Judul Jurnal : Pendayagunaan Media Pembelajaran
(Jurnal Pendidikan Penabur-No.04/Th.IV/Juli
2005)
Penulis :
Thomas Wibowo Agung Sutjiono
Di resume oleh :
Nining Amalia
Pendayagunaan Media Pembelajaran
Guru dan Media
Di
era super kompleks ini, dimana perkembangan IPTEKS menjadi salah satu penunjang
kemajuan suatu bangsa/ institusi tertentu, sebut saja salah satunya adalah
dalam dunia pendidikan. Sistem pendidikan disekolah menuntut adanya perubahan
sikap guru dalam proses pembelajaran, karena sejak dulu banyak yang mengartikan
bahwa guru merupakan orang yang paling tahu. Guru adalah tempatnya pengetahuan
yang senantiasa disalurkan kepada peserta didik, dalam artian guru lebih tahu
dari pada siswa. Namun, sekarang terkadang murid tahu lebih banyak dari pada
guru, hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi yang memudahkan siswa
mengakses informasi/ pengetahuan lebih cepat. Sehingga, guru bukan lagi salah
satu sumber belajar. Sedangkan guru sering kali tidak punya waktu untuk
mengakses media elektronik seperti, internet, surat kabar dan televisi, atau
dengan alasan klasik yakni masalah ekonomi.
Menyikapi
perkembangan tersebut setidaknya ada tiga kelompok guru dalam menyikapinya,
seperti tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri. Kelompok
pertama yaitu, tidak peduli. Seorang guru yang memiliki kepercayaan diri yang
tinggi dan sering kali beranggapan bahwa posisinya tidak akan pernah
tergantikan, dimana siswa sangat bergantung kepada pengalaman/ ilmu yang
dimiliki guru tersebut. Dalam perkembangannya, teknologi yang secanggih apapun
takkan mampu menggantikan manusia, dalam hal ini guru tetap sebagai yang harus
ditiru. Meskipun media memang tidak dapat menggantikan peranan guru, namun
tidak berarti seorang guru tidak peduli terhadap perkembangan pengetahuan dan
teknologi. Guru harus peduli.
Kelompok
kedua yakni yang menunggu petunjuk. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling
banyak ditemukan di sekolah, karena kebijakan sistem pendidikan yang
beranggapan bahwa guru merupakan tukang yang melaksanakan kurikulum yang rinci
dan kaku, lengkap dengan berbagai petunjuk teknis pelaksanaannya, sehingga
tidak boleh menyimpang dari prosedur yang telah ditetapkanya. Program semester,
AMP, Satuan pembelajaran, RPP, dan sebagainya telah dimuat sedemikian rincinya
tanpa memperhatikan/ peduli terhadap kondisi sekolah yang berbeda-beda.
Kelompok
yang ketiga, guru yang cepat menyesuaikan diri. Guru dituntut untuk
mengembangkan kemampuan dan kompetensi murid, bukan sekedera pengetahuan
namun hendaknya mampu berpikir kognitif,
afektif, dan psikomotor, maka dari itu guru harus cepat menyesuaikan diri. Guru
bukan lagi sebagai orang yang paling tahu di kelas, namun sebagai fasilitator,
karena guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai.
Mengapa Media
Pembelajaran itu Perlu ?
Terkadang
seorang guru pasti akan kesulitan menjelaskan suatu hal, misalnya menjelaskan
tentang kereta api, namun didaerahnya tidak ada kereta api. Ada beberapa cara
yang biasanya dilakukan oleh guru, diantaranya, bercerita sesuai dengan
pengalaman langsung maupun tidak langsung, yang pastinya dengan cara bercerita
yang menarik, namun tidak semua orang pandai bercerita. Selain itu cara ini
juga menghabiskan waktu yang lama dan bisa menyebabkan kesalahan persepsi
siswa.
Cara
yang kedua, guru membawa siswa ke stasiun kereta. Cara ini memang efektif,
namun perlu pengkondisian, baik itu dari segi
biaya maupun waktu. Tidak semua murid dapat mengalami karena berbagai keterbatasan
(jarak, tempat dan biaya). Cara ketiga yakni membawa gambar, lukisan atau
video/ film tentang kereta api. Cara ini merupakan cara yang sangat efektif,
karena dapat membantu guru dalam menjelaskan, sehingga tidak buang waktu, mudah
di pahami siswa, informasi yang diberikan konsisten, dan menarik. Media belajar
itu diperlukan oleh guru agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien,
Mengapa Guru Tidak
Menggunakan Media Pembelajaran ?
Sekurang-kurangnya
ada tujuh alasan penyebab guru tidak menggunakan media pembelajaran, hal ini
berdasarkan pada pengalaman, pengamatan dan diskusi dalam berbagai kesempatan
dengan para guru, diantaranya :
Pertama,
menggunakan media itu repot karena perlu persiapan. Padahal dengan media justru
memudahkan mereka dalam mengajar dan hasilnya juga lebih efektif dan maksimal
serta media pembelajaran juga bisa digunakan berkali-kali. Kedua, media itu
canggih dan mahal. Namun tidak semua media harus canggih dan mahal yang penting
dapat membantu dalam proses pembelajaran pada efektifitas dan efesiensi. Guru
harus lebih kreatif menciptakan media yang murah dan mudah dijangkau. Ketiga,
tidak bisa. Beberapa guru yang takut menggunakan elektronik dengan dalih takut
rusak, kesetrum atau tidak tahu cara memakainya dan sebagainya. Demam
elektronik semacam ini menyebabkan beberapa media elektronik di sekolah tidak
digunakan oleh guru. Padahal hanya dengan sedikit belajar dan pembiasaan guru
akan terbiasa menggunakannya.
Keempat, media itu hiburan yang bisa
membuat siswa main-main dan tidak serius dalam belajar. Belajar harus serius,
ini merupakan anggapan orang terdahulu yang sudah jarang ditemukan sekarang
ini, namun tetap saja ini harus menjadi salah satu sorotan. Paradigma belajar
tersebut sudah berubah seiring berjalannya waktu, kalau bisa belajar dengan menyenangkan,
mengapa dengan menderita?. Kalau dapat dilakukan dengan mudah, mengapa
dipersulit?. Kelima, tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah, meskipun
tidak masuk akal, namun dalam hal ini guru harus dituntut untuk kreatif dan
inovasif untuk menciptakan media pembelajaran. Keenam, kebiasaan menikmati
ceramah/ bicara karena menurutnya cara ini yang paling enak dan menyenangkan
dan mudah karena tidak butuh persiapan yang banyak. Meskipun menyenangkan bagi
guru, hal ini sangat tidak menyenangkan bagi siswa, padahal yang harus
dipentingkan adalah siswa, bukan kepuasan guru. Ketujuh, kurangnya penghargaan
dari atasan, hal ini banyak ditemui dan memang merupakan beberapa alasan
seorang guru malas menggunakan media pembelajaran. Meskipun demikian keikhlasan
seorang guru untuk mengajar juga diuji dengan hal ini, namun atasan juga harus
memberikan sedikit penghargaan, meskipun dalam bentuk materi, tapi setidaknya
dapat memberi semangat guru untuk mengajar dengan cara yang menyenangkan.
Apa Pertimbangan dalam Memilih
Media Pembelajaran?
Dari
berbagai penelitian yang telah dilakukan namun selalu kurang memuaskan, maka
dapat diketahui bahwa pada hakikatnya bukan media itu sendiri yang menentukan
keberhasilan belajar,namun bergantung pada isi pesan, cara menjelaskan pesan
dan karakteristik penerima pesan. Adapun sejumlah pertimbangan dalam memilih
media pembelajaran yang tepat, antara lain : (1) Access, dalam memilih media yang kemudahan aksesnya merupakan hal
pertama yang harus diperhatikan, misalnya internet, apakah siswa dapat
menggunakan internet disekolah tersebut, bukan hanya kepala sekolah atau
gurunya saja. (2) Cost, Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan,
media tidak menuntut sesuatu yang canggih/ mahal, yang penting dapat membantu
dalam proses belajar. (3) Technology,
Menggunakan media teknologi memang menarik, namun kita harus memperhatikan
kemudahan dalam menggunakannya, ketersediaan teknisi dan yang paling penting
apakah ada aliran listrik. (4) Interactivity, media yang baik adalah yang dapat memunculkan
komunikasi dua arah. (5) Organization,
pentingnya dukungan organisasi, yakni apakah kepala sekolah/ yayasan
mendukungnya atau tidak. (6) Novelty,
Kebaruan media juga harus dipertimbangkan, karena biasanya yang lebih baru juga
lebih canggih dan tentunya lebih menarik bagi murid.
Dari pertimbangan yang telah
diuraikan, yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau
memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang murah dan mudag, dengan
memanfaatkan sumberdaya yang ada dilingkungan sekitarnya serta memunculkan ide
dan kreativitas yang dimilikinya. Jadi jika masih ada guru yang belum
menggunakan media pembelajaran, itu hanya perlu satu hal, yakni “Perubahan
sikap”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar