Jumat, 21 November 2014

Tetesan Penantian




Langit Makassarku, 26 Oktober 2014 @Beranda Mesjid

Sedikit tak mengerti mengapa kata rindu menghadirkan rindu. Mengapa kata rindu membubuhi manisnya surat cinta. Mengapa rindu kata andalan sang pujangga, dan mengapa kata rindu yang tak pernah kau ucap padaku???? Ah, lupakan.
Dirimu dan hujan begitu indah. Keindahan yang harus menghilang bersama tetesan hujan kala senja. Di rumahNya kita berteduh kasih tersedu luapan rindu tetesan dari langit. Bedanya kau biarkan aku menikmati sendiri percikan air hujan diluar beratap tapi tak berdinding, dan kau bersama hangatnya cinta kata hikmah beratap dan berdinding dengan wajah berhias senyum sesekali panik membuang pandangan keluar. Bukan memandangiku, bukan mengkwatirkanku namun memandangi hujan yang membasahi milikmu. Sepertinya aku belum milikmu, meski ada harap dalam hati tapi biarlah terhapus tetesan deras air hujan. Bukankah setelahnya muncul pelangi dalam masing-masing hati? Meski dibunuh pekat malam namun kita masih punya anugrah pikiran untuk memikirkan indahnya. Membayangkan kisah manis yang dirangkai bersama cinta. Aku memang selalu menanti hujan dikemarau berkempanjangan kemarin namun rasanya menantimu jauh lebih keseringan lagi meski datangmu tak sejarang hujan yang tak pernah berkunjung kehidupku, menyapa dan menostalgiakan anganku. Tapi kamu … datang tapi tak hadir. Bukan menyebalkan, namun terima kasih telah terjaga...
Hujan… awal hadirmu menghadirkan beberapa kisah manis dalam hidupku. Hadirmu memang selalu menghadirkan aroma kasih disetiap insane. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar