Betapa malangnya diri
ini, yang ketika di dunia begitu disanjung dan dipuja oleh sesama, padahal di
hadapan Allah, diri ini rusak dan penuh nista. Betapa menyesalnya kita yang
ketika di dunia sangat suka menjaga penampilan dan citra, padahal di sisi Allah
kita di cerca dan dimurka.
Betapa banyak dari
kita yang sangat menjaga image dan citra di hadapan manusia, namun dalam sunyi,
tanpa rasa malu bermaksiat di hadapan Tuhan. Betapa seringnya kita menjadi
manusia yang sangat menjaga diri di hadapan sesama. Kita tampilkan diri sebagai
pribadi yang sangat sempurna, sangat baik dan berwibawa. Namun ketika sendiri,
baru terbongkar siapa diri kita sebenanrnya. Kita merasa aman, kita merasa tak
ada satupun orang yang tahu bahwa kita tercela. Padahal sesungguhnya Allah Maha
Melihat lagi Maha Mengetahui. Dan kelak pasti datang satu masa di mana seluruh
makhluk akan menyaksikan siapa diri kita yang sebenarnya.
”Alyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aidiihim
watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun”
Artinya : “pada hari ini kami tutup mulut mereka ;
dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka
terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” ( Q.S Yasin : 65)
Ayat di surah yasin
ini sudah cukup untuk menjadi penasehat abadi. Pada hari itu, mulut terkunci,
hingga tak akan ada dalih dan kebohongan apa pun yang bisa kita lontarkan. Pada
hari itu, hanya tangan dan kaki yang akan berbicara, mempersaksikan seluruh
tingkah laku selama di dunia, sejak baligh, hingga ajal menjemput.
Saat
ini kita sangat mudah menjumpai pengadilan yang jauh dari keadilan di negeri
ini. Betapa banyaknya kezaliman yang timbul dari beberapa keputusan hukum yang
sangat tajam kepada kaum bawah, sementara sangat tumpul kepada golongan atas. Contohnya
saja, mencuri beberapa buah semangka atau beberapa kilogram karet mentah bisa
langsung diganjar hukuman penjara beberapa tahun. Sementara koruptor yang
merampok uang negara miliaran bahkan triliunan
rupiah bisa bebas melenggang di negeri ini. Negeri ini memang kehilangan
rasa keadilan. Hukum sangat tegas bagi kaum miskin tetapi sangat hati-hati jika
menimpa kaum kaya dan berkuasa.
Ketahuilah,
sesungguhnya pengadilan manusia kadang bisa di manipulasi, tetapi pengadilan
Allah tak akan bisa. Karena Dialah dzat yang Maha Melihat, Maha Mengetahui
segala tingkah dan perbuatan seluruh umat manusia. Tidak ada yang mampu menyuap
malaikat sang petugas yang kejujurannya tak lagi diragukan. Dan tak ada yang
bisa membohongi Pengadilan Mahsyar.
Marilah
kita berhati-hati terhadap pengetahuan Allah yang tiada batasnya. Timbulkanlah
perasaan yang selalu merasa kehadiran Allah dekat dengan kita dan selalu
mengawasi kita. Ketika kita memiliki rasa diawasi selalu oleh Allah, kita akan
malu pada-Nya ketika waktu dan usia yang sudah dikaruniakan Allah kepada kita
justru hanya di isi dengan hal-hal yang sia-sia, bahkan melakukan perbuatan
yang dilarang-Nya. Kita malu pada-Nya,kita tak lagi peduli terhadap pandangan
manusia terhadap diri kita. Karena pendapat manusia hanyalah pendapat subjektif
yang tidak menentukan baik buruknya kita. Justru pandangan Allah terhadap diri
kitalah pandangan yang objektif. Jika dalam pandangan-Nya kita baik, maka
baiklah kita.
Pengadilan
Tuhan adalah pengadilan yang benar-benar adil. Di sana akan muncul dua
golongan, yakni golongan kanan dan kiri. Bagi golongan kiri, maka siksaan
adalah balasan atas segala kelakuan buruk yang sudah dikerjakannya selama di
dunia. Sedangkan bagi golongan kanan, maka kenikmatan surga adalah balasan atas
segala kebaikan yang sudah dilakukan selama di dunia.
Sahabatku,
kini kita masih diberi kesempatan untuk memilih. Kita masih di percaya oleh
Allah untuk memperbaiki diri. Memilih menjadi golongan manusia yang malang,
menyesal dan meratapi hidupnya didunia, atau justru menjadi golongan manusia
yang puas dengan kebaikan yang sudah dikerjakan selama hidup di dunia. Kita
masih punya kesempatan untuk memilih, menjdi orang yang hanya dipuja oleh
sesama namun dimurka oleh Tuhan, atau menjadi orang yang dimata manusia terhormat,
dalam pandangan Allah berlimpah Rahmat?
Jantung yang terus
berdetak adalah nasihat bahwa perjalanan menuju kubur tak kenal libur. Sekolah,
kuliah, kerja boleh saja libur, tapi tetaplah ingat bahwa usia kita tak pernah
libur. Meski hari libur, hindarilah bermalas diri. Tetaplah produktif dalam
berkarya dan beribadah. Lalu kapan istrahatnya donk kalo gitu? Tenang,
percayalah wahai sahabatku sesungguhnya tempat istrahat yang terbaik adalah
Surga.
Dikutip dari buku yang
berjudul ;
“TUHAN, MAAF KAMI SEDANG SIBUK”
OLEH
Ahmad Rifa’i Rif’an
Tidak ada komentar:
Posting Komentar