Sejak
kapan kau mulai merasakan dirimu seakan hidup kembali ?
Ini
tentang aku yang merasakan sebuah kehidupan baru dalam sebuah kehidupan yang
sebenarnya sudah hampir 20 tahun aku jalani, dan itu baru kurasakan sejak
menyandang gelar mahasiswa. Bukan hanya sebagai mahasiswa namun sebagai seorang
aktivis yang lebih tepatnya pengemban dakwah. Butuh waktu yang tidak sedikit
untuk mempersiapkan diri untuk ikut dalam barisan dakwah yang nikmat ini.
Banyak hal baru kutemukan dalam haraqah yang dikenal sebagai sebuah partai
politik, namun terang saja ini bukan parpol yang sering kalian saksikan dilayar
tv bahkan surat kabar dengan berbagai kasus korupsi dan skandal lainnya, yang
ini berbeda. Sebuah partai politik yang benar-benar konsisten memperjuangkan
sesuatu yang mulia dan benar-benar pantas dan wajib untuk diperjuangkan.
Khilafah. Mungkin setelah membaca kata khilafah kalian bisa menebak partai
politik yang aku maksud. Selama menjadi syabah binaanya rasanya kehidupan baru
mulai terbentuk. Ini seperti benih-benih penyemangat dalam hidupku,
menjadikanku sebagai manusia yang tidak bertindak bodoh dan sesukaku karena
memang selayaknya manusia harus terikat dengan sebuah hukum, yang mana dalam
islam dikenal sebagai hukum syara’. Selain itu sejak dibina didalamnya sosok
dewasa dari seorang “aku” mulai terbentuk, tidak ada lagi rasa egois,
individualistik dan cinta dunia.
Aku
sadar, bahkan sangat sadar dengan persepsi subyektif orang-orang disekitarku
tentang haraqah ini, pandangan negatif sudah jelas. Namun bagiku itu bukan
masalah, selama kita terus mendakwahi dan menyampaikan yang haq dan menyeru
kepada kemungkaran insya allah pandangan tersebut berubah menjadi pandangan
yang positif dan semoga mereka terbuka hatinya untuk ikut bergabung dalam
barisan dakwah ini. Tak bermaksud untuk menganggap haraqah ini paling benar dan
yang lain sesat, namun bagiku ini pilihanku dan semua yang ada didalamnya mulai
dari apa yang diperjuangkannya sampai uslubnya memang sesuai manhaj kenabian
dan sesuai dengan hukum syara’.
Goyah?
Sudah pasti pernah, bahkan aku pernah berniat untuk keluar saja karena
bergabung dalam kedalam kelompok dakwah ini benar-benar menguras waktu, tenaga
dan pikiranku dan juga tugas kuliah serta kegiatan kampus dan organisasi
lainnya. Namun hal itu wajar saja bagi seorang newbie dalam dunia dakwah yang
menuntut ke-idealisme seorang pengembangnya. Disamping itu teman-teman dari
haraqah lain sudah gencarnya memberi pengaruh dan menyarankanku untuk berpikir
ulang untuk bergabung dalam haraqah ini. Berbagai statement negatif mengenai
haraqah ini mereka lontarkan. Bahkan teman sekelas sendiri sudah memandang
sebelah mata, dan ada perlahan yang mulai menjauh. Tapi, itu telah berlalu. aku
berhasil melewatinya dengan bekal semangat dan arahan dari seorang musrifah
yang bukan hanya menjadi pembinaku namun juga seperti kakak, ibu dan seorang
sahabat bagiku. Terima kasih J
Selanjutnya
mengenai seorang musrifah maupun seorang yang memperkenalkanku dengan haraqah
ini, terima kasih yang teramat sangat untuknya. Tanpa melupakan jasa dan
bimbingan para musrifahku terdahulu, disini saya hanya akan membahas mengenai
musrifahku sekarang. Musrifah yang lebih dari itu, entah bagaimana aku bisa
membalas semua yang diberikan, aku hanya berusaha memahami dan mengerti tentang
betapa sabarnya beliau menghadapi seorang syabah yang terkadang tidak memiliki
semangat dakwah dan menuntut ilmu. Jujur, sepertinya aku takut kehilangan. Ini
pertama kalinya dalam hidupku aku takut kehilangan seseorang (selain orang tua,
adik dan kakakku), karena seperti biasanya pasti ada waktunya musrifah dari
setiap kelompok diganti dan saat-saat seperti itulah yang tak sanggup bagiku
untuk menghadapinya. Terang saja, semangatku untuk datang halaqoh bermula saat
beliau menjadi musrifahku. Sosok tegas dan
pembawaan yang tenang dengan kata-kata penyemangat sering disampaikan
kepada kami ditengah kegalauan dan tengah kufur melanda persendian keimananku.
Sudahlah, anggaplah itu tidak akan terjadi. Semoga J
Itu
saja untuk saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar