Sabtu, 21 Maret 2015

Karena bukan hanya kita, saudaraku.


 


Pinjam Birumu, Langitku....
Langit Makassar pagi ini tertutupi awan, entah ia bermaksud menggambarkan suasana hatiku, ataukah ia sedang mengusiliku? Bahkan, bisa jadi ia mengikuti suasana hatiku. Namun ia masih terlihat indah, dank au tahu? dibawah naungan kemendungannya ribuan makhluk berbahagia dan bersyukur atas awan tebal yang menyelimutinya dan tlah berhasil menyembunyikan matahari disinggasananya. Aku tak tahu pasti apakah matahari lelah bertugas hari ini? Ataukah awan terlalu egois menguasai pagi. Yang pasti cuaca pagi ini dalam bentuk apapun patut di syukuri. Aku bercerita tentang langit makassarku dihari minggu 22 Maret 2015. Sembari menata hati yang penuh gundah aku berbisik kepada awan “Aku merindukan langit biru, untuk kupinjam birunya untuk hatiku”…

Di bawah langit berselimut awan, di jantung kota Makassar tengah berkibar bebas panji-panji Allah SWT yang tergenggam oleh para pejuangNya. Mereka adalah sebaik-baik pejuang,  muslimah tangguh yang tidak menfokuskan dunianya pada kenikmatan dan kesenangan semata seperti kebanyakan kaum hawa pada umumnya. Pagi ini dalam barisan perjuangan mereka meneriakkan takbir, menyeru kepada dunia bahwa “kita tengah terancam” !!! Seolah membangunkan manusia-manusia apatis wa hedonis dari kabut kenikmatan dunia yang menutupi mata, hati dan keimanan  mereka. 

Terik tak tagi membakar semangatmu hari ini saudariku… namun dari atas sana, kau lihat? Ada sejumlah kepingan awan yang tak terhitung jumlahnya tersenyum bahagia akan perjuanganmu. Ia tengah berbisik kepada langit tentang apa yang ia saksikan di bumi. Dan kau tahu? Bahkan penduduk langit seraya bertakbir ditengah seruanmu.. Ia merindukan hukum Allah SWT terterapkan dimuka bumi… Maka tak mengapa penduduk dunia mencibirmu, mengabaikanmu dan menatapimu sinis karena diatas sana penduduk langit berpihak padamu.. 

Aku tahu mereka pasti iri dengan manusia seperti kalian yang rela berjuang demi agama Tuhannya ditengah hinaan penghuni dunia, sedangkan mereka dari jauh hanya berapalkan do’a-do’a untuk perjuangan kita yang seraya dibisikkannya kepada pencipta. Oleh karenanya saudariku, dalam cuaca seperti apapun berhentilah mengeluh dan mengutuk keadaan dalam perjuangan. Karena sesungguhnya kala itu penduduk langit pun ingin bersama kita dalam perjuangan. 

Dan kau tahu?? Dibelahan bumi lain gemuruh teriakan takbir kembali mengusik kecemburuan penghuni langit. Mereka takhjub dengan manusia yang menggenggam erat agamanya meski tangan yang menggenggamnya itu seolah mengiris perih setiap urat-urat nadinya.. Sungguh, diakhir zaman ini, manusia yang memperjuangkan dan berpegang teguh kepada agama Allah SWT ibarat menggenggam bara. Perih terasa, namun kita sadar bahwa dalam genggaman kita adalah seseatu yang sangat berharga maka demi dzat yang jiwaku ada dalam genggamannya takkan kulepaskan meski aku mati karena perih yang menjalar keseluruh kebagian tubuhku secara perlahan.. Kita menyebutnya “Manusia penggenggam bara Islam”. 

Tentang gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan angkuhnya seolah bergetar akan takbirmu, tak henti ia memohon untuk ikut dalam barisan perjuangan. Kau lihat betapa malunya ia berdiri tinggi nan kokoh tanpa menyeru kepada dunia akan kebobrokan sistem yang manusia terapkan? 

Aku takhjub dengan semangat juang dan jihad kaum muslimin yang terpacu dalam keimanan… maka tak heran jika seseorang mengatakan bahwa “kekuatan terbesar seorang muslim adalah keimanannya, karena dengan bekal keimanan dalam dirinya maka tak ada ketakutan kepada musuh karena rasa takut itu hanya untuk tuhannya”. Maka itupun yang terjadi saat ini, dalam cengkaraman barat yang menguasai negeri-negeri kaum muslimin seharusnya kaum muslimin melawan bukannya takut. Bukankah kita punya Allah yang Maha kuat? Karena sesungguhnya ketakutan besar barat adalah kebangkitan dan perlawanan kaum muslimin? Maka apa lagi yang kita tunggu saudaraku? Mari bersatu dalam barisan perjuangan..!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar