Perlahan percikan
itu membasahi sisi gersang di sudut hati yang terpasung oleh sedih, terabai
oleh bahagia. Tenang saja, setiap tetes yang dipersembahkan adalah sebuah
ketulusan, tak peduli amarah yang digelegarkan bersama cahaya nan silau, dia
tetap memberi sebuah ketenangan sendiri bagi insan yang menghargai setiap
ketulusan yang diberinya, tanpa harus berkeluh kesah dengan sesuatu yang
sebenarnya bisa di siasati.
Entah mengapa ia
selalu saja mengalihkan perhatianku, meski dikala bahagia tengah menghampiri
hati yang kosong dengan harapan namun masih terhiasi cinta. Ah, aku masih punya
cinta kawan, meski tak kuungkap, tak mesti aku pamer dengan status alay di
media sosial, atau kuekspresikan dengan sebuah aktivitas hina “Pacaran”. Bagiku
orang pacaran itu bodoh ! (Silahkan tersinggung). Meski memang aku pernah
melakukan aktivitas yang dilakukan oleh orang bodoh tersebut namun satu
kesyukuran bagi seorang manusia seperti aku, hingga bisa menahan diri dari
kehinaan yang mereka sebut “Pacaran” dan ini kembali karena percikan kesejukan
menentramkan hati, yang sebenarnya sering merindu.
Aku selalu
menguatkan sisi rapuh dalam diriku dengan sebuah janji dariNya, sisi yang bisa
berubah kapan saja jika keistiqomahan telah melepaskan ikatannya dan pergi.
Hati. Hingga akhirnya sedih, sepi dan rasa yang tak semesti lainnya pergi
bersama dengan butiran dari langit, aku selalu berharap butiran itu
mengalirkannya ke muara bahagia. Aku tahu, semua pasti berharap. Disisi lain,
ia memberikan lukisan indah dibumi setelah ia bermain bersama angin berselimut
awan tebal. Indah sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan
kedamaian tersendiri. Sungguh ciptaanNya tak tertandingi.
“Dan kembali ia pergi bersama dengan segenap
kegundahan dalam hati, ia bawa lari dan menyisahkan sebuah pelangi setelah
menumpahkan semua rezeki dariNya berupa tetesan air yang mereka sebut “Hujan”.
Ini sejuk.”
Hingga akhirnya
angin membangunkanku dari lamunan. Aku beranjak pergi bersama tetesan yang
disisakan oleh hujan tadi. Ini seakan membuatku ingin berteriak “Aku mencintai
hujan terlebih kepada penciptaNya”
(Nining Amalia
bersama hujan di pangkuan sepi dalam dekapan senja)
Menikmati Hujan di
Sabtu sore, 8 maret 2014 @Beranda Gd. HL lantai 2 FIP UNM/ 17:44

Tidak ada komentar:
Posting Komentar