Selasa, 01 April 2014

Pengadilan Tuhan



Betapa malangnya diri ini, yang ketika di dunia begitu disanjung dan dipuja oleh sesama, padahal di hadapan Allah, diri ini rusak dan penuh nista. Betapa menyesalnya kita yang ketika di dunia sangat suka menjaga penampilan dan citra, padahal di sisi Allah kita di cerca dan dimurka.
Betapa banyak dari kita yang sangat menjaga image dan citra di hadapan manusia, namun dalam sunyi, tanpa rasa malu bermaksiat di hadapan Tuhan. Betapa seringnya kita menjadi manusia yang sangat menjaga diri di hadapan sesama. Kita tampilkan diri sebagai pribadi yang sangat sempurna, sangat baik dan berwibawa. Namun ketika sendiri, baru terbongkar siapa diri kita sebenanrnya. Kita merasa aman, kita merasa tak ada satupun orang yang tahu bahwa kita tercela. Padahal sesungguhnya Allah Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Dan kelak pasti datang satu masa di mana seluruh makhluk akan menyaksikan siapa diri kita yang sebenarnya.
”Alyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aidiihim watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun”
Artinya : “pada hari ini kami tutup mulut mereka ; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” ( Q.S Yasin : 65)

          Ayat di surah yasin ini sudah cukup untuk menjadi penasehat abadi. Pada hari itu, mulut terkunci, hingga tak akan ada dalih dan kebohongan apa pun yang bisa kita lontarkan. Pada hari itu, hanya tangan dan kaki yang akan berbicara, mempersaksikan seluruh tingkah laku selama di dunia, sejak baligh, hingga ajal menjemput.
        Saat ini kita sangat mudah menjumpai pengadilan yang jauh dari keadilan di negeri ini. Betapa banyaknya kezaliman yang timbul dari beberapa keputusan hukum yang sangat tajam kepada kaum bawah, sementara sangat tumpul kepada golongan atas. Contohnya saja, mencuri beberapa buah semangka atau beberapa kilogram karet mentah bisa langsung diganjar hukuman penjara beberapa tahun. Sementara koruptor yang merampok uang negara miliaran bahkan triliunan  rupiah bisa bebas melenggang di negeri ini. Negeri ini memang kehilangan rasa keadilan. Hukum sangat tegas bagi kaum miskin tetapi sangat hati-hati jika menimpa kaum kaya dan berkuasa.
        Ketahuilah, sesungguhnya pengadilan manusia kadang bisa di manipulasi, tetapi pengadilan Allah tak akan bisa. Karena Dialah dzat yang Maha Melihat, Maha Mengetahui segala tingkah dan perbuatan seluruh umat manusia. Tidak ada yang mampu menyuap malaikat sang petugas yang kejujurannya tak lagi diragukan. Dan tak ada yang bisa membohongi Pengadilan Mahsyar.
        Marilah kita berhati-hati terhadap pengetahuan Allah yang tiada batasnya. Timbulkanlah perasaan yang selalu merasa kehadiran Allah dekat dengan kita dan selalu mengawasi kita. Ketika kita memiliki rasa diawasi selalu oleh Allah, kita akan malu pada-Nya ketika waktu dan usia yang sudah dikaruniakan Allah kepada kita justru hanya di isi dengan hal-hal yang sia-sia, bahkan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Kita malu pada-Nya,kita tak lagi peduli terhadap pandangan manusia terhadap diri kita. Karena pendapat manusia hanyalah pendapat subjektif yang tidak menentukan baik buruknya kita. Justru pandangan Allah terhadap diri kitalah pandangan yang objektif. Jika dalam pandangan-Nya kita baik, maka baiklah kita.
        Pengadilan Tuhan adalah pengadilan yang benar-benar adil. Di sana akan muncul dua golongan, yakni golongan kanan dan kiri. Bagi golongan kiri, maka siksaan adalah balasan atas segala kelakuan buruk yang sudah dikerjakannya selama di dunia. Sedangkan bagi golongan kanan, maka kenikmatan surga adalah balasan atas segala kebaikan yang sudah dilakukan selama di dunia.
        Sahabatku, kini kita masih diberi kesempatan untuk memilih. Kita masih di percaya oleh Allah untuk memperbaiki diri. Memilih menjadi golongan manusia yang malang, menyesal dan meratapi hidupnya didunia, atau justru menjadi golongan manusia yang puas dengan kebaikan yang sudah dikerjakan selama hidup di dunia. Kita masih punya kesempatan untuk memilih, menjdi orang yang hanya dipuja oleh sesama namun dimurka oleh Tuhan, atau menjadi orang yang dimata manusia terhormat, dalam pandangan Allah berlimpah Rahmat?
        Jantung yang terus berdetak adalah nasihat bahwa perjalanan menuju kubur tak kenal libur. Sekolah, kuliah, kerja boleh saja libur, tapi tetaplah ingat bahwa usia kita tak pernah libur. Meski hari libur, hindarilah bermalas diri. Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istrahatnya donk kalo gitu? Tenang, percayalah wahai sahabatku sesungguhnya tempat istrahat yang terbaik adalah Surga.



Dikutip dari buku yang berjudul ;
“TUHAN, MAAF KAMI  SEDANG SIBUK”
OLEH
Ahmad Rifa’i Rif’an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar