Jumat, 21 November 2014

“ Konsep Dasar Assesmen “



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dalam konteks assesmen, perbedaan cara pandang terhadap konsep belajar dan pembelajaran mempengaruhi bagaimana assesmen dirancang. Perkembangan ilmu di bidang Psikologi Pendidikan berdampak pula terhadap cara pandang guru/dosen tentang desain pembelajaran, praktik pembelajaran dan tentu saja assesmen pembelajaran. Misalnya, tren pergeseran paradigma belajar mengajar berdasarkan pendekatan behavoristik ke konstruktivistik.
Mengingat begitu pentingnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mengases proses dan hasil belajar, selayaknya para guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi memadukan berbagai pendekatan (behavirisme dan konstruktivisme) dalam melaksanakan asesmen proses dan hasil pembelajarannya, sekedar pengatahuan awal. Berikut ini secara berurutan akan dipaparkan hakikat asesmen proses dan hasil belajar, tujuan, prinsip-prinsip asesmen proses dan hasil belajar; sasaran ranah kompetensi belajar; teknik-teknik asesmen, prosedur asesmen proses dan hasil belajar dan implikasinya dalam pembelajaran.
Dalam mendeskripsikan konsep dan kegunaan berbagai jenis asesmen, baik terstandar maupun tidak terstandar. Dalam menentukan secara spesefik alat asesmen yang akan digunakan sesuai dengan informasi yang akan dikumpulkan. Terbiasa mengakses dan menggunakan strategi asasmen yang tepat. Memiliki kemampuan dalam membimbing dan memberikan masukan kepada pihak terkait dalam menentukan strategi asesmen yang tepat.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas kami dapat merumuskan beberapa permasalahan diantaranya:
1.       Apakah yang dimaksud dengan asesmen ?
2.       Apakah yang dimaksud dengan pengukuran ?
3.       Apakah yang dimaksud dengan evaluasi ?
4.       Apakah yang dimaksud dengan tes ?
5.      Apa tujuan asesmen ?
6.   Apa fungsi asesmen

C.  Tujuan Masalah
1. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan asesmen.
2. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan pengukuran.
3. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi.
4. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan tes.
5.  Mengerti dan memahami tujuan  assesmen.
6.  Mengerti dan memahami fungsi assesmen.






BAB II
KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN

A.    PENGERTIAN ASESMEN, PENGUKURAN, DAN EVALUASI
1.      Asesmen dalam Pembelajaran
Oval: KURIKULUMTugas seorang guru dalam pembelajaran sangatlah kompleks, akan tetapi jika dirinci sebenarnya hanya bertumpu pada tiga aspek yang saling berkaitan yakni penguasaan kurikulum, kegiatan belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Ketiga hal tersebut menjadi titik sentral yang tidak akan pernah hilang meskipun kurikulum berubah beberapa kali. Secara sederhana keterkaitan ketiga aspek tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

















Oval: EVALUASI






 




Diagram 1.1. Keterkaitan Kurikulum – KBM – Evaluasi

Kurikulum sangat diperlukan untuk menyusun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran mulai dari yang sangat umum dan kompleks sampai kepada tujuan yang sangat rinci. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan cara yang dianggap paling efektif dan efisien. Pilihan tersebut akan tercermin dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM). Ada banyak pendekatan, metode, strategi, teknik, dan model yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan. Selanjutnya, untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan pembelajaran telah tercapai atau belum diperlukan evaluasi baik dari segi proses dan hasil pembelajaran. Hasil evaluasi akan memberikan gambaran dimana terjadinya hambatan jika tujuan tidak tercapai, apakah pada tujuan, pada KBM, atau pada sistem evaluasi itu sendiri.
Mengevaluasi hasil belajar diperlukan berbagai cara dan teknik yang sesuai dengan hakekat pemelajaran itu sendiri. Pengukuran hasil belajar yang hanya difokuskan pada tes tertulis (paper and pencil test) semata, sudah harus ditambah dengan pengamatan secara langsung terhadap teknik yang digunakan siswa, ketepatan prosedur yang dilakukan dan hasil yang diperoleh. Perubahan sistem evaluasi dalam pembelajaran merupakan kebijakan yang perlu ditempuh untuk meningkatkan mutu pendidikan. Perubahan kurikulum dan penerapan model-model pembelajaran yang dianggap inovatif, tidak akan ada artinya tanpa didukung oleh sistem evaluasi yang berkualitas. If you want to change about student learning then change the methods of assessment (Brown, Bull, and Pandlebury, 1997: 7).
Tilstone (1991) mengemukakan bahwa untuk mengevaluasi apa yang dikerjakan, seorang guru perlu menjawab 6 pertanyaan mendasar yaitu: (1) apa yang sebenarnya siswa lakukan?, (2) apa yang telah mereka pelajari?, (3) bagaimana kemampuan mereka terhada pelajaran tersebut?, (4) apa yang telah saya lakukan?, (5) apa yang telah saya pelajari?, dan (6) apa yang ingin saya lakukan sekarang?
Proses pembelajaran di kelas diawali dengan merancang kegiatan pembelajaran. Salah satu aspek yang harus ada dalam perencanaan tersebut adalah tujuan pengajaran sebagai target yang diharapkan dari proses belajar mengajar dan cara bagaimana tujuan dan proses belajar mengajar tersebut dapat dicapai dengan efektif. Kemudian berdasarkan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan dilaksanakan kegiatan pembelajaran, yang akan diikuti dengan kegiatan evaluasi pembelajaran. Ada beberapa istilah yang saling berhubungan erat dan perlu dipahami lebih jauh, yakni penilaian (assessment), pengukuran (measurement), evaluasi (evaluation), dan tes (test).


2.      Asesmen (Assessment)
Asesmen diambil dari kata “assessment” yang sering diartikan penilaian. Dalam makalah ini akan digunakan istilah asesmen sebagai ganti dari istilah penilaian. Poerwanti (2008) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran selalu muncul pertanyaan, apakah kegiatan pengajaran sesuai dengan tujuan, apakah siswa telah dapat menguasai materi yang disampaikan, dan apakah proses pembelajaran telah mampu membelajarkan siswa secara efektif dan efisien. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan asesmen pembelajaran.
Asesmen adalah satu proses yang bertujuan untuk meningkatkan/memperbaiki proses belajar siswa melalui umpan balik yang efektif.  Asesmen merupakan alat yang efektif untuk mengetahui kemajuan yang dibuat dalam pencapaian tujuan tersebut. Asesmen melibatkan proses yang berjalan terus menerus dalam proses yang berjalan terus menerus dalam proses pengumpulan data dan menginterpretasi data yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dan memperbaiki proses pembelajaran (Just Science Now, 2001, Download, Agustus 2005).
            Secara umum, asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah (Poerwanti, 2008). Selanjutnya, Subyanto (1988) mengemukakan bahwa asesmen adalah penerapan praktis dari pengukuran atau cara memperoleh data melalui berbagai bentuk pengukuran. Asesmen juga merupakan proses menyimpulkan, menafsirkan fakta-fakta, dan membuat pertimbangan dalam mengambil kebijakan.
3. Pengukuran (Measurement)
            Pengukuran dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang sesuai dan akurat tentang sesuatu yang diukur. Pengukuran adalah kegiatan yang dilakukan untuk membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Wandt dan Brown dalam Sudijono (1998) menyatakan “measurement means the ach or process of exestaining the extent or quantity of something (pengukuran adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas dari sesuatu- menjawab pertanyaan how much? Adapun asesmen dan evaluasi adalah tindakan atau proses menentukan nilai sesuatu-menjawab pertanyaan what value ?
            Secara sederhana pengukuran dapt diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Subiyanto (1988) mengemukakan bahwa pengukuran dapat diartikan sebagai proses mengenakan angka-angka kepada barang atau gejala berdasarkan  aturan-aturan tertentu. Untuk keperluan pengukuran diperlukan alat ukur dan satuan untuk besaran /ukuran tertentu. Ukuran jarak misalnya, ukuran meter atau satuan meter, kilometer, mil, atau ukuran relative seperti jengkal atau hasta. Besaran massa diukur dengan timbangan atau neraca dengan satuan dasar gram atau kilogram, dan untuk besaran waktu dapat diukur dengan jam atau stopwatch dengan satuan detik atau menit.
            Guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil belajar. Hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian dari proses dan hasil belajar. Biasanya angka-angka hasil pengukuran baru mempunyai makna bila dibandingkan dengan criteria atau patokan tertentu.
4. Evaluasi (Evaluation)
            Evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat criteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan (Morrison, 1982). Dalam rumusan ini ada tiga faktor utama yakni pertimbangan (judgement), deskripsi objek penilitian, dan criteria yang dapat dipertanggungjawabkan (Hamalik, 1993). Selanjutnya, Brown dalam Sudijono (1998) menyatakan bahwa “evaluation refers to the ach or prosess to determining the value of something- suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sementara itu, Gronlund jauh sebelumnya (1976) telah merumuskan pengertian evaluasi dengan menyatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis.
            Evaluasi proses kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan Subiyanto (1988) menyatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang ditempuh oleh seseorang untuk memperoleh informasi yang berguna untuk menentukan mana dari dua atau lebih alternative yang diinginkan. Menurut Poerwanti (2008) evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan criteria tertentu.
            Criteria yang berupa batas criteria minimal yang ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak atau Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria (PAP/PAK) ada juga criteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan pada keadaan kelompok yang brsifat relative disebut juga Penilaian Acuan Norma/Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR). Oleh Harlen (1996) ditambahkan satu criteria yang disebut didasarkan pada kemajuan yang dicapai siswa sendiri (student reference assessment) atau disebut juga Penilaian Acuan Siswa (PAS).
5. Tes (Test)
Menurut Colligiate dalam Arikunto (1995), tes adalah  serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dalam melaksanakan proses asesmen pembelajaran, guru selalu berhadapan dengan konsep-konsep evaluasi, asesmen, pengukuran, dan tes yang dalam penerapannya sering dilakukan secara stimulant. Sebab itu dalam praktik ketiganya sering tidak dirasakan pemisahnya, karena melakuakn asesmen berarti telah pula melakukan ketiganya. Waktu melaksanakan asesmen guru pasti telah menciptakan alat ukur berupa tes maupun nontes seperti soal-soal ujian, observasi proses pembelajaran dan sebagainya. Melakukan pengukuran, yaitu mengukur atau memberi angka terhadap proses pembelajaran ataupun pekerjaan siswa sebagai hasil belajar yang merupakan cerminan tingkat penguasaan terhadap materi yang dipersyaratkan, kemudian membandingkan angka tersebut dengan criteria tertentu yang berupa batas penguasaan minimum ataupun berupa kemampuan umum kelompok, sehingga muncullah nilai yang
6.      Terkait Assesmen, Pengukuran dan Evaluasi
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kualitas proses dan hasil pelajaran. Evaluasi adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya, evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (Value judgement). Penilaian (Assesment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk  memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi siswa.
            Melakukan asesmen selalu diawali dengan menyusun tes atau non tessebagai instrument untuk mengukur tujuan-tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (pengukuran). Hasil pengukuran berupa angka bersifat kuantitatif baru akan bermakna jika dibandingkan tertentu (asesmen). Hasil yang diperoleh dijadikan sebagai landasan pengambilan kepuutusan dalam pembelajaran (evaluasi). Sebaliknya, penilaian (penentuan kualitas) tidak dapat dilakukan tanpa didahului dengan proses pengukuran. Jadi, dapat diartikan bahwa asesmen pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk landasan pengambilan keputusan tentang siswa, baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah.
B. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Asesmen
1. Tujuan Asesmen
Secara umum tujuan utama asesmen menurut Dikmenum, Depdiknas (2004) ada empat yaitu :
a.       Keeping tranck, yakni tetap pada acuan melacak kemajuan siswa dalam pembelajaran.
b.      Checking up, yakni mengecek ketercapaian tujuan-tujuan yang ingin dicapai,
c.       Finding out, yakni menemukan/ mendeteksi letak kekurangan maupun keberhasilan suatu program.
d.      Summing up, membuat kesimpulan untuk pelaksanaan program lebih lanjut.
Adapun tujuan asesmen adalah untuk menilai kemampuan individual melalui tugas-tugas tertentu, menentukan kebutuhan pembelajaran, membantu dan mendorong siswa untuk belajar lebih baik, membantu guru untuk mengajar ,lebih baik, menentukan strategi pembelajaran dan meningkatkan kualitas pendidikan. Secara lebih rinci, Poerwanti (2008) menjabarkan tujuan asesmen berbasis kelas, sebagai berikut :
a.       Pendidik dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat mencapai tingkat pencapaian komptensi yang dipersyaratkan.
b.      Pendidik langsung memberikan umpan balik kepada peserta didik, sehingga tidak perlu lagi menunda atau menunggu ulangan semester untuk bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
c.       Secara terus menerus dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar yang dicapai setiap peserta didik, sekaligus mendiagnosis kesulitan belajar yamh dialami peserta didik sehingga secara tepat dapat menentukan siswa mana yang perlu pengayaaan dan siswa yang perlu pembelajaran remedial untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.
d.      Hasil pemantauan kemajuan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terus menerus tersebut juga akan dapat dipakai sebagai umapn balik untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
e.       Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan, tidak perlu menunggu akhir semester atau  akhir tahun.
Just Sience Now (Download, Agustus 2008) mengelompokkan 3 tipe dan tujuan asesmen, yaitu diagnostic assessment yang bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar atau miskonsepsi hal-hal yang telah dipelajari, formative assessment yang berlaku selama proses pembelajaran dan bertujuan untuk melihat sejauh mana siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan sesuai tujuan pembelajaran tanpa penekanan pada pemberian rangking yang digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran, dan summative assessment yang ditujukan untuk pembuat keputusan akhir belajar siswa dan keefektifan proses pembelajaran.
Tanner dan Jones (Surapranata, 2004) membagi tujuan asesmen kelas atas tiga hal utama yaitu aspek manajerial, komunikasi, dan pedagogik, dan dirinci seperti tabel berikut ini :
Tabel 1.1. Tujuan Assesmen berbasis Kelas
Aspek
Tujuan
Manajerial
1.      Menguji keefektifan kebijakan pemerintah
2.      Menjamin akuntabilitas sekolah
3.      Memotivasi guru
4.      Menyeleksi peserta didik
5.      Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan sekolah
6.      Mengendalikan kurikulum
komunikasi
1.      Menyediakan informasi kepada orang tua siswa
2.      Menyediakan informasi kepada guru dan institusi
3.      Menyediakan I formasi status/kategori sekolah
4.      Informasi bagi guru dan siswa tentang kurikukum
Pedagogis
1.      Mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran
2.      Menganalisis keberhasilan peserta didik
3.      Menyajikan umpan balik (feedback) bagi guru
4.      Memotivasi belajar peserta didik
5.      Mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami
6.      Mendiagnosis kesulitan belajar
7.      Mengatahui ketercapaian mutu pendidikan
Selanjutnya, menurut Harlen (1996) tujuan penilaian di sekolah dapat direntang berdasarkan perbaikan program pembelajaran dan penggambaran hasil belajar secara kelompok. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Membantu siswa dalam belajar (menemukan bagian mana dalam proses pembelajaran yang tidak terdapat kemajuan, dan kesulitan utama apa yang ditemui siswa dalam belajar).
b.      Menyimpulkan hasil belajar yang dicapai pada waktu tertentu (membuat arsip, melaporkan ke orang tua, kepada guru yang lain, atau kepada siswa sendiri).
c.       Mengelompokkan siswa pada kelompok tertentu (kelompok dalam kelas, pindah level kelas, atau sertifikasi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi).
d.      Menilai keefektifan mengajar (hasil belajar yang dicapai dibandingkan dengan hasil belajar yang dicapai sebelumnya, baik secara individu maupun keseluruhan kelas).
e.       Memonitor penampilan hasil belajar siswa ditingkat regional atau nasional (menggambarkan kedudukan siswa atau sekolah dalam standar mutu pendidikan secara regional atau nasioanal).
f.       Menyiapkan data untuk penelitian dan penilaian untuk pengadaan materi-materi pembelajaran yang “baru” atau reformasi pendidikan.

2. Fungsi Assesmen
Secara rinci fungsi dari penilaian kelas (Depdiknas, 2006) dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi yang ditargetkan dalam pembelajaran.
b.      Sebagai landasan pelaksanaan evaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya,baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
c.       Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu pendidik menentukan apakah seorang siswa perlu mengikuti remedial atau justru memerlukan program pengayaan.
d.      Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan ataupun yang sedang berlangsung. Temuan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penentuan langkah perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
e.       Merupakan control bagi guru sebagai pendidik dan semua stake holder pendidikan dalam lingkup sekolah tentang gambaran kemajuan perkembangan proses dan hasil belajar peserta didik.
Fungsi assesmen berbasis kelas dapat juga dilihat dari aspek guru, siswa, dan orang tua siswa. Bagi guru, sudah disinggung beberapa kali, bahwa assesmen dapat berfungsi sebagai umpan balik pada program jangka pendek sehingga dapat dlakukan koreksi/ perbaikan, membant pembuatan laporan, dan meningkatkan efisiensi pembelajaran. Bagi siswa, assesmen dapat berfungsi memantau kemajuan yang dicapai dan berusaha untuk pencapaian yang lebih baik. Sedangkan bagi oran tua, assesmen berfungsi memberikan informasi tentang keunggulan dan kekurangan anaknya di sekolah, mendorong dan mengarahkan orang tua untuk memberikan bimbingan di rumah.










BAB III
KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
Asesmen diambil dari kata “assessment” yang sering diartikan penilaian. Asesmen adalah satu proses yang bertujuan untuk meningkatkan/memperbaiki proses belajar siswa melalui umpan balik yang efektif.  Asesmen merupakan alat yang efektif untuk mengetahui kemajuan yang dibuat dalam pencapaian tujuan tersebut. Asesmen melibatkan proses yang berjalan terus menerus dalam proses yang berjalan terus menerus dalam proses pengumpulan data dan menginterpretasi data yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dan memperbaiki proses pembelajaran

B.     Saran
Mengingat begitu pentingnya asesmen ini maka setiap guru  harus memahami dan mengimplementasikan asesmen. Apabila proses asesmen tidak dilakukan maka pembelajaran yang dilakukan tidak memiliki dasar/pijakan untuk mencapai indikator materi pembelajaran yang diharapkan.  Dengan demikian asesmen memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar