Selasa, 25 Maret 2014

Resume Jurnal "Pendayagunaan Medi Pembelajaran"



Judul Jurnal       : Pendayagunaan Media Pembelajaran
                           (Jurnal Pendidikan Penabur-No.04/Th.IV/Juli 2005)
Penulis   : Thomas Wibowo Agung Sutjiono
Di resume oleh : Nining Amalia

Pendayagunaan Media Pembelajaran
Guru dan Media
Di era super kompleks ini, dimana perkembangan IPTEKS menjadi salah satu penunjang kemajuan suatu bangsa/ institusi tertentu, sebut saja salah satunya adalah dalam dunia pendidikan. Sistem pendidikan disekolah menuntut adanya perubahan sikap guru dalam proses pembelajaran, karena sejak dulu banyak yang mengartikan bahwa guru merupakan orang yang paling tahu. Guru adalah tempatnya pengetahuan yang senantiasa disalurkan kepada peserta didik, dalam artian guru lebih tahu dari pada siswa. Namun, sekarang terkadang murid tahu lebih banyak dari pada guru, hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi yang memudahkan siswa mengakses informasi/ pengetahuan lebih cepat. Sehingga, guru bukan lagi salah satu sumber belajar. Sedangkan guru sering kali tidak punya waktu untuk mengakses media elektronik seperti, internet, surat kabar dan televisi, atau dengan alasan klasik yakni masalah ekonomi.
Menyikapi perkembangan tersebut setidaknya ada tiga kelompok guru dalam menyikapinya, seperti tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri. Kelompok pertama yaitu, tidak peduli. Seorang guru yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan sering kali beranggapan bahwa posisinya tidak akan pernah tergantikan, dimana siswa sangat bergantung kepada pengalaman/ ilmu yang dimiliki guru tersebut. Dalam perkembangannya, teknologi yang secanggih apapun takkan mampu menggantikan manusia, dalam hal ini guru tetap sebagai yang harus ditiru. Meskipun media memang tidak dapat menggantikan peranan guru, namun tidak berarti seorang guru tidak peduli terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi. Guru harus peduli.
Kelompok kedua yakni yang menunggu petunjuk. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan di sekolah, karena kebijakan sistem pendidikan yang beranggapan bahwa guru merupakan tukang yang melaksanakan kurikulum yang rinci dan kaku, lengkap dengan berbagai petunjuk teknis pelaksanaannya, sehingga tidak boleh menyimpang dari prosedur yang telah ditetapkanya. Program semester, AMP, Satuan pembelajaran, RPP, dan sebagainya telah dimuat sedemikian rincinya tanpa memperhatikan/ peduli terhadap kondisi sekolah yang berbeda-beda.
Kelompok yang ketiga, guru yang cepat menyesuaikan diri. Guru dituntut untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi murid, bukan sekedera pengetahuan namun  hendaknya mampu berpikir kognitif, afektif, dan psikomotor, maka dari itu guru harus cepat menyesuaikan diri. Guru bukan lagi sebagai orang yang paling tahu di kelas, namun sebagai fasilitator, karena guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai.
Mengapa Media Pembelajaran itu Perlu ?
Terkadang seorang guru pasti akan kesulitan menjelaskan suatu hal, misalnya menjelaskan tentang kereta api, namun didaerahnya tidak ada kereta api. Ada beberapa cara yang biasanya dilakukan oleh guru, diantaranya, bercerita sesuai dengan pengalaman langsung maupun tidak langsung, yang pastinya dengan cara bercerita yang menarik, namun tidak semua orang pandai bercerita. Selain itu cara ini juga menghabiskan waktu yang lama dan bisa menyebabkan kesalahan persepsi siswa.
Cara yang kedua, guru membawa siswa ke stasiun kereta. Cara ini memang efektif, namun perlu pengkondisian, baik itu dari segi  biaya maupun waktu. Tidak semua murid dapat  mengalami karena berbagai keterbatasan (jarak, tempat dan biaya). Cara ketiga yakni membawa gambar, lukisan atau video/ film tentang kereta api. Cara ini merupakan cara yang sangat efektif, karena dapat membantu guru dalam menjelaskan, sehingga tidak buang waktu, mudah di pahami siswa, informasi yang diberikan konsisten, dan menarik. Media belajar itu diperlukan oleh guru agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien,
Mengapa Guru Tidak Menggunakan Media Pembelajaran ?
Sekurang-kurangnya ada tujuh alasan penyebab guru tidak menggunakan media pembelajaran, hal ini berdasarkan pada pengalaman, pengamatan dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, diantaranya :
Pertama, menggunakan media itu repot karena perlu persiapan. Padahal dengan media justru memudahkan mereka dalam mengajar dan hasilnya juga lebih efektif dan maksimal serta media pembelajaran juga bisa digunakan berkali-kali. Kedua, media itu canggih dan mahal. Namun tidak semua media harus canggih dan mahal yang penting dapat membantu dalam proses pembelajaran pada efektifitas dan efesiensi. Guru harus lebih kreatif menciptakan media yang murah dan mudah dijangkau. Ketiga, tidak bisa. Beberapa guru yang takut menggunakan elektronik dengan dalih takut rusak, kesetrum atau tidak tahu cara memakainya dan sebagainya. Demam elektronik semacam ini menyebabkan beberapa media elektronik di sekolah tidak digunakan oleh guru. Padahal hanya dengan sedikit belajar dan pembiasaan guru akan terbiasa menggunakannya.
            Keempat, media itu hiburan yang bisa membuat siswa main-main dan tidak serius dalam belajar. Belajar harus serius, ini merupakan anggapan orang terdahulu yang sudah jarang ditemukan sekarang ini, namun tetap saja ini harus menjadi salah satu sorotan. Paradigma belajar tersebut sudah berubah seiring berjalannya waktu, kalau bisa belajar dengan menyenangkan, mengapa dengan menderita?. Kalau dapat dilakukan dengan mudah, mengapa dipersulit?. Kelima, tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah, meskipun tidak masuk akal, namun dalam hal ini guru harus dituntut untuk kreatif dan inovasif untuk menciptakan media pembelajaran. Keenam, kebiasaan menikmati ceramah/ bicara karena menurutnya cara ini yang paling enak dan menyenangkan dan mudah karena tidak butuh persiapan yang banyak. Meskipun menyenangkan bagi guru, hal ini sangat tidak menyenangkan bagi siswa, padahal yang harus dipentingkan adalah siswa, bukan kepuasan guru. Ketujuh, kurangnya penghargaan dari atasan, hal ini banyak ditemui dan memang merupakan beberapa alasan seorang guru malas menggunakan media pembelajaran. Meskipun demikian keikhlasan seorang guru untuk mengajar juga diuji dengan hal ini, namun atasan juga harus memberikan sedikit penghargaan, meskipun dalam bentuk materi, tapi setidaknya dapat memberi semangat guru untuk mengajar dengan cara yang menyenangkan.
Apa Pertimbangan dalam Memilih Media Pembelajaran?
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan namun selalu kurang memuaskan, maka dapat diketahui bahwa pada hakikatnya bukan media itu sendiri yang menentukan keberhasilan belajar,namun bergantung pada isi pesan, cara menjelaskan pesan dan karakteristik penerima pesan. Adapun sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat, antara lain : (1) Access, dalam memilih media yang kemudahan aksesnya merupakan hal pertama yang harus diperhatikan, misalnya internet, apakah siswa dapat menggunakan internet disekolah tersebut, bukan hanya kepala sekolah atau gurunya saja. (2) Cost,  Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan, media tidak menuntut sesuatu yang canggih/ mahal, yang penting dapat membantu dalam proses belajar. (3) Technology, Menggunakan media teknologi memang menarik, namun kita harus memperhatikan kemudahan dalam menggunakannya, ketersediaan teknisi dan yang paling penting apakah ada aliran listrik. (4) Interactivity,  media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah. (5) Organization, pentingnya dukungan organisasi, yakni apakah kepala sekolah/ yayasan mendukungnya atau tidak. (6) Novelty, Kebaruan media juga harus dipertimbangkan, karena biasanya yang lebih baru juga lebih canggih dan tentunya lebih menarik bagi murid.
            Dari pertimbangan yang telah diuraikan, yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang murah dan mudag, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dilingkungan sekitarnya serta memunculkan ide dan kreativitas yang dimilikinya. Jadi jika masih ada guru yang belum menggunakan media pembelajaran, itu hanya perlu satu hal, yakni “Perubahan sikap”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar