Langit Makassarku, 26 Oktober 2014 @Beranda Mesjid
Sedikit tak mengerti mengapa kata rindu
menghadirkan rindu. Mengapa kata rindu membubuhi manisnya surat cinta. Mengapa
rindu kata andalan sang pujangga, dan mengapa kata rindu yang tak pernah kau
ucap padaku???? Ah, lupakan.
Dirimu dan hujan
begitu indah. Keindahan yang harus menghilang bersama tetesan hujan kala senja.
Di rumahNya kita berteduh kasih tersedu luapan rindu tetesan dari langit.
Bedanya kau biarkan aku menikmati sendiri percikan air hujan diluar beratap
tapi tak berdinding, dan kau bersama hangatnya cinta kata hikmah beratap dan
berdinding dengan wajah berhias senyum sesekali panik membuang pandangan
keluar. Bukan memandangiku, bukan mengkwatirkanku namun memandangi hujan yang
membasahi milikmu. Sepertinya aku belum milikmu, meski ada harap dalam hati
tapi biarlah terhapus tetesan deras air hujan. Bukankah setelahnya muncul
pelangi dalam masing-masing hati? Meski dibunuh pekat malam namun kita masih
punya anugrah pikiran untuk memikirkan indahnya. Membayangkan kisah manis yang
dirangkai bersama cinta. Aku memang selalu menanti hujan dikemarau
berkempanjangan kemarin namun rasanya menantimu jauh lebih keseringan lagi
meski datangmu tak sejarang hujan yang tak pernah berkunjung kehidupku, menyapa
dan menostalgiakan anganku. Tapi kamu … datang tapi tak hadir. Bukan
menyebalkan, namun terima kasih telah terjaga...
Hujan… awal hadirmu menghadirkan beberapa
kisah manis dalam hidupku. Hadirmu memang selalu menghadirkan aroma kasih
disetiap insane.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar