Tanpa
kesedihan yang mendalam
Bersama
hembusan angin aku luapkan rasa ini, karena yang mampu menenangkanku kala itu
adalah hembusan angin. Angin sore di kota Makassar. 29 Mei 2014
Tak percaya. Mungkin
hingga sekarang tengah kurasakan, kabar itu mendarat ditelingaku kala
semangatku tengah menggebu dalam mengkampayekan sebuah acara akbar yang
diadakan oleh salah satu parpol Islam non parlemen diadakan pada awal bulan
juni mendatang. Konferensi Islam dan Peradabam #KIP dengan mengusung tema :
#IndonesiaMilikAllah.
Ditengah kesibukan
mempersiapkan acara besar tersebut, musibah besar juga menimpa keluarga
tercinta dimana kakek (Ayah dari Ibu saya)
meninggal dunia tepat tanggal 29 Mei 2014 sore. Sedih, sudah pasti namun
dilema tetap mengitari benteng pertahanan imanku kala pilihan yang telah
disuguhkan oleh takdir. Maka kuputuskan untuk pulang kampung dengan membawa
luka, aku masih ingat moment dramatis yang kulalui diperjalanan pulang sore
itu. Terasa angin membelai lembut pipiku yang mengalirkan air mata, adakah kau
tahu angin itu seakan dengan lembutnya menghapus air mata dipipi. Pemandangan
indah sore itu terasa menghibur hati yang dirundung pilu akan kehilangan.
Rasanya tak sanggup untuk sampai di kampung halaman (Bulukumba), tak sanggup
rasanya melihat pemandangan sendu disetiap sudut rumah, terlebih lagi aku tak
sanggup melihat tubuh kaku tak bernyawa itu tergeletak nyata didepanku. Nyata.
“Aku
berharap perjalanan pulang ini membutuhkan waktu yang lama” aku tak sanggup….
Disaat amanah disebuah
acara terabaikan oleh sebuah musibah yang tengah melanda.. maka sebagai seorang
makhluk aku bisa apa? My beloved grandfa I Miss u .. #KIP do’a suksesku
senantiasa teriring untukmu…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar