Kekasihku, adakah
kau menaruh harap?
Harap untuk
bertemu setelah rindu kian mengepul
Kekasihku, adakah
kubisa membalas cintamu
Sebab katanya..
cintaku tak seperti indah cintamu
Kekasihku, kau
masih selalu kekasihku
Bukan, adakah
yang lebih dari kekasih?
Kekasihku,
katanya dunia dan seisinya tak mampu membalas kasihmu?
Namun apalah arti
kasihku..
Tak mengapa
bagiku, kekasihku..
Dunia dan
sesisinya memang tak pantas untuk membalas mulianya kasihmu
Sebab kasihmu
lebih Indah dari yang terindah di dunia ini,
Maka, apakah
salah jika kumembalas kasihmu dengan SurgaNya?
Teruntukmu,
kekasihku.. Mama
Puisi semasa SMA, ckckckckkc :D
Berbicara tentang Ibu..
Makhluk yang kunci syurgaku berada ditangannya. Syurga yang selalu
dirindukan dan terselip dalam bait do’a setiap insan. Ramadhan ini tak kusambut
bersamanya, sebab urusan akademikku menggariskan jarak bagi kami. Tak mengapa
biarlah rindu ini semakin menggebu dalam dada, dengan begitu pertemuan akan
semakin indah dan bait do’a akan semakin syahdu. Bukankah ramadhan yang lalu
juga sama?
Tahukah kalian wahai makhluk yang terlahir dari rahim seorang
wanita, bahwa rasa sakit yang paling perih yang dirasakan seorang ibu adalah
ketika ia melahirkan kita dan ketika sang buah hatinya menyakitinya. Sakit yang
dirasakan seorang ibu ketika melahirkan kita takkan mampu terbalaskan dengan
apapun didunia ini, harta melimpah? Gelar tinggi? Bahkan jika engkau
menggendongnya keliling dunia pun takkan mampu membalas jasanya. Maka salahkah
jika kujanjikan Syurga untukmu Ibu??
Ketika apapun didunia ini tak mampu membalas semua jasa seorang Ibu,
maka persembahkanlah rumah di Syurga untuknya kelak. Dan tiket menuju syurga
takkan bisa terbeli dengan kemaksiatan, karena Syurga tidak sudi menampung
aktivis maksiat. (maksiat : melakukan perbuatan yang dilarang oleh Agama). So,
Well.. Hadiahkanlah persembahan abadi untuk membalas cinta kedua orang tua
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar