Kau
masih menghadirkan raut wajah yang sama, menenangkan dan menyenangkan. Setelah
kuhadirkan kekecewaan dalam hidupmu namun masih saja seperti ada maaf bagiku
darimu meski tak tersampaikan. Aku mengagumi karena bijakmu. Aku kecewa pada
diriku karena kesalahan yang berulang. Memaafkan kesalahan yang berulang
rasanya tidak mungkin, apalagi bagi seorang seperti saya karena saya tahu sulit
bagimu untuk memaafkan kesalahan yang berulang. Namun tetap saja, saya kecewa
dengan kelalaianku serta keabaianku. Kadang teguranmu menjadi siksa tersendiri
bagiku, aku tersiksa dengan kecewamu. Bukan mendzolimi tapi ini seperti hukuman
bagi lalaiku. Tapi bagaimana bisa kau setegar itu menghadapiku?
Teruntuk
sosok yang berhasil menumbuhkan decap kagum pada diriku. Sosok tegar dan tegas
dengan tatapan teduhnya. Seseorang yang penuh kasih dan cinta meski tak ada
ikatan darah diantara kita, dari sinilah saya percaya bahwa ikatan akidah jauh
lebih erat dan kuat dibanding ikatan apapun. Tak kenal lelah mendidikku ikhlas
meski bukan guru atau dosenku dikampus yang jelas-jelas dibayar mahal untuk mendidik
namun hasilnya tidak sesuai harap, namun engkau dengan ikhlasmu berhasil
membentuk pribadi yang baru dalam diriku, kini aku mendapati diriku dengan
pribadi yang berbeda. Lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan. Tempatku
menumpahkan segala keluh kesahku meski bukanlah sahabatku. Ah, tidak.. bagiku
engkau adalah sahabat bagiku, layaknya orangtua yang selalu membimbingku serta
kakak yang tak henti menjagaku.
Musrifahku..
Bagaimana bisa engkau sesabar ini menghadapi orang sepertiku? Rasanya jika berada
pada posisi yang sebaliknya mungkin saya akan menyerah dan mengeluh tak
terhitung kali, aku tahu jika mungkin bukan karena keimanan yang ada dalam
hatimu telah lama kau tinggalkan aku, takkan kudapati engkau sebagai sosok yang
penuh sabar. Jika bukan karena keimanan pula dalam diriku mungkin telah
kutinggalkan engkau bersama dakwah ini setelah kerikil tajam dalam hidup
mengendorkan semangatku, namun hadirmu selalu saja menjadi motovasi bagi diriku
dan gerak dakwahku. Kau selalu berkata
untuk selalu kuat karena telah kusematkan diriku sebagai pengemban dakwah,
dokter umat, jadi saya tak boleh sakit akan segenlintir persoalan hidup, “Dokter umat tidak boleh sakit. Motivator
peradaban, kau harus mampu! Jangan lemah jangan lengah !”
Aku
sering bertanya dikala senggangku kepadamu, “Bagaimana
aku membahagiakanmu?”. Namun kau selalu saja menjawabnya dengan senyuman,
hanya tersenyum. Hingga suatu saat kau menjawab sendiri pertanyaanku tanpa ku
bertanya sebelumnya, mungkin kau lelah menantiku menghadiahkan bahagia untukmu.
“Cukuplah menjadi sosok yang membahagiakan orang lain Dik, sukseslah dalam
dakwahmu, jangan pernah lalai dengan amanah yang telah dipercayakan orang lain
terhadapmu, kuatlah karena hidup ini keras maka kamu harus lebih keras Dik,
berbahagialah dalam kebaikan dan jangan pernah meninggalkan dakwah mulia ini.” Kata-kata
itu seakan menjadi mantra dalam hidupku untuk selalu berjuang dan optimis dalam
hidup, namun setelah beberapa waktu berlalu mantra itu seakan tak ampuh lagi
bagi diriku. Jiwa kufur menguasaiku, hingga sering mengecewakanmu. Maafkan aku
yang masih tak bisa menghadirkan bahagia dalam hidupmu, Musrifahku. Maafkan aku
masih sibuk mengatakan lupa dan maaf berulang kali kala lalaiku dan Maafkan aku
yang masih saja terus berjanji menghadiahkan bahagia dalam hidupmu. Musrifahku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar