Rabu, 30 April 2014

Yang pergi bersama “Hujan”



Perlahan percikan itu membasahi sisi gersang di sudut hati yang terpasung oleh sedih, terabai oleh bahagia. Tenang saja, setiap tetes yang dipersembahkan adalah sebuah ketulusan, tak peduli amarah yang digelegarkan bersama cahaya nan silau, dia tetap memberi sebuah ketenangan sendiri bagi insan yang menghargai setiap ketulusan yang diberinya, tanpa harus berkeluh kesah dengan sesuatu yang sebenarnya bisa di siasati.
Entah mengapa ia selalu saja mengalihkan perhatianku, meski dikala bahagia tengah menghampiri hati yang kosong dengan harapan namun masih terhiasi cinta. Ah, aku masih punya cinta kawan, meski tak kuungkap, tak mesti aku pamer dengan status alay di media sosial, atau kuekspresikan dengan sebuah aktivitas hina “Pacaran”. Bagiku orang pacaran itu bodoh ! (Silahkan tersinggung). Meski memang aku pernah melakukan aktivitas yang dilakukan oleh orang bodoh tersebut namun satu kesyukuran bagi seorang manusia seperti aku, hingga bisa menahan diri dari kehinaan yang mereka sebut “Pacaran” dan ini kembali karena percikan kesejukan menentramkan hati, yang sebenarnya sering merindu.
Aku selalu menguatkan sisi rapuh dalam diriku dengan sebuah janji dariNya, sisi yang bisa berubah kapan saja jika keistiqomahan telah melepaskan ikatannya dan pergi. Hati. Hingga akhirnya sedih, sepi dan rasa yang tak semesti lainnya pergi bersama dengan butiran dari langit, aku selalu berharap butiran itu mengalirkannya ke muara bahagia. Aku tahu, semua pasti berharap. Disisi lain, ia memberikan lukisan indah dibumi setelah ia bermain bersama angin berselimut awan tebal. Indah sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan kedamaian tersendiri. Sungguh ciptaanNya tak tertandingi.
 “Dan kembali ia pergi bersama dengan segenap kegundahan dalam hati, ia bawa lari dan menyisahkan sebuah pelangi setelah menumpahkan semua rezeki dariNya berupa tetesan air yang mereka sebut “Hujan”. Ini sejuk.”
Hingga akhirnya angin membangunkanku dari lamunan. Aku beranjak pergi bersama tetesan yang disisakan oleh hujan tadi. Ini seakan membuatku ingin berteriak “Aku mencintai hujan terlebih kepada penciptaNya”
(Nining Amalia bersama hujan di pangkuan sepi dalam dekapan senja)

Menikmati Hujan di Sabtu sore, 8 maret 2014 @Beranda Gd. HL lantai 2 FIP UNM/ 17:44

Tidak ada komentar:

Posting Komentar