Jumat, 21 November 2014

Anak Kecil Bersama Hujan





Setiap tetes yang dihadirkannya adalah cinta. Bagai cinta yang diturunkan tuhan dari langit untuk dibumikan kepada makhluknya. Percikan sayang membasahi gersang hatiku. Aku menatap tempat bertumpahnya kasih yang kusebut hujan, menikmati setiap tetesnya meski tak merasakannya. Aku suka hujan, aku tengah sibuk menghitung beberapa tetesan air hujan yang menjelma menjadi cinta turun kebumi, membasahi tanah dan membuat basah dedaunan dan juga sepatu milik umi dan abiku. Tetesan air hujan di penghujung kemarau itu seperti cinta kedua orang tua kepadaku. Menyejukkan, dinanti dan kunikmati.. Alunan merdu suara kasih ketika rintiknya jatuh keatap mesjid. Aku tak peduli tatapan pasang mata yang memandangiku aneh menikmati hujan bak seorang yang melihat bintang berguguran kebumi. Bagiku mereka adalah orang-orang yang sudah tak pantas menikmati hujan sepertiku, mereka harusnya menerima materi dari pak kiyai yang selepas ashar tadi mulai menyampaikan petuah Islamnya. Diberanda mesjid ini aku menikmati hujan, meski jauh disana diberanda mesjid yang sama seorang kakak mengabadikan potretku menikmati tetesan air hujan, aku tak peduli. Sepertinya ia pencinta hujan namun tak bisa menikmatinya sepertiku, ia harus fokus menerima materi dari pak kiyai.
Aku belum puas merasakan nikmat hujan. Umi.. Abi.. izinkanku bermain dan menari bersama hujan, sperti halnya dedaunan yang asyik bercumbu dengan sejuk hujan… 
 
Makassar.. @Mesjid BTP Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar