Sabtu, 15 November 2014

Banjir Musim Kemarau Ku




Kemarau dipenghujung September ini memberi nuansa indah langit malam berhiaskan bulan dan bintang yang berhasil menebar keelokannya pada pekat hitam langit malam. Kemarau ini mengajarkan kita tentang kerinduan akan sesuatu yang pernah mengisi hari, ia adalah hujan. Hujan yang sering kita keluhkan karena menghambat aktivitas, hujan yang bekasnya membuat jalanan becek dan hujan yang menyebabkan banjir… Banjir? Yap. Saya ingin berkisah tentang banjir di pondokan saya. Banjir yang unik, karena kamar saya berada di lantai 2 dan sudah hampir sebulan tidak pernah hujan bahkan gerimis pun. Malam yang belum larut, saya bersama dengan ke empat orang penghuni lantai dua kewalahan membereskan genangan air dan menyelamatkan air yang masih layak. Malam itu sungguh sial dan merepotkan, namun kembali saya merasakan kehangatan yang kami selipkan kala bercanda dan saling menyalahkan. Meski kuakui ini adalah salah saya yang hanya berdiam diri, tanpa uluran tangan.
Galon pecah dan menumpahkan isinya, tidak sedikit demi sedikit karena yang tumpah sangat banyak. Kami berusaha menyelamatkan air yang masih layak untuk diminum, karena tukang gallon tak beroperasi jika malam. Mereka pun butuh istrahat.
Banyak kejadian yang tak terduga terjadi dalam hidup, sama halnya dengan tumpahnya air gallon karena galonnya pecah akibat terjatuh kala hendak menempatkannya pada dispenser. Itu semua diluar dugaan, dibalik sebuah peristiwa terlepas itu baik atau buruk banyak hikmah yang bisa kita petik sebagai bekal untuk menjalani hidup kedepannya. Peristiwa malam ini mengisahkan sebuah kehangatan dibalik canda kala bekerja sama dalam membereskan kekacauan yang di buat oleh salah seorang dari kami. Tanpa saling menyalahkan dengan serius kita menghadapinya dengan candaan yang menumbuhkan keakraban diantara kami. Setelahnya… kunikmati segelas the hangat yang mengawali peristiwa banjir musim kemarauku, karena ingin memasak air untuk minum teh, Rista teman kostku membantuku mengangkat air gallon untuk dipasang ke dispenser, pikirku ia bisa melakukannya sendiri karena sudah beberapa kali ia melakukan hal tersebut, namun perkiraanku salah ia menjatuhkan gallon tersebut sebelum aku datang untuk memberikan bantuan. Galon jatuh, pecah dan… airnya tumpah.  Secangkir teh ini masih menemaniku hingga sekarang kala jemariku tengah berjuang mengabadikan kisah ini…
“Malam ini bulan bahkan menghilang lebih cepat dari biasanya, pikirku ia iri melihat kebersamaan kami yang jauh lebih indah dari kebersamaannya dengan bintang dipekat langit malam musim kemarau di bulan September…”

Eh,, kisah ini juga aku bagi ke Facebook loooo…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar