Setiap tetes yang dihadirkannya adalah
cinta. Bagai cinta yang diturunkan tuhan dari langit untuk dibumikan kepada
makhluknya. Percikan sayang membasahi gersang hatiku. Aku menatap tempat
bertumpahnya kasih yang kusebut hujan, menikmati setiap tetesnya meski tak
merasakannya. Aku suka hujan, aku tengah sibuk menghitung beberapa tetesan air
hujan yang menjelma menjadi cinta turun kebumi, membasahi tanah dan membuat
basah dedaunan dan juga sepatu milik umi dan abiku. Tetesan air hujan di
penghujung kemarau itu seperti cinta kedua orang tua kepadaku. Menyejukkan,
dinanti dan kunikmati.. Alunan merdu suara kasih ketika rintiknya jatuh keatap
mesjid. Aku tak peduli tatapan pasang mata yang memandangiku aneh menikmati
hujan bak seorang yang melihat bintang berguguran kebumi. Bagiku mereka adalah
orang-orang yang sudah tak pantas menikmati hujan sepertiku, mereka harusnya
menerima materi dari pak kiyai yang selepas ashar tadi mulai menyampaikan
petuah Islamnya. Diberanda mesjid ini aku menikmati hujan, meski jauh disana
diberanda mesjid yang sama seorang kakak mengabadikan potretku menikmati
tetesan air hujan, aku tak peduli. Sepertinya ia pencinta hujan namun tak bisa
menikmatinya sepertiku, ia harus fokus menerima materi dari pak kiyai.
Aku belum puas merasakan nikmat hujan.
Umi.. Abi.. izinkanku bermain dan menari bersama hujan, sperti halnya dedaunan
yang asyik bercumbu dengan sejuk hujan…
Makassar.. @Mesjid BTP Oktober 2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar