Kemarau
dipenghujung September ini memberi nuansa indah langit malam berhiaskan bulan
dan bintang yang berhasil menebar keelokannya pada pekat hitam langit malam.
Kemarau ini mengajarkan kita tentang kerinduan akan sesuatu yang pernah mengisi
hari, ia adalah hujan. Hujan yang sering kita keluhkan karena menghambat
aktivitas, hujan yang bekasnya membuat jalanan becek dan hujan yang menyebabkan
banjir… Banjir? Yap. Saya ingin berkisah tentang banjir di pondokan saya.
Banjir yang unik, karena kamar saya berada di lantai 2 dan sudah hampir sebulan
tidak pernah hujan bahkan gerimis pun. Malam yang belum larut, saya bersama
dengan ke empat orang penghuni lantai dua kewalahan membereskan genangan air
dan menyelamatkan air yang masih layak. Malam itu sungguh sial dan merepotkan,
namun kembali saya merasakan kehangatan yang kami selipkan kala bercanda dan
saling menyalahkan. Meski kuakui ini adalah salah saya yang hanya berdiam diri,
tanpa uluran tangan.
Galon
pecah dan menumpahkan isinya, tidak sedikit demi sedikit karena yang tumpah
sangat banyak. Kami berusaha menyelamatkan air yang masih layak untuk diminum,
karena tukang gallon tak beroperasi jika malam. Mereka pun butuh istrahat.
Banyak
kejadian yang tak terduga terjadi dalam hidup, sama halnya dengan tumpahnya air
gallon karena galonnya pecah akibat terjatuh kala hendak menempatkannya pada
dispenser. Itu semua diluar dugaan, dibalik sebuah peristiwa terlepas itu baik
atau buruk banyak hikmah yang bisa kita petik sebagai bekal untuk menjalani
hidup kedepannya. Peristiwa malam ini mengisahkan sebuah kehangatan dibalik
canda kala bekerja sama dalam membereskan kekacauan yang di buat oleh salah
seorang dari kami. Tanpa saling menyalahkan dengan serius kita menghadapinya
dengan candaan yang menumbuhkan keakraban diantara kami. Setelahnya… kunikmati
segelas the hangat yang mengawali peristiwa banjir musim kemarauku, karena
ingin memasak air untuk minum teh, Rista teman kostku membantuku mengangkat air
gallon untuk dipasang ke dispenser, pikirku ia bisa melakukannya sendiri karena
sudah beberapa kali ia melakukan hal tersebut, namun perkiraanku salah ia
menjatuhkan gallon tersebut sebelum aku datang untuk memberikan bantuan. Galon
jatuh, pecah dan… airnya tumpah.
Secangkir teh ini masih menemaniku hingga sekarang kala jemariku tengah
berjuang mengabadikan kisah ini…
“Malam
ini bulan bahkan menghilang lebih cepat dari biasanya, pikirku ia iri melihat
kebersamaan kami yang jauh lebih indah dari kebersamaannya dengan bintang
dipekat langit malam musim kemarau di bulan September…”
Eh,,
kisah ini juga aku bagi ke Facebook loooo…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar