Minggu, 05 Juli 2015

IPK


Sebaik-baik IPK adalah yang diperoleh dengan kejujuran, dan seburuk-sehina IPK adalah yang diperoleh dengan kecurangan…

Selamat libur semester. 

Bagaimana keadaan IPK kalian? Semoga tetap berada dalam lindungan predikat cumlaude. Tahukah kalian bahwa IPK terkadang bisa menghantarkan kepada Surga maupun Neraka? Mungkin ada yang berdalih sinis, “nyambung dimana IPK dengan kehidupan akhirat?” #Mikiir deh, bukankah tujuan hidup kita di dunia untuk beribadah kepada-Nya dan tujuan akhir kita pasti adalah akhirat, entah itu Surga maupun Neraka. Sisa pilih aja dan pilihan dimulai dari sekarang! Hubungannya dengan IPK yaitu.. Apakah kamu meraih IPKmu dengan kecurangan atau dengan kejujuran. Jika dengan kecurangan berarti kamu memilih membangun rumah akhiratmu dalam  neraka dan sebaliknya jika IPKmu diraih dengan kejujuran dan kesadaran bahwa semua ini semata-mata dalam rangka beribadah kepadanya berarti kamu telah memilih membangun istanamu di Surga.
Namun, pada kenyataannya masyarakat kampus khususnya, tak lagi peduli dan mungkin telat sadar dengan hal tersebut. Tapi bisa jadi ada yang sudah tahu namun masih mikir-mikir dulu (kebanyakan mikir untuk menunda-nunda kebaikan) atau takut dikucilkan atau dihinakan oleh lingkungan karena IPK yang kurang memuaskan. Dengan membangun benteng ketakutan dalam diri akan hal tersebut sama halnya  membangun benteng yang kuat dan jurang yang terjam antara diri dan kebaikan. Padahal kita sama-sama tahu bahwa Allah SWT maha adil dan maha tahu akan perjuangan kita. Selain itu, IPK hanya sekedar IPK yang akan diingat kawan dalam kurung waktu yang singkat. Setelah masing-masing sibuk dengan dunia barunya maka IPK yang tinggi hanya sekedar hiasan dalam tumpukan zaman.
Secara tidak langsung, melakukan kecurangan saat ujian merupakan salah satu cara yang paling ampuh menjadikan diri kita sebagai mafia-mafia akademik dan bias saja merangkak jadi mafia tertentu (Sesuai dengan dunia baru di gelutinya) sebab telah terbiasa dan terlatih berbuat kecurangan untuk mendapatkan predikat yang mampu membuat setiap pasang mata memandang dengan cahaya kekaguman akan prestasi kita.
Well, gaess…
Bersabarlah, IPKmu mungkin biasa saja, namun jika kamu memperolehnya dengan kejujuran maka kamu patut bersyukur setidaknya kamu tidak menghinakan dirimu dengan kecurangan dari pada mereka yang IPKnya tingi namun diperoleh dengan kecurangan. IPK yang berbau kecurangan takkan sudi keberkahan bersarang didalamnya. But.. buat kamu yang IPKnya rendah namun ternyata masih berbuat kecurangan, saran saya.. “sadar-sadar meki kawan!!” setidaknya Tuhan telah menegurmu untuk tidak berbuat kecurangan yang menjadikan dirimu hina. Dibandingkan mereka yang ber-IPK tinggi yang diperoleh dengan cara yang hina alias maksiat. Bisa saja Tuhan tak lagi sayang, karena teguran tak kunjung datang. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, IPK tinggi-tinggi, namun dosa tak kalah tinggi, bahkan telah melangit.
Jadilah generasi yang berkualitas, cerdas dan berakhlak. “Kasihan negerimu Nak,” Ujar Ibu Pertiwi yang air matanya masih berlinang.
IPK memang tak selalu indah, namun yang menjadikannya indah adalah berkahnya.

Note : Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati yang sedang sulit menerima kenyataan akan IP semester ini yang memprihatinkan. Namun, besar harapan tulisan dari pena seorang amatir ini mampu membuat kalian#mikiir bahwa mencontek saat ujian, baik itu bekerja sama atau memberi contekan kepada teman adalah perbuatan yang curang. Kecurangan akan menghinakan dirimu sendiri dan menghinakan IPK mu. Hihihi…
Watansoppeng, Penghujung Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar