Minggu, 21 Juni 2015

Kasihmu Kekasihku




Kekasihku, adakah kau menaruh harap?
Harap untuk bertemu setelah rindu kian mengepul
Kekasihku, adakah kubisa membalas cintamu
Sebab katanya.. cintaku tak seperti indah cintamu

Kekasihku, kau masih selalu kekasihku
Bukan, adakah yang lebih dari kekasih?
Kekasihku, katanya dunia dan seisinya tak mampu membalas kasihmu?
Namun apalah arti kasihku..

Tak mengapa bagiku, kekasihku..
Dunia dan sesisinya memang tak pantas untuk membalas mulianya kasihmu
Sebab kasihmu lebih Indah dari yang terindah di dunia ini,
Maka, apakah salah jika kumembalas kasihmu dengan SurgaNya?

Teruntukmu, kekasihku.. Mama
Puisi semasa SMA, ckckckckkc :D

Hasil gambar untuk Ibu

Berbicara tentang Ibu..
Makhluk yang kunci syurgaku berada ditangannya. Syurga yang selalu dirindukan dan terselip dalam bait do’a setiap insan. Ramadhan ini tak kusambut bersamanya, sebab urusan akademikku menggariskan jarak bagi kami. Tak mengapa biarlah rindu ini semakin menggebu dalam dada, dengan begitu pertemuan akan semakin indah dan bait do’a akan semakin syahdu. Bukankah ramadhan yang lalu juga sama?
Tahukah kalian wahai makhluk yang terlahir dari rahim seorang wanita, bahwa rasa sakit yang paling perih yang dirasakan seorang ibu adalah ketika ia melahirkan kita dan ketika sang buah hatinya menyakitinya. Sakit yang dirasakan seorang ibu ketika melahirkan kita takkan mampu terbalaskan dengan apapun didunia ini, harta melimpah? Gelar tinggi? Bahkan jika engkau menggendongnya keliling dunia pun takkan mampu membalas jasanya. Maka salahkah jika kujanjikan Syurga untukmu Ibu??
Ketika apapun didunia ini tak mampu membalas semua jasa seorang Ibu, maka persembahkanlah rumah di Syurga untuknya kelak. Dan tiket menuju syurga takkan bisa terbeli dengan kemaksiatan, karena Syurga tidak sudi menampung aktivis maksiat. (maksiat : melakukan perbuatan yang dilarang oleh Agama). So, Well.. Hadiahkanlah persembahan abadi untuk membalas cinta kedua orang tua kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar