan penting adalah siapa pihak yang harus mendidik masyarakat untuk sadar?
Adalah kita! siapa lagi kalau bukan pemuda?
Mahasiswalah yang seharusnya pihak pertama yang mengambil peran. Maka sudahilah, buang tongsismu, raih kembalilah toa sebagai simbol terlibatnya hati menolak kemungkaran. Hilangkanlah sajak-sajak narsis dan picisan, buang film cinta yang menyebabkan gangguan mental, buanglah!…
Kita tak kan pernah tahu seberapa jauh lagi kita akan terus tercemplung dalam kehinaan hidup dan dalam jilatan najis kapitalisme kalau kita tak memulainya sejak hari ini. Ketahuilah, perhitungan amal terus berjalan, sementara atas dalih ketidaksadaran kita menanggalkan kewajiban dalam mengurus urusan umat. Bagaimana kelak sewaktu izrail benar-benar menemui kita?. [www.dakwahmedia.com]
========================== ====================
@AABELKARIMI, Aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan Jawa Tengah | Penulis buku “Gerakan Menolak Sembrono” |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar