Pinjam Birumu, Langitku....
Langit Makassar pagi
ini tertutupi awan, entah ia bermaksud menggambarkan suasana hatiku, ataukah ia
sedang mengusiliku? Bahkan, bisa jadi ia mengikuti suasana hatiku. Namun ia
masih terlihat indah, dank au tahu? dibawah naungan kemendungannya ribuan makhluk
berbahagia dan bersyukur atas awan tebal yang menyelimutinya dan tlah berhasil
menyembunyikan matahari disinggasananya. Aku tak tahu pasti apakah matahari
lelah bertugas hari ini? Ataukah awan terlalu egois menguasai pagi. Yang pasti
cuaca pagi ini dalam bentuk apapun patut di syukuri. Aku bercerita tentang
langit makassarku dihari minggu 22 Maret 2015. Sembari menata hati yang penuh
gundah aku berbisik kepada awan “Aku merindukan langit biru, untuk kupinjam
birunya untuk hatiku”…
Di bawah langit
berselimut awan, di jantung kota Makassar tengah berkibar bebas panji-panji
Allah SWT yang tergenggam oleh para pejuangNya. Mereka adalah sebaik-baik
pejuang, muslimah tangguh yang tidak
menfokuskan dunianya pada kenikmatan dan kesenangan semata seperti kebanyakan
kaum hawa pada umumnya. Pagi ini dalam barisan perjuangan mereka meneriakkan
takbir, menyeru kepada dunia bahwa “kita tengah terancam” !!! Seolah
membangunkan manusia-manusia apatis wa hedonis dari kabut kenikmatan dunia yang
menutupi mata, hati dan keimanan mereka.
Terik tak tagi membakar
semangatmu hari ini saudariku… namun dari atas sana, kau lihat? Ada sejumlah
kepingan awan yang tak terhitung jumlahnya tersenyum bahagia akan perjuanganmu.
Ia tengah berbisik kepada langit tentang apa yang ia saksikan di bumi. Dan kau tahu?
Bahkan penduduk langit seraya bertakbir ditengah seruanmu.. Ia merindukan hukum
Allah SWT terterapkan dimuka bumi… Maka tak mengapa penduduk dunia mencibirmu,
mengabaikanmu dan menatapimu sinis karena diatas sana penduduk langit berpihak
padamu..
Aku tahu mereka pasti
iri dengan manusia seperti kalian yang rela berjuang demi agama Tuhannya
ditengah hinaan penghuni dunia, sedangkan mereka dari jauh hanya berapalkan
do’a-do’a untuk perjuangan kita yang seraya dibisikkannya kepada pencipta. Oleh
karenanya saudariku, dalam cuaca seperti apapun berhentilah mengeluh dan
mengutuk keadaan dalam perjuangan. Karena sesungguhnya kala itu penduduk langit
pun ingin bersama kita dalam perjuangan.
Dan kau tahu?? Dibelahan
bumi lain gemuruh teriakan takbir kembali mengusik kecemburuan penghuni langit.
Mereka takhjub dengan manusia yang menggenggam erat agamanya meski tangan yang
menggenggamnya itu seolah mengiris perih setiap urat-urat nadinya.. Sungguh,
diakhir zaman ini, manusia yang memperjuangkan dan berpegang teguh kepada agama
Allah SWT ibarat menggenggam bara. Perih terasa, namun kita sadar bahwa dalam
genggaman kita adalah seseatu yang sangat berharga maka demi dzat yang jiwaku
ada dalam genggamannya takkan kulepaskan meski aku mati karena perih yang
menjalar keseluruh kebagian tubuhku secara perlahan.. Kita menyebutnya “Manusia
penggenggam bara Islam”.
Tentang gedung-gedung
pencakar langit yang berdiri dengan angkuhnya seolah bergetar akan takbirmu,
tak henti ia memohon untuk ikut dalam barisan perjuangan. Kau lihat betapa
malunya ia berdiri tinggi nan kokoh tanpa menyeru kepada dunia akan kebobrokan
sistem yang manusia terapkan?
Aku takhjub dengan
semangat juang dan jihad kaum muslimin yang terpacu dalam keimanan… maka tak
heran jika seseorang mengatakan bahwa “kekuatan terbesar seorang muslim adalah
keimanannya, karena dengan bekal keimanan dalam dirinya maka tak ada ketakutan
kepada musuh karena rasa takut itu hanya untuk tuhannya”. Maka itupun yang
terjadi saat ini, dalam cengkaraman barat yang menguasai negeri-negeri kaum
muslimin seharusnya kaum muslimin melawan bukannya takut. Bukankah kita punya
Allah yang Maha kuat? Karena sesungguhnya ketakutan besar barat adalah
kebangkitan dan perlawanan kaum muslimin? Maka apa lagi yang kita tunggu
saudaraku? Mari bersatu dalam barisan perjuangan..!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar