Senin, 24 November 2014

Karena Masih Janji, Maaf. (Musrifahku)


                              “Bagaimana aku menghadirkan bahagia untukmu?”
Kau masih menghadirkan raut wajah yang sama, menenangkan dan menyenangkan. Setelah kuhadirkan kekecewaan dalam hidupmu namun masih saja seperti ada maaf bagiku darimu meski tak tersampaikan. Aku mengagumi karena bijakmu. Aku kecewa pada diriku karena kesalahan yang berulang. Memaafkan kesalahan yang berulang rasanya tidak mungkin, apalagi bagi seorang seperti saya karena saya tahu sulit bagimu untuk memaafkan kesalahan yang berulang. Namun tetap saja, saya kecewa dengan kelalaianku serta keabaianku. Kadang teguranmu menjadi siksa tersendiri bagiku, aku tersiksa dengan kecewamu. Bukan mendzolimi tapi ini seperti hukuman bagi lalaiku. Tapi bagaimana bisa kau setegar itu menghadapiku?
Teruntuk sosok yang berhasil menumbuhkan decap kagum pada diriku. Sosok tegar dan tegas dengan tatapan teduhnya. Seseorang yang penuh kasih dan cinta meski tak ada ikatan darah diantara kita, dari sinilah saya percaya bahwa ikatan akidah jauh lebih erat dan kuat dibanding ikatan apapun. Tak kenal lelah mendidikku ikhlas meski bukan guru atau dosenku dikampus yang jelas-jelas dibayar mahal untuk mendidik namun hasilnya tidak sesuai harap, namun engkau dengan ikhlasmu berhasil membentuk pribadi yang baru dalam diriku, kini aku mendapati diriku dengan pribadi yang berbeda. Lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan. Tempatku menumpahkan segala keluh kesahku meski bukanlah sahabatku. Ah, tidak.. bagiku engkau adalah sahabat bagiku, layaknya orangtua yang selalu membimbingku serta kakak yang tak henti menjagaku.
Musrifahku.. Bagaimana bisa engkau sesabar ini menghadapi orang sepertiku? Rasanya jika berada pada posisi yang sebaliknya mungkin saya akan menyerah dan mengeluh tak terhitung kali, aku tahu jika mungkin bukan karena keimanan yang ada dalam hatimu telah lama kau tinggalkan aku, takkan kudapati engkau sebagai sosok yang penuh sabar. Jika bukan karena keimanan pula dalam diriku mungkin telah kutinggalkan engkau bersama dakwah ini setelah kerikil tajam dalam hidup mengendorkan semangatku, namun hadirmu selalu saja menjadi motovasi bagi diriku dan gerak dakwahku.  Kau selalu berkata untuk selalu kuat karena telah kusematkan diriku sebagai pengemban dakwah, dokter umat, jadi saya tak boleh sakit akan segenlintir persoalan hidup, “Dokter umat tidak boleh sakit. Motivator peradaban, kau harus mampu! Jangan lemah jangan lengah !”
Aku sering bertanya dikala senggangku kepadamu, “Bagaimana aku membahagiakanmu?”. Namun kau selalu saja menjawabnya dengan senyuman, hanya tersenyum. Hingga suatu saat kau menjawab sendiri pertanyaanku tanpa ku bertanya sebelumnya, mungkin kau lelah menantiku menghadiahkan bahagia untukmu. “Cukuplah menjadi sosok yang membahagiakan orang lain Dik, sukseslah dalam dakwahmu, jangan pernah lalai dengan amanah yang telah dipercayakan orang lain terhadapmu, kuatlah karena hidup ini keras maka kamu harus lebih keras Dik, berbahagialah dalam kebaikan dan jangan pernah meninggalkan dakwah mulia ini.” Kata-kata itu seakan menjadi mantra dalam hidupku untuk selalu berjuang dan optimis dalam hidup, namun setelah beberapa waktu berlalu mantra itu seakan tak ampuh lagi bagi diriku. Jiwa kufur menguasaiku, hingga sering mengecewakanmu. Maafkan aku yang masih tak bisa menghadirkan bahagia dalam hidupmu, Musrifahku. Maafkan aku masih sibuk mengatakan lupa dan maaf berulang kali kala lalaiku dan Maafkan aku yang masih saja terus berjanji menghadiahkan bahagia dalam hidupmu. Musrifahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar