Selasa, 01 April 2014

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk




Oleh : Ahmad Rifa’i Rif’an
           
” Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka,,
Tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan
Yang dapat menjauhkan kami dari neraka-MU.
Kami memang berharap surga,
Tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal
Menuju surga-MU.”




            Tak sadar di hadapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia, bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-NYA.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-KU. ” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
           
            Di setiap iftitah begitu mudah kita ucapkan, “innash shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa ma maati lillaahi rabbil ‘aalamiina.”
Artinya : “ sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah”, Tuhan sekalian alam.”
Tetapi bagaimana realita yang terjadi? Justru kebanyakan kita mengingkarinya.
          Tuhan kita maha adil. Tetapi mengapa kita tak adil kepada-NYA? Contoh kecil saja ketika ada masuk sms, kita begitu bergegas membaca dan membalasnya, demikian halnya dengan telpon atau panggilan dengan cepatnya kita mengangkat dan menjawab panggilan tersebut. Tetapi mengapa ketika Tuhan  memanggil-manggil untuk menghadap-NYA kita begitu berani menunda-nundanya?
          Dengarlah panggilan Tuhan yang di kumandangkan oleh muadzin, hayya’ alash sholah , ” mari menunaikan shalat” dan dilanjut denga balasan yang indah,  hayya’ alal falah, “ mari meraih kemenangan”. Seolah Tuhan berkata, wahai manusia, berhentilah dari rutinitas kerjamu,istrahatlah sejenak, dari kesibukanmu. Shalatlah, dan sambutlah kemenangan. Shalatlah dan sambutlah kesuksesan. Shalatlah dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.
          Manusia masih begitu pelit kepada Tuhan, bahkan untuk bersedekah pun kita menyisih-nyisihkan harta kita. Kita begitu boros untuk dunia, tetapi untuk bekal kehidupan abadi, malah kita tabung harta yang tersisih.  Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya angka seratus ribu ketika kita belikan untuk pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ketika ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajah yang kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet? Betapa besarnya nilai seratus ribu apabila dibawa kemesjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mal untuk dibelanjakan. Ya Allah, tak sadar kita begitu pelit ketika dihadapkan kepada bekal akhirat, tetapi untuk menuruti nafsu dan keinginan-keinginan dunia, betapa ringan kita rogohkan tangan. Padahal seharusnya “pelitlah untuk dunia, dan boroskan harta untuk akhirat.”
          Semua orang sudah begitu terjungkal konsep pemikirannya dalam memaknai hidup. Begitu pelitnya kita membagi waktu dengan pencipta kita. Contoh kecil ketika shalat, seolah kita tidak betah berkomunikasi dengan Rabb kita. Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang sedang dibaca saja tak sempat. Betapa lamanya lima belas menit jika kita gunakan untuk menyembah Allah, tetapi betapa singkatnya jika digunakan untuk melihat film. Betapa nyamannya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu, namun ketika mendengar khotbah di masjid lebih lama sedikit dari pada biasa, kita begitu mudahnya untuk mengeluh. Dan betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman kitab suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.
          Kita lebih sering menghabiskan sisa usia dengan obrolan-obrolan tanpa makna, tetapi untuk berdoa kepada Allah berapa waktu yang kita sisihkan? Astagfirullah, betapa sulitnya kita merangkai kata demi kata ketika berdoa kepada Tuhan, namun betapa mudahnya kita menyusun kalimat panjang ketika menggunjing tetangga , bergosip dengan teman, dan mengobrol tanpa makna.
          Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser musik, tetapi ketika berjamaah mengapa kita lebih memilih shaf terbelakang?
          Ibnu Athaillah berkata , “menunda beramal shaleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang termasuk tanda kebodohan diri.” betapa bodohnya diri yang tak tahu berapa lama Allah menjatah umurnya, tetapi dengan tenang ia lakukan aktivitas dunia denga menunda-nunda kebaikan. Betapa bodohnya jiwa yang telah tahu bahwa belum tentu esok ia masih bisa bernafas lega, tetapi dengan beraninya hidup dalam santai dan lupa bahwa momentum kebaikan takkan terulang untuk yang kesekian kalinya.
          Setiap orang begitu takut ketika diancam neraka, tetapi kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukkan ke neraka secepatnya.   


Tuhan , Harap Maklumi Kami

Tuhan, harap maklumi,
Manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan.
Kami benar-benar sibuk,
Sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-MU.

Tuhan, kami sangat sibu.
Jangankan berjamaah,
Bahkan munfarid pun kami tunda-tunda.
Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajuban-MU yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami.
Jangankan puasa senin-kamis,
Jangankan ayyaamul bait,
Jangankan puasa nabi Daud,
Bahkan puasa ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami.
Kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak,
Sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-MU.
Jangankan sedekah, jangankan jariah,
Bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah  banyak.
Jadwal kami masih amatlah padat.
Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-MU.
Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin denga-MU.
Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami.
Karena kami masih terlalu sibuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar