Selasa, 08 Juli 2014

Tanpa Kesedihan Mendalam


Tanpa kesedihan yang mendalam
Bersama hembusan angin aku luapkan rasa ini, karena yang mampu menenangkanku kala itu adalah hembusan angin. Angin sore di kota Makassar. 29 Mei 2014

Tak percaya. Mungkin hingga sekarang tengah kurasakan, kabar itu mendarat ditelingaku kala semangatku tengah menggebu dalam mengkampayekan sebuah acara akbar yang diadakan oleh salah satu parpol Islam non parlemen diadakan pada awal bulan juni mendatang. Konferensi Islam dan Peradabam #KIP dengan mengusung tema : #IndonesiaMilikAllah.
Ditengah kesibukan mempersiapkan acara besar tersebut, musibah besar juga menimpa keluarga tercinta dimana kakek (Ayah dari Ibu saya)  meninggal dunia tepat tanggal 29 Mei 2014 sore. Sedih, sudah pasti namun dilema tetap mengitari benteng pertahanan imanku kala pilihan yang telah disuguhkan oleh takdir. Maka kuputuskan untuk pulang kampung dengan membawa luka, aku masih ingat moment dramatis yang kulalui diperjalanan pulang sore itu. Terasa angin membelai lembut pipiku yang mengalirkan air mata, adakah kau tahu angin itu seakan dengan lembutnya menghapus air mata dipipi. Pemandangan indah sore itu terasa menghibur hati yang dirundung pilu akan kehilangan. Rasanya tak sanggup untuk sampai di kampung halaman (Bulukumba), tak sanggup rasanya melihat pemandangan sendu disetiap sudut rumah, terlebih lagi aku tak sanggup melihat tubuh kaku tak bernyawa itu tergeletak nyata didepanku.  Nyata.
“Aku berharap perjalanan pulang ini membutuhkan waktu yang lama” aku tak sanggup….
Disaat amanah disebuah acara terabaikan oleh sebuah musibah yang tengah melanda.. maka sebagai seorang makhluk aku bisa apa? My beloved grandfa I Miss u .. #KIP do’a suksesku senantiasa teriring untukmu…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar