Assalamualaikum
wr.wb...
Beberapa
hari yang lalu telah diadakan acara Talk Show dengan judul “ Mahasiswa
Demokrasi VS Mahasiswa Ideologis” yang diadakan oleh HTI, BKLDK dan Gema
Pembebasan Sulselbar (1/3/2014). Acara yang diselenggarakan di Mesjid Al-Azhar,
jln. Sultan Alauddin diawal bulan maret ini dihadiri oleh mahasiswa dari
berbagai kampus di kota Makassar. Begitupun dengan mahasiswa UNM yang tergabung
dalam LDK Fosdik Al-Umdah UNM juga turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan
Ketua umum Gema Pembebasan Sulselbar, Arif Siddiq Bahari dan Muh. Ilham selaku
koordinator BKLDK Sulselbar.
Muhammad Fiqhi selaku moderator
dalam acara tersebut membuka pembahasan dengan melontarkan pertanyaan kepada
Muh. Ilham mengenai perlunya sikap politik dikalangan mahasiswa. “Masyarakat
memandang politik sebagai alat untuk meraih kekuasaan, sehingga politik sendiri
terkesan jauh dari hal yang positif. Dalam Islam politik diartikan sebagai
mengatur urusan ummat dengan Islam, bukan untuk meraih kekuasaan” tuturnya.
Mahasiswa
juga pelaku politik karena tujuan akhir dari kuliah yang mereka emban selama
ini semata-mata untuk mengabdi kepada masyarakat dalam artian mengurusi urusan
umat, baik itu dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua ada unsur politiknya. Mungkin diantara kita (mahasiswa) pernah
berpikir atau menganggap dirinya masih belum bisa dikatakan sebagai pelaku
politik, belum saatnya ia terlibat dengan urusan negara karena sudah ada
pemerintah yang diberi wewenang atas hal itu, karena masih menyandang status
mahasiswa. Perlu ditekankan bahwa bersikap politik tidak harus menjadi
pemerintah/ dewan, kita hanya perlu menyampaikan ide untuk kepentingan bangsa.
Misalnya saja menyampaikan ide tentang khilafah, tentunya aktivitas ini bisa dikatakan
sebagai aktivitas politik seperti yang dilaksanakannnya acara talk show
tersebut.
“Mahasiswa yang ikut pembinaan di Hiztbut
tahrir sudah pasti melakukan aktivitas politik karena telah bergabung dalam
partai politik” himbaunya kepada para peserta yang kebanyakan syabab(ah) HT. Ia
juga menekankan bahwa HT bukanlah ormas Islam namun partai politik Islam.
Kebanyakan
orang menganggap bahwa Islam bukan ideologi dan menganggap pancasila adalah
ideologi. Di dunia ini hanya ada 2 ideologi yakni ideologi buatan manusia dan
ideologi yang berasal dari Allah SWT. Maka dari itu perlunya ditanamkan kedalam
diri masyarakat bahwa Islam adalah Ideologi, dan sebaik-baiknya Ideologi
hanyalah Islam karena Islam rahmatallilalamin.. Dari beberapa pemaparannya
beliau sedikit menyinggung masalah organisasi pramuka yang senantiasa
menanamkan sikap patriotisme kedalam diri individu, padahal patriotisme
merupakan salah satu yang menghancurkan Islam beserta nasionalisme Adapun
sistem yang diterapkan oleh negara kita terbukti gagal, hal ini karena
menggunakan ideologi yang bukan Islam. Sistem demokrasi kapitalis tidak bisa
menciptakan suasana yang baik dalam sebuah negara. Hal ini bisa kita saksikan
dengan segala kesenjangan yang terjadi selama ini. Oleh karena itu kita harus
tegas menolak semua tawaran dari sistem demokrasi, jangan menjadikan diri anda
sebagai robot kaum kapitalis karena anda punya akal dan pergunakan akal anda.
Selain
itu Arief Siddiq juga memaparkan tentang tujuan terbentuknya Gema Pembebasan
sama dengan tujuan yang ingin dicapai oleh HT, karena GP merupakan perpanjangan
syap dakwah HT . Jadi Gema Pembebasan bagian dari HT. Baginya kata adalah
senjata, jangan pernah meremehkan wacana. Dulu rakyat percaya dengan wacana
yang dibawa mahasiswa dan jika mahasiswa melakukan aksi maka masyarakat selalu
ada dibelakangnya, berbeda dengan hari ini.
Mahasiswa
sadar atau tidak sadar ia telah memiliki aktivitas politik. Ketuk panggung
revolusi, karena mahasiswa adalah magnet revolusi maka haruslah bergerak cepat.
Revolusi tidak pernah terjadi dalam sistem jadi tidak hanya dengan mengganti
rezim tapi “TUMBANGKAN SISTEM”, ganti dengan sistem Islam dalam naungan
khilafah dan mari menjadi bagian dari tegaknya khilafah. Allahu Akbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar